oleh

Berkunjung ke Asta Joko Tarub di Dusun Pacanan Desa Montok Kecamatan Larangan

Bebas Biaya Masuk, Asta Rindang dan Sejuk

Imam Mahdi KM45-RINDANG: Pengunjung Asta Joko Tarub, Dusun Pacenan Desa Montok Kecamatan Larangan, Pamekasan terlihat mengaji dan istighasah bersama.

Bagi sebagian orang, kisah Joko Tarub mungkin sebatas legenda yang tidak jelas kebenarannya. Meski demikian, Asta Joko Tarub yang terletak di Dusun Pacanan Desa Montok Kecamatan Larangan, Pamekasan (Sebelah Barat Pantai Talang Siring) selalu ramai diziarahi pengunjung. Pengunjung berduyun-duyun untuk ngalap berkah dari tokoh legenda yang konon menikahi bidadari tersebut.  

IMAM MAHDI, LARANGAN

Asta Joko Tarub tidak berada di pinggir jalan raya. Untuk menuju salah satu wisata relegi ini, pengunjung harus berjalan kaki. Namun, capek dan lelah saat berjalan kaki akan terbayar lunas setelah memasuki lokasi asta yang rindang dan sejuk.

Hal itulah yang dialami Salim Warrohman, peziarah asal Sumenep. Pada awalnya, ia merasa capek dan lelah. Namun, setelah berada di lokasi, ia menikmati suasana yang rindang karena dikelilingi oleh pohon bambu. Kondisi ini membuat pengunjung betah berlama-lama di sana.

“Kami harus berjalan kaki. Tidak jauh kok. Jalannya sudah dipaving. Kami kemudian bertemu dengan juru kunci (penjaga asta, red.). Saya  lihat, tak ada rumah warga penduduk yang lain. Di lingkungan itu setidaknya ada dua rumah dan sebuah musala,” ucapnya kepada Kabar Madura, Ahad (10/03).

Untuk masuk ke lokasi asta, pengunjung tidak dipungut biaya. Pihak pengelola hanya menyediakan kotak amal bagi para pengunjung yang ingin menyumbang seikhlasnya. Meskipun tidak ada tarif, banyak juga pengunjung yang bersedekah. Biasanya, sumbangan tersebut dilakukan untuk perwatan kecil-kecilan di sekitar area asta.

Juru Kunci Asta Joko Tarub, Adi Krisno menyampaikan, Asta Joko Tarub sudah ramai pengunjung sejak tahun 70-an. Dulu, pengunjung dari luar Madura biasanya naik perahu dan berlabuh di pelabuhan Talang Siring. Pengunjung dari Luar Madura paling banyak berasal dari Situbondo.  Ia menambahkan, setiap harinya pasti ada pengunjung.

“Yang ramai itu hari Sabtu dan hari Minggu. Aktivitas pengunjung adalah mengaji dan tawassul,” paparnya.

Ada banyak macam tujuan pengunjung datang ke Asta Joko Tarub. Di antaranya adalah untuk mempercepat mencari jodoh maupun keinginan agar doa dan hajatnya bisa terkabul dengan cepat.

Adapun sejarah singkat Joko Tarub sendiri, konon dulu, ada dua orang dari Banten, yang bernama Syekh Maulana Maghribi  dengan anaknya bernama Joko Tarub. Keduanya menyebarkan Islam di Jawa. Dan pada akhirnya Madura ini menjadi peristirahatan terakhir keduanya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pamekasan Achmad Sjaifudin mengatakan, Asta Joko Tarub dikelola pemerintah sebagi bagian dari situs keagamaan.

Kabid kebudayaan Disparbud  Pamekasan, Sony Budiharto mengatakan, Asta Joko Tarub sudah dikelola pemerintah.

“Dari kami hanya membina dan memberi pemahaman. Terkait karcis mengkarcis kita tidak tahu. Kita hanya memberikan pemahaman bagaimana cara merawat situs itu melalui juru kunci yang kita tunjuk,” ujarnya. Juru kunci di Asta Joko Tarub digaji oleh pemerintah Rp650 ribu per bulan sejak tahun 2010. (pai)

Komentar

News Feed