Berkah Semangat Tinggi dan Dukungan Orang Tua

  • Whatsapp

Mempunyai prestasi di tingkat Internasional tidak mudah. Apalagi, di usia yang terhitung belia. Namun, Nada Nadhifah berbeda. Di usianya yang masih delapan tahun, ia telah meraih prestasi gemilang di kancah internasional.

Moh Tamimi, Bluto.

Nada Nadhifah, akrab dipanggil Nada, lahir di Sumenep, 14 Mei 2011, dari pasangan Zaibulllah dan Nur Halima. Ia terlahir dari keluarga sederhana. Orang tuanya pedagang, mempunyai sebuah toko di Pasar Kapedi, Bluto.

Ia juga tidak terlahir dari keluarga atlet. Akan tetapi, ia mempunyai kemampuan memukau di bidang karate. Terbukti, dalam ajang Internasional Open Championship di Surabaya pada tanggal 26-28 Juli 2019, ia muncul sebagai juara satu karate kategori usia dini putri.

Zaibullah menuturkan, kecintaan Nada ke karate berawal dari kegiatan ekstra kurikuler di sekolahnya, yakni SDN Kapedi I Bluto Sumenep. Nada sempat tidak direstui oleh orang tuanya untuk mengikuti karate, namun melihat semangatnya yang berkobar, orang tuanya akhirnya takluk.

“Bahkan, tahu-tahu dia sudah daftar sendiri ke pelatihnya dan pulang membawa seragam,” ungkap ayahnya saat ditemui di kediamannya, Desa Kapedi, Kecamatan Bluto, Minggu (4/8).

Lebih lanjut, Zaibullah menceritakan, tidak jarang Nada berlatih sampai larut malam. Hari-harinya dipenuhi dengan belajar dan berlatih. Dari pagi sampai siang ia bersekolah, sepulang sekolah istirahat sejenak, lalu pukul 14.00 WIB berangkat sekolah diniyah sampai pukul 16.00 WIB. Waktu maghrib sampai isya’ belajar membaca Alquran di langgar, sepulang dari langgar ia ikut les privat sampai pukul 21.00 WIB. Sepulang dari les, Nada masih latihan karate di depan toko orang tuanya sampai larut, biasanya pukul 22. 00 WIB baru istirahat.

Kepala Sekolah SDN Kapedi I Musthafa mengungkapkan, di sekolah, Nada adalah sosok pendiam, namun tetap aktif ketika dalam kelas. Selain itu, murid kelas III SD itu juga merupakan salah seorang siswa yang mempunyai prestasi akademik bagus.

“Kami akan memberikan penghargaan berupa satu set peralatan karate kepadanya, sudah saya pesankan,” ungkapnya, Minggu (4/8).

Sebelumnya, Musftafa merasa tidak percaya dengan prestasi anak didiknya itu, sampai-sampai saat melihat foto Nada naik podium, ia membesarkan foto Nada di androidnya secara berulang-ulang untuk memastikan bahwa ia adalah Nada Nadhifah, muridnya.

Hal sama juga disampaikan oleh pelatih Nada, Halim Perdana Kusuma, saat mendampinginya ke Surabaya. Saat awal berlaga, ada beberapa gerakan karate Nada yang kurang bagus, kendor, sehingga membuatnya pesimis. Untungnya lawan Nada saat itu didiskualifikasi karena suatu kesalahan.

“Tetapi orangnya memang beda dari yang lain,” tambahnya, Minggu (4/8).

Menurut para pelatih Nada, Junaidi Shalat, Agus Kurniawan, Halim Perdana Kusuma, dan Beni Amin Indrayanto, Nada mempunyai kuda-kuda, power, dan kecepatan yang bagus dan perlu diperhitungkan. Hal ini ditambah lagi semangatnya yang tinggi sekaligus dukungan orang tuanya yang bagus.

“Ya kalau anaknya tidak semangat, pelatihnya hanya teriak-teriak saja,” ujar Agus, Minggu (4/8).

Agus berharap, Nada tidak merasa puas dengan prestasi yang diraihnya saat ini karena perjalanan masih panjang. Hal itu sudah disampaikan Agus kepada orang tuanya, gurunya, dan para pelatihnya yang lain supaya bisa bahu-membahu terus mendukung prestasi Nada untuk masa yang akan datang. (mad/pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *