Berkat WUB, Omset Produksi Sepatu Khas Pamekasan Capai Rp40 Juta

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ALI WAFA) KREATIF: Sepatu batik khas Pamekasan mampu menarik perhatian masyarakat hingga memproduksi 600 pasang selama sebulan setengah.

KABARMADURA.ID | PAMEKASAN-Meski baru dua bulan berdiri, RF Style telah berhasil memproduksi sekitar 600 pasang sepatu batik. Sepatu unik itu mendapat apresiasi dari banyak kalangan, bahkan hingga memperoleh omset sekitar Rp40 juta. Hal ini diakui, Owner RF Style Ahmad Rofiki, Senin (22/11/2021).

Dia mengatakan, awalnya tidak ada rencana memproduksi sepatu batik. Namun, setelah mengikuti pelatihan wirausaha baru (WUB) yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan, muncullah ide sepatu batik. Ide itu muncul, lantaran produsen sepatu di daerah  masih bisa dihitung dengan jari.

Sedangkan batik merupakan budaya khas Pamekasan. Sehingga batik yang dimodifikasi menjadi sepatu, merupakan batik tulis khas daerah. Sepatu batik itu, asli produksi Desa Poto’an Daja Kecamatan Palengaan. “Kemarin ada stand WUB saat MTQ Jatim itu, teman-teman lembur. Sampai 600 pasang laku terjual,” paparnya.

Untuk melancarkan usahanya, dia telah memiliki surat izin usaha. Namun sampai saat ini, sepatu buatannya masih belum memiliki brand atau merk. Rencananya, merk yang akan ditempel pada sepatu batiknya adalah RF Style, hanya saja masih mengurus hak cipta. Pangsa pasarnya pun masih seputar daerah Pamekasan.

Meski peminatnya banyak dari luar Madura, namun pihaknya belum bisa memenuhi. Sebab belum memiliki hak cipta atas brandnya lantaran terkendala izin. Dalam memproduksi sepatu batik tersebut dibantu oleh 6 orang tenaga kerja dengan menggunakan modal pribadi. Bahkan belum menggunakan pinjaman modal yang dijanjikan pemerintah.

“Modal yang digunakan sekitar Rp35 juta. Tapi kami sudah berhasil meraup omset sekitar Rp40 juta,” jelasnya.

Sejauh ini, kendala yang dihadapi dalam hal pengembangan usaha. Sebab kaitannya dengan modal. Bahkan sampai saat ini,  masih menggunakan alat-alat manual, yakni menggunakan tangan dalam memproduksi sepatu. Dia berharap bisa mendapat bantuan alat melalui corporate social responsibility (CSR).

“Pesan kami untuk para pemuda, ketika mengikuti pelatihan WUB harus dijalani dengan tekun dan sungguh-sungguh,” sarannya.

Reporter: Ali Wafa

Redaktur: Totok Iswanto

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *