Berjuang Mengais Rezeki di Tengah Wabah Covid-19

  • Whatsapp
(FOTO: KM/KHOYRUL UMAM SYARIF) TERDAMPAK: Ibu Fais salah seorang pedagang ayam potong di Pasar 17 Agustus Pamekasan.

Kabarmadura.id/Pamekasan-Covid-19 sudah melumpuhkan laju perekonomian masyarakat di penjuru dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Tidak sedikit pelaku usaha, baik yang bersakala kecil hingga berskala besar mengalami penurunan omset. Seperti halnya yang dirasakan oleh Ibu Fais, pedagang ayam potong di Pasar 17 Agustus Pamekasan yang mengalami penurunan omset hingga 60 persen.

Khoyrul Umam Syarif, Pamekasan.

Bacaan Lainnya

Bulan ramadan tidak hanya menjadi bulan penuh ampunan. Bagi pedagang kebutuhan pangan seperti ibu Fais, bulan ramadan menjadi bulan penuh berkah karena omset penjualan naik drastis. Namun hal itu tidak lagi dirasakan di masa wabah Covid-19 ini.

Wabah yang menjangkiti jutaan orang itu, membuat dagangannya sepi peminat. Bukan karena harga ayam potong yang mahal, akan tetapi, pembatasan sosial berskala besar (PSBB), penerapan physical distancing, serta anjuran untuk membatasi kegiatan di luar rumah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19, menjadi penyebab anjloknya omset dagangannya.

Kepada Kabar Madura, sosok ibu dari 2 anak yang berasal dari Dusun Sumber Papan, Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan itu, selama wabah Covid-19 terjadi, jualan dagangannya turun drastis dalam setiap harinya. Jika sebelum adanya Covid-19 dirinya bisa menjual sebanyak 50 ekor ayam potong dengan hasil rata-rata Rp150 ribu setiap harinya, namun saat ini dirinya mengaku sangat sulit untuk menjual sebanyak 30 hingga 50 potong setiap harinya.

“Saat ini jualan sangat sepi, biasanya saya bisa jual 50 potong tiap hari, kini hanya bisa jual 20 potong, padahal ini bulan puasa,” ungkapnya, Senin (18/5/2020).

Padahal tutur perempuan paruh baya itu, berjualan ayam potong merupakan satu-satunya cara untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Ironisnya, di saat dagangannya sepi, saat ini pekerjaan suaminya sebagai sopir angkutan umum juga dibatasi akibat Covid-19, sehingga penghasilannya pun tidak menentu.

Kendati demikian, dirinya mengaku tidak pernah menerima bantuan sosial (bansos) apapun yang diporgramkan pemerintah untuk penanganan warga terdampak Covid-19.

“Saya tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah,” paparnya sambil melayani para pembeli.

Kendati demikian, baginya tidak menerima bantuan bukan akhir dari kehidupannya. Dirinya pantang bergantung pada pemberian bantuan pemerintah. Terpenting baginya, usaha yang menjadi tumpuan utama untuk memenuhi kebutuhan hidup tetap berjalan dan bisa kembali seperti semula sebelum Covid-19 melanda.

“Semoga dagangan saya bisa ramai seperti sebelumbya, normal dan bisa untung besar. Semog wabah Covid-19 ini cepat berlalu,” harapnya. (pin)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *