Berlanjut, Aktivis HMI Laporkan Warek III UTM ke Kepolisian

  • Whatsapp
BERLANJUT: Sejumlah aktivis HMI melaporkan pernyataan Wakil Rektor III UTM ke Mapolres Bangkalan.

Kabarmadura.id/Bangkalan-Buntut pernyataan Wakil Rektor (Warek) III Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Agung Ali Fahmi, yang dinilai melecehkan organisasi ekstra kampus (ormek) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), masih berlanjut.

Meski sudah menyampaikan permohonan maaf kepada ratusan aktivis HMI saat didemo pada Senin (16/9) lalu, namun hal itu tak lantas membuat tudingan perilaku rasisme yang diperbuat pria yang kerab disapa Agung  itu selsai. Pasalnya, para aktivis HMI tetap melanjutkan perkara itu hingga ke ranah hukum.

“Saya yang laporkan dan Agung yang dilaporkan tentang perkara ujaran kebencian,” kata Dewan Penasehat KAHMI Bangkalan Aditya Roosvianto, Rabu (18/9).

Pria yang kerap disapa Adit ini menerangkan, apa yang telah dilontarkan Agung di salah satu Whatsapp Group, merupakan tindakan penghinaan kepada organisasi besar HMI. Sebagai pimpinan di UTM, dirinya menilai sikap Agung tidak mencerminkan sebagai seorang pemimpin yang seharusnya mampu merangkul seluruh elemen mahasiswa. Bahkan dirinya menyebut, secara personal integritas Agung tidak baik.

“Agung gak layak untuk duduk di jabatan itu, baik ditinjau dari sisi moralitas kebangsaan, integritas personal dan kapabilitas akademik,” terangnya.

Diungkapkan Adit, laporan ke pihak kepolisian tersebut sebagai pembelajaran dari HMI atas sikap Agung yang dinilai menjadi penyebab bentrok antar mahasiswa saat demo HMI ke UTM beberapa waktu lalu. Tak hanya itu, dirinya mengancam akan melakukan show of force ke UTM atas tindakan Agung tersebut.

“Kami juga akan show of force ke dia secara kelembagaan, bahwa HMI adalah lembaga besar. Lembaga dengan jaringan yang luas, lembaga yang tidak seharusnya dilecehkan oleh orang sekelas Agung,” paparnya.

Menurut Adit, atas perilakunya, Agung semestinya sudah dipecat dari jabatan pimpinan di UTM. Maka dari itu, dirinya menuntut Rektor UTM Moh. Syarif untuk melakukan pemecatan terhadap Agung.

“Kami akan lakukan gerakan lagi yang skalanya jauh lebih besar. Kalau pun akan dihadapi lagi dengan aksi massa anarkis lagi. Resiko perjuangan hingga Agung dipecat,” katanya.

Adit menerangkan, setelah kerusuhan yang terjadi di UTM kemarin, dirinya sempat melakukan pertemuan dengan beberapa alumni organisasi ekstra kampus, termasuk dengan Agung yang turut hadir dalam pertemuan itu. Hasilnya, semua elemen bersepakat untuk menghentikan pengkaderan dengan pola-pola politik identitas.

Namun demikian, Adit mengaku masih merasa kecewa dengan sikap Agung yang tak kunjung melakukan permintaan maaf secara terbuka di media massa.

“Agung telah melanggar kesepakatan di malam sebelumnya dengan menggaransi tidak adanya demo tandingan dan akan melakukan permintaan maaf ke media secara terbuka,” tandasnya. (ina/pin)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *