oleh

Berkurban Berbagi Kebaikan

Mendengar mantra-matra berita mulai malas berbisik, ia jenuh dengan pembatalan haji yang mengusik. Termasuk enggan mendengar nada suara radio. Tak ada pelangi yang terlukis kecuali duka dan tangis. Adalah ayahku Pak Iksan laki-laki parubaya sedang menonton televisi mengeja tausiyah tentang insan yang diberi ujian. Ia menggeleng kepala terus mengeja tausiyahnya. Terkadang manggut-manggut entah apa yang di panut.

Matahari mengabarkan nestapa lewat surat kabar dan berbagai media tentang seteru wabah yang berjangkit serempak dimana-mana. Tidak main-main bahkan sampai berbagai belahan dunia termansuk Indonesia dan Mekkah Al-Mukarramah.

Kegiatan ibadah di Mekkah di tutup, hanya orang kepercayaan tuhan yang tetap berlanjut. Menara-menara Masjid hanya bergema tanpa terjamah manusia, hanya ada burung yang terbangun kaget dari tidurnya. Terlihat hanya Takmir Masjid menjadi kepercayaan tuhan yang Maha Esa

Malam-malam sholat sendiri tanpa henti, detaknya sudah tak berarti. sujudnya kian sunyi tanpa kendali. Corona membawa setangkap kepanikan atas wabah yang menghujam terjang bumi yang Tuhan ciptakan teruntuk manusia seisinya, yang selalu alpa dan lancang.

Iksan menyapu pelataran rumah mengubah sebuah rencana yang ia tanam sejak menjadi tukang ojek di jalan. Menabung belasan tahun untuk berhaji dan siap berangkat tahun dua ribu dua puluh. Ada kemesraan berdesir antara dia dan istrinya, Sitti Rowiya. Sembari menguraikan bersama makanan masakan istrinya di sela-sela gerismis yang enggan reda.

Sitti Rowiya adalah perempuan pak Iksan. Kamar sebagai saksi di kala keduanya bersua menjelma benua sebagai penampung air mata pada sela-sela senandung cinta yang kian hanyut dalam pelabuhan do’a. Perempuan yang sabar mengajarkan hasrat Iksan bersimpuh tenangkan kegelisahan. Sungguh perempuan yang indah dalam perangai penyejuk hati.

Bibirnya tak henti bertitah menjelma kasih tempat bersua, antara ayah dan ibuku. Tuhan menurunkan bala. Untuk tahun ini sepertinya berbeda dengan tahun kemarin. Pertemuan tuhan dengan hambanya diberikan pembatasan. Indonesia tak kebagian untuk bertemu dengan tuhan. Sehingga terjadi pembatalan keberangkatan jamaah Haji. Kunci penerang kegelapan akan selalu ada bagi mereka pemeluk teguh keyakinan yang tersusun syair-syair kalam perdamaian.

Ini bukan prihal wabah yang menjelma menjadi ketakutan. Namun, prihal bala hikmah yang tersirat yang tuhan simpan setelah wabah mereda.

Iksan laki-laki yang menunggui penumpang yang kian pelit untuk duduk di belakang sepeda motornya. Matahari yang menyengat membakar kulit sampai hitam kepalang. Pun berteman hujan yang mengguyur tubuhnya serta menyiram tandus gersang kehidupan hatinya yang menyayat-nyayat. Rupiah demi rupiah ia kesampingkan untuk sekedar menyisihkan ke rumah keagungan tuhan.

Kail harapan terpaut. Kata-kata serupa sabda lembut sang istri menyiram dahaga jiwa Iksan. Ia tak mau berlarut-larut. Tuhan turunkan seribu hikmah yang melebur bagai bintang-bintang. Kini anak-anaknya yang berada di tanah perantaun bisa berkumpul kembali menikmati nasi goreng hangat kerinduan di meja makan bundar.

Sembari berdongeng bersama aroma hangat kekeluargaan. Menceritakan sempat terisolasi dan tertahan. Di rumahnya tak lagi berdua. Uvoria covid-19 sudah terbayang, tidak sama seperti hari-hari biasa yang dirundung kesepian.

Pagi ini duduk sama-sama mendapati berita di ruang tamu sederhana. Ada seorang pemulung yang tersiar di televisi. Ia tinggal di sudut kampung yang murung. Seorang pemulung itu sedang mencari berkah. Matanya berbinar tatkala mendapati sebongkah sampah. Baginya sampah adalah berkah. Harta yang melimpah ruah dari tuhan yang diberikan untuknya di pembuangan sampah.

Ia mulai membuka karung memasukkan segala sampah yang menjadi incaran juragan pengepul sampah. Hal demikian masih biasa dilihat oleh kami.

Alangkah terperaganya kami tatkala seorang pemungut sampah tersebut menunjukkan hasil uang yang ia sisihkan sertiap harinya. Ribuan uang logam, uang kertas pecahan dua ribuan, lima ribuan, sepuluh ribuan, dua puluh ribuan, dan sedikituang lima puluh ribuan. Semua jumlahnya tak kalah fantastis.

Bagi kami uang itu sangat bisa untuk merenovasi tempat tinggalnya yang kian kumuh. Namun, tidak dengan si pemulung, senyum langit serasa menebar berkah dari seorang hamba yang bertengadah. Cahaya matahari serasa tak menyilaukan selayak hamba-hamba beriman tatkala bibir dekilnya berucap “Uang ini akan kami beli sapi kurban”.

Bulu kuduk penonton pastilah menyeringai. Seorang yang berkekurangan memiliki hati mulia untuk menjalankan sunnah yang sangat di cintai tuhan. Mata kami saling betatap dan berkaca-kaca.

Bibir dekilnya beralasan “kami ingin dekat dengan tuhan melalui satu ekor sapi yang akan kami beli nanti”.

Ia melanjutkan “Mungkin kata orang ramai, karena adanya virus yang sedang mewabah ini tuhan sedang memalingkan muka. Tapi bagi kami tidak. Ini hanya bala hikmah yang tuhan masih simpan untuk kita semua di muka bumi ini. Bayangkan saja apabila di padang Mahsyar tempat kita berkumpul di akhirat ketika tuhan memalingkan wajahnya sungguh Na’udzubillah himindzalik. Kita bisa apa mau kamana ?, dengan segunung dosa yang tidak bisa dipikul”. Ujar seorang pemulung di televsi.

Sungguh pernyataan yang menyayat-nyayat hati pendengarnya. Pernyataan yang harus dijadikan sebagai suri tauladan dan jalan tujuan. Membawa setangkap harapan atas wabah yang menghujam.

Ibu kami padamkan televisi dalam romansa keharmonisan untuk beranjak melaksanakan sholat Duha. Mengisyaratkan untuk menyampaikan seribu puisi untuk Tuhan dengan pengharapan ampunan pada kesaksian malaikat yang berhamburan membagikan rizki di pagi ini.

Ibu : “yah uang saku berhaji dari berian keluarga terdekat kita berapa jumlahnya ?
Ayah : “Cukup buk untuk membeli dua ekor kambing

Ibu : “kita tabung lagi dulu yah supaya bisa beli sapi yang gemuk dan besar, aku bantu ayah jualan kue

Ayah : “Baik buk ayah akan lebih giat lagi kerjanya

Ibuku mengarahkan pandanganya kepadaku Ibu : “Malihatun Nikmah harus lebih giat lagi nulisnya, supaya karyanya segera dimuat di surat kabar dan bisa dapat honor biar bisa bantu ayah dan ibu beli sapi kurban” ucapa ibu sambil mengepal tangan sebagai tanda memberi semangat kepadaku. Aku mengagguk sembari tersenyum.

Biodata Penulis

Nama : Malihatun Nikmah

Tanggal lahir : Sumenep, 29 Desember 1996.

Akun media sosial: IG;@malihatun_nikmah99 dan e-mail; nikhmahh@gmail.com

Telah menyelesaikan Pendidikan Sarjana di IAIN Madura pada April 2020 Jurusan Tarbiyah, Prodi Tadris Bahasa Indonesia. Penulis menulis puisi, cerpen, opini dan reportase.

Alamat : Kab. Sumenep ( Madura ), Kec. Ganding, Desa Ketawang Parebaan.

Karya tulis pernah dimuat di surat kabar Harian Surya dan Kabar Madura.

 

 

 

Komentar

News Feed