Berkali-kali Mati, Bupati Pamekasan Akan Hidupkan Kembali BUMD PT AUMM

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ALI WAFA) BEKAS KANTOR:  PT. AUMM yang pernah berkantor di Jalan Jokotole, Pamekasan itu bakal dihidupkan kembali oleh bupati Pamekasan.

KABARMADURA.ID | PAMEKASANPemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan berencana menghidupkan kembali PT. Aneka Usaha Mekasan Makmur (AUMM). Pada tahun 2018 lalu, perusahaan itu dibekukan karena selalu merugi.

Menurut Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Pamekasan Sri Puja Astutik, hal itu merupakan petunjuk bupati Pamekasan.

Namun demikian, Sri menyebut, rencana itu masih dalam tahap kajian. Sebab, sebelum menghidupkan PT. AUMM, perlu merevisi Peraturan Daerah (Perda) Pamekasan Nomor 54 Tahun 2017 Tentang Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Sebab, perda yang lama sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini.

Melalui perda tersebut, akan diatur terkait penyertaan modal baru untuk PT. AUMM. Tujuan dihidupkannya PT. AUMM, untuk meningkatkan perekonomian di Pamekasan, terutama untuk kemajuan usaha mikro kecil menengah (UMKM). Namun, dalam rencananya, PT. AUMM akan bergerak di bidang usaha yang berbeda dengan sebelumnya.

“Dulu usahanya itu berubah-ubah. Ada servis AC, ada usaha teri, berubah lagi usaha batik. Tapi bukan keuntungan yang didapat, justru merugi,” jelas Sri.

Dalam kajiannya, direncanakan menggelar seleksi terbuka pimpinan PT. AUMM, terdiri dari komisaris dan direktur. Tim seleksi (timsel) dibentuk melalui surat keputusan (SK) bupati Pamekasan. Pendaftar harus memenuhi syarat dan kriteria yang akan ditetapkan lebih lanjut. Namun yang pasti, calon harus memiliki kompetensi dalam manajemen perusahaan.

“Nanti akan dibuka untuk umum. Tidak harus pegawai,” ucapnya.

Sebagai pembina BUMD Pamekasan, Sri mengatakan, untuk mengantisipasi terjadinya hal yang sama pada PT. AUMM di masa mendatang, harus memenuhi dua hal; perencanaan pengembangan perusahaan yang matang dan kompetensi pengelola yang mumpuni. Sebab menurutnya, meruginya PT. AUMM karena perencanaan yang amburadul dan kurang matang.

“Kalau yang dulu karena jenis usaha yang dijalankan tidak familiar di kalangan masyarakat,” pungkas Sri.

Reporter: Ali Wafa

Redaktur: Wawan A. Husna

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *