Berdalih Jarak, Manfaat RPH di Sampang Terabaikan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FATHOR RAHMAN) SEPI : Kondisi rumah potong hewan (RPH) tanpa aktivitas jelang Idul Fitri di Jalan Trunojoyo Kelurahan Banyuanyar Sampang

KABARMADURA.ID, SAMPANG – Kelayakan daging sapi di Kabupaten Sampang saat Hari Idul Fitri masih meragukan. Salah satu indikasinya, sejumlah rumah potong hewan (RPH) banyak yang tidak difungsikan.

Data yang dihimpun Kabar Madura, terdapat lima RPH tidak berfungsi. Masing-masing, RPH daerah kota, Kecamatan Tambelangan, Omben, Torjun dan Ketapang. Selama ini, banyak pedagang menyembelih hewan di rumah pedagang.

Bacaan Lainnya

Rukmini (42) salah satu pedagang mengakui, jika selama ini banyak pedagang daging sapi menyembelih di tempat pemotongan hewan (TPH) di rumah pedagang. Sebab, lokasi RPH sulit terjangkau. Sehingga, pedagang memilih menyembelih di TPH.

“Tempatnya sulit terjangkau. Selain akses sulit juga jaraknya jauh. Yang pasti pertimbangan transportasi menjadi pertimbangan,” katanya, Kamis (6/5/2021).

Dia mengungkapkan, jika pasar hewan dengan RPH tidak dekat. Tidak hanya berpengaruh ke biaya tapi juga soal waktu. Semakin jauh, maka waktu yang diperlukan semakin lama. Sehingga diharapkan ada pertimbangan khusus bagi pemerintah.

Selain itu, dia juga memaparkan di RPH dan TPH tidak jauh berbeda. Apalagi di RPH pelayanannya tidak terlalu maksimal. Sebab, antrian banyak dan tidak profesional. Siapa yang lebih dekat dengan petugas didahulukan.

Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Sampang Agus Husnul Yaqin meminta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertan dan KP) Sampang lebih jeli. Menurutnya,  pengawasan kelayakan daging sapi wajib dilakukan. Di samping itu, kondisi pedagang juga harus dipertimbabgkan.

“Saya melihat hal ini efek pengelolaan RPH yang kurang maksimal. Selama RPH profesional pedagang pasti tetap ke RPH. Dinas yang harus tegas dan komitmen meningkatkan pelayanan di RPH,” responnya.

Pihaknya berharap manajemen di RPH ditingkatkan. Mulai dari profesionalisme petugas, pengaturan waktu dan fasilitas yang baik. Sehingga tidak ada alasan dari pedagang untuk tidak datang ke RPH. Sebab, menjadi kewajiban daging konsumsi dikroscek kelayakannya.

“Dispertan dan KP bertindak cepat soal pengawasan daging sapi. Dari TPH pun harus diawasi. Karena ini menyangkut orang banyak,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Dispertan dan KP Sampang Suyono tidak mengelak jika banyak RPH yang tidak produktif pemanfaatannya. Alasannya, karena minat masyarakat rendah. Namun pihaknya memastikan kelayakan daging sapi tetap diawasi.

“Mereka sebenarnya tidak mau mengantri. Sementara penyembelihan sapi tidak cepat. Namun kami tetap melakukan pengawasan dengan mendatangi TPH yang ada di Sampang. Petugas kami kerahkan jemput bola ke TPH yang ada di data kami,” pungkasnya. (man/ito)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *