Berharap Keselamatan dan Kesehatan dari Wabah, Setiap Malam Warga Keliling Desa Membaca Salawat

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) BERBARIS: Masyarakat saat membawa obor dan berkeliling Desa Pendabah, Kecamatan Kamal, Bangkalan.

KABARMADURA.ID – AMembaca salawat tentu biasa dilakukan oleh masyarakat, meski dalam berbagai kesempatan, esensinya mendapatkan barokah dari Nabi Muhammad SAW. Bahkan, prosesi pembacaan dilakukan dalam berbagai perayaan desa.

Tetapi, setelah beberapa bulan menghadapi pandemi yang kian mencekam, masyarakat melakukan berbagai upaya, baik dengan tujuan meredakan ketakutan masyarakat, juga untuk melindungi diri dari wabah menakutkan tersebut.

Bacaan Lainnya

HELMI YAHYA, BANGKALAN

Kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan pandemi yang sebelumnya minim, perlahan mulai memahami. Setelah banyak dari kerabat dekatnya juga merasakan terpapar Covid-19 dan akhirnya berujung maut.

Bahkan, dalam beberapa pekan terakhir, jumlah kematian di setiap desa cenderung tinggi. Sedangkan penyebab kematian hampir tidak diketahui dan tidak memiliki riwayat penyakit kronis sebelumnya.

Sehingga dari ketakutan itu, masyarakat akhirnya kembali menggelar salawat burdah. Sebelumnya kegiatan itu sudah dilakukan saat pertama kali pandemi masuk. Pembacaan salawat burdah dilakukan oleh masyarakat dengan berkeliling desa. Dengan harapan bisa mendapatkan keberkahan, keselamatan dan kesehatan.

Salah satu tokoh agama masyarakat Desa Pendabah, Kecamatan Socah, Bangkalan Munaki menyampaikan, kondisi desa dalam beberapa pekan terakhir memang meresahkan. Ada sekitar 50 lebih warga yang meninggal dunia dalam kurun waktu yang singkat.

“Banyak yang meninggal, bahkan tanpa sakit sebelumnya,” katanya.

Banyaknya jumlah kematian itu juga menyentuh rasa khawatir warga. Sehingga banyak yang kemudian mengusulkan untuk kembali melakukan Burdah keliling desa. “Warga juga takut, takut kematian itu disebabkan oleh pandemi,” tambah Munaki.

Saat awal pandemi Covid-19 tahun 2020 lalu, warga juga mengadakan burdah keliling lantaran berharap pandemi segera sirna dan pergi. Sehingga setelah beberapa bulan dilakukan, pandemi mulai mereda.

“Kami pun sempat menghentikan burdah ini, karena kami kira bumi sudah normal kembali,” ceritanya.

Masyarakat percaya bahwa wabah itu hadir karena masyarakat tidak patuh beribadah kepada Yang Maha Kuasa dan lupa mengirim salawat untuk nabinya. Sehingga kemudian diberikan ujian berat dengan menghadirkan virus mematikan itu di dunia.

Munaki dan warga Bangkalan berharap barokah dari salawat ini, sehingga permintaannya bisa dikabulkan.

Kepala Desa Pendabah Syaiful Dullah juga membenarkan dan mendukung upaya yang dilakukan oleh warga. Sebab, itu juga menjadi langkah ikhtiar dan langkah agar pandemi segera pergi.

“kepercayan masyarakat ini sudah melekat, jadi tidak mungkin saya melarang mereka,” papar Syaiful.

Syaiful juga meyakini bahwa tidak hanya warganya yang melakukan burdah keliling, sebab di desa lainnya juga sama. Mereka juga punya cara dan kepercayaannya masing-masing.

“Saya pun berharap cara ini bisa membuat masyarakat tenang dan kemudian bisa saling menjaga satu sama lain,” ucapnya. (hel/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *