Berdalih Atasi Kekeringan, Kembali Minta Anggaran Miliaran

  • Whatsapp

Kabarmadura.id/PAMEKASAN-Banyaknya kritik terhadap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan terkait cara penanganan jangka pendek dalam mengatasi bencana kekeringan, kembali dijawab dengan permintaan anggaran yang nilainya mencapai Rp2,1 miliar.

Pada tahun 2015 lalu, sebenarnya sudah menghabiskan anggaran sekitar Rp5 miliar. Dana itu digunakan untuk membangun sumur bor atau sistem penyediaan air minum (SPAM), dengan dalih untuk mengatasi masalah kekeringan secara jangka panjang.

Namun gagal menyelesaikan masalah kekeringan, bahkan sebagian sumur bor tidak berfungsi. Salah satunya, SPAM di Desa Tampojung Tengah, Kecamatan Waru. Rekanan dalam proyek itu adalah CV. Bintang Kejora dengan nilai penawaran sebesar Rp376,2 juta.

Di tahun 2019 ini, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DKPP) Pamekasan kembali akan menyedot dana besar. Dalihnya, digunakan untuk penanganan masalah kekeringan. Namun hanya untuk pengadaan pipanisasi dan pencarian sumber mata air di dua desa.

Yakni, pipanisasi di Desa Dasok hingga Durbuk, Kecamatan Pademawu dan pipanisasi dari salah satu perumahan di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan.

Anggaran itu sebesar Rp2,1 miliar, dan sudah masuk dalam dana alokasi khusus (DAK) APBD 2019 ini. Untuk Kecamatan Pademawu, dianggarkan Rp900 juta, sedangkan Tlanakan sebesar Rp1,2 miliar.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Pamekasan Muharram, Rabu (26/6) membenarkan, program tersebut merupakan pengembangan pencarian sumber mata air yang difokuskan di dua lokasi.

Tujuannya untuk mengatasi minimnya air bersih pada saat musim kemarau. Saat ini program pipanisasi sudah masuk tahapan lelang dan akan ditentukan pemenangnya pada Juli mendatang.

“Kami fokuskan di dua lokasi (Kecamatan Pademawu dan Tlanakan red) karena terdapat desa di dua lokasi itu sering mengalami krisis air pada saat musim kemarau tiba,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Komisi I DPRD Pamekasan, Ismail menilai, eksekutif lemah inovasi dalam mengatasi bencana alam berupa krisis air bersih pada saat musim kemarau. Yang dilakukan hanya mampu memberikan bantuan berupa droping air bersih ke sejumlah wilayah terdampak. Bahkan, kebiasaan itu terus dilakukan setiap tahun.

Menurutnya, solusi itu tidak menyelesaikan masala. Terlebih, bencana kekeringan di Pamekasan mudah diprediksi, yakni hanya di musim kemarau. (ito/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *