oleh

Bermagrib Di Restoran

Oleh: Malihatun Nikmah

Ibu Siti bangun menyisir rambut dengan tangan. Meraba kasur di bawah bantal, mencari ikat rambut. Turun dari ranjang menghidupkan sakelar lampu mengambil handuk di belakang pintu. Pergi meninggalkan tempat tidur menuju kamar mandi. Keluar dengan air wudhu’ lalu mengelapnya dengan handuk. Dini hari ia hendak sholat subuh. Ibadah yang tidakpernah ia tinggalkan. Ia sujut lama. Dengan keadaan terjaga ia memuncaki kekhusukan. Selepasnya ia berdo’a. Menceritakan keluh kesahnya kepada sang pemilik jagat.

Siti kembali ke kamar membangunkan suaminya yang susah sekali untuk bangun dari tidurnya. Ia memaklumi suaminya begitu. Siti dan Sadeli suami istri penjual nasi dan mie goreng serta lalapan dikala malam tiba. Ia berjualan sampai larut malam. Jarang sekali Siti dan Sadeli sholat berjama’ah karna keduanya bangun tidak bersamaan. Untuk membangunkan suaminya susah, butuh waktu yang lama. Sehingga, Siti sholat terlebih dahulu. Meskipun begitu ia dan keluarganya tidak pernah meninggalkan sholat. Walaupun sholatnya selalu telat.

Pagi ini air menggenang di plataran rumah, sisa hujan semalam kian merebah. Hujan memang sering turun beberapa hari ini. Terlihat air masih menggenang di beberapa rumah. Pagi yang dikicau burung bernyanyi riang. Ditemani para ibu yang sibuk bernostalgia menguras air di teras mereka.

Laron-laron berhamburan keluar dari parit. Entah mereka senang atau nestapa. Mereka mengambang di aliran air yang memanjang. Sepertinya akan terbang namun gagal. Ada pula dari mereka berhasil terbang. Tubuhnya terlihat bergetar seperti menggigil kedinginan.

Beruntung surya pagi ini terang, namun tidak terlalu menyilaukan. Hangat dan nyaman. Membawa setangkup harapan atas hujan yang telah mengguyur semalaman.

Semalam hasil jualan Siti dan Sadeli tidak terlalu beruntung. Karna hujan mengguyur sehingga pembeli enggan keluar rumah. Mungkin mereka lebih asyik menikmati dongengan ibu dan masakan ibu di rumah. Alhasil pelanggan yang datang bisa dihitung jari.

Sore melukis senja di sudut kota. Sadeli dan Istri bergegas menyiapkan dagangan. Kesunyian dihidangkan di tubuh senja diatas bangku menunggu pelanggan datang. Dua tangan disilangkan lalu diapit ketiak untuk meraba kehangantan. Ditemani gerimis yang engan reda. Menyaksiksan lalu lalang mobil bersalipan dari arah berlawanan. Sadeli dan Sitti duduk berdampingan. Mereka termangu di pinggir kota. Tak ada topik pembahasaan.

Beruntung ada Mohammad Aydi menghampiri. Rekan sesama pedagang nasi gerobak yang persis berdekatan hanya dua meter dari gerobaknya. Aydi demikian disapa. Ia mengajaknya sekedar berbincang kecil yang disambut hangat oleh Siti dan Sadeli. Ketiganya sudah sangat akrap bahkan Aydi dan Sadeli sudah seperti saudara sendiri. Tak pernah ada keributan antara keduanya meskipun mereka menjual makanan dengan jenis yang sama.

Sadeli : “mengapa kamu tidak ajak saja istrimu menemanimu berjualan, kan enank biar kamu tidak repot”.

Aydi  : “ Tidak Sad, kasian dia sudah biar ngurus anak saja”.

Sadeli : “ lohh..anak kamu sudah besar toh, kan sudah bisa ditinggal”.

Aydi : “iya tapi siapa yang mau menemaninya belajar, meskipun istri lulusan SD setidaknya ada yang menyuruh anak untuk belajar

Sadeli : “wahh..hebat kau ya,kalau anak-anakku saya pasrahkan ke kakak tertuanya. Dia bantu kami, urus adek-adeknya. Sekarang aku lagi memut Di, anakku pengen kuliyah katanya. Aku gak ada tabunganan. Dagangan aja sepi gimana mau kuliyah

Aydi : “Yang penting selau bersyukur Sad dan berjuang jangan lupa sholat dan berdo’a pasti ada jalan kan masik lama juga, masih smp anakmu”.

Sadeli : “Iya bener kamu itu, aku akan berjuang untuk anak-anakku. Karna akau tidak mau mereka sepertiku. Yah minimal dapat gelar sarjanala”.

Aydi : “Sudah masuk magrib Sad, aku ke Masjid dulu ya. Ayok barengan” ?

Di saat yang sama, dua muda mudi mampir ke grobak Aydi.

Sadeli : “baru jugak adzan Di, ya udah kamu duluan. Nah tuh ada pembeli

Sepontan Aydi yang masik ada di tempat grobaknya Sadeli meneriaki “Maaf mas gak ada orangnya”. Sadeli : “lahh kamu ini kok nolak rizki” keheranan. Aydi hanya tersenyum dengan perkataan Sadeli. Aydi : “kalau kau mau, ambil saja” dengan nada ringan sambil meninggalkan Sadeli menuju Masjid.

Alhasil muda mudi itu pun pergi ke grobak Sadeli. Perbincangan mereka terhenti ketika ada dua muda mudi dengan payung datang menghapiri grobak Sadeli. “Nasi gorengnya bang” ujar pemuda dan teman wanitanya. Dari itu pembeli berdatangan ke grobak Sadeli.

Sekitar lima belas menitan Aydi kembali. Aydi sempat melihat grobak dan lesehan Sadeli lumayan rame. Aydi tak menghiraukan itu. Ia bergegas menuju grobaknya.

Tak lama kemudian mobil keluarga berjalan pelan sambil sang sopir melihat-lihat di pinggir jalan. Tak lama sopir memarkirkan mobil di sebrang jalan. Tujuh orang turun dari mobil dengan payung. Sadeli yang melihatnya dari kejauhan, batinnya berkata “Sepertinya satu keluarga, wahh lumayan nih kalau makan di sisni semua”.

Namun untuk kali ini rizki mengarah pada Aydi. Tujuh orang itu menghampiri gerobak dan lesehan Aydi. Dan banyak dari itu pembeli juga mulai berdatangan pada Aydi hingga sampai antre. Sadeli yang meneriakinya dari samping “mau dibantu Di” tertawa guyon kegirangan melihat kawannya ramai pembeli. Keduanya tidak pernah merasa iri satu sama lain. Jika disalah satu sedang ramai pembeli, teman satunya akan ikut senang.

Aydi meneriaki Sadeli. Sadeli yang sedang mencuci piring dan istrinya yang masih sibuk melayani pembeli “Sad, kamu belum..” ujar Aydi sembari memperagakan gerakan takbir ketika sholat. Sadeli yang melihat Aydi mengerti kalau dirinya belum sholat Magrib. Lantas Sadeli “siap bos langsung otw” titahnya. Qurra’ isya’ sudah bergema tandanya hampir memasuki sholat isya’. Sadeli dan Siti bergegas menuju masjid. Kejadian seperti ini sering dilakukan oleh Aydi dan Sadeli. Sudah dua puluhan tahun Aydi dan Sadeli berjulan.

Tak lama Sadeli selesai sholat Magrib. Adzan Isya’ pun berkumandang. Dari itu juga Aydi secara tiba-tiba telah berada di sebelah Sadeli. Keduanya pun menyatu oleh merdunya suara Adzan. Air mata Aydi menetes menghayati kalimat sang Mu’adzin. Mereka pun sholat berjamaah di Masjid.

ALLAHU AKBAR suara imam menggema, Sadeli dan Aydi tenggelam dalam sholat oleh tartilnya bacaan imam. Menunjukkan sangat fasihnya dalam menghafal Al-Qur’an.Di barisan perempauan Siti juga khusuk dalam sholatnya.

Waktu terus bergulir sampailah pukul 00.09 menit keduanya mulai berhenti berjualan mendorong grobak rizki mereka pulang dengan keadaan sangat lelah. Pulang untuk beristirahat.

Suara burung bercericit gaduh. Sebagai tanda keriangan menyambut pagi yang cerah tanpa mendung menyapa. Sepertinya musim penghujan akan segera berakhir. Musim yang banyak dirindukan para pemburu nafkah pasaran. Namun berbeda dengan pemburu nafkah pertanian. Allah begitu adil dan begitu indah mengatur urusan mahkluknya.

Ketika Sadeli dan Siti sibuk mempersiapkan bahan-bahan dagangan nantik malam, tiba-tibaada ketukan pintu. Segera dibuka oleh Siti tenyata Aydi dan istrinya. “waahh tumben ni Di, ayok-ayok silahkan duduk” ujar Sadeli. “sepertinya sibuk, apa saya pulang aja ya” ledek Aydi pada sahabatnya. “Bisa aja kamu Di ” sambil tertawa bersama di ruang tamu sederhana. “Begini Sad” ujar Aydi, yang langsung dipotong oleh Sadeli “Sepertinya serius ini Di” ujar Sadeli penasaran. “aku mohon izin ke kamu dan bak Siti, mau pamit pulang ke Jogja soalnya ibuk sudah sakit. Sekalian juga aku dan istri berjualan di sana dan gak akan jualan lagi di sini. Jadi ini pertemuan kita yang terakhir kalinya disini” ujar Aydi dengan nada sedih.

Terlihat air mata Sadeli menetes tak tertahan walaupun sembari tertawa kecil. “aku sedih sekali, ya kalau itu keputusan terbaik untuk kamu ya baik lah aku hanya bisa berdo’a. Salam buat ibu di Jogja” ujar Sadeli. “Yahh siapa lagi yang ngingatin kami untuk sholat Magrib, Aydi?”. ujar Siti. “pejamkan mata mu lalu ingatlah saya, bak Siti” canda Aydi yang disambut tertawa kecil oleh 4 orang di ruang tamu. “kan bisa pakai alarm bak” balas Aydi.

Cukup lama Aydi dan istrinya bertamu. Di depan pintu Sadeli saling berpelukan dengan Aydi dan menyalami uang satu juta  untuk Aydi sebagai uang saku. Walaupun sangat ditolak oleh Aydi namun pada akhirnya dengan paksaan Sadeli, Aydi menerimanya. Mereka pergi dari hiruk pikuk kota Jakarta dan jauh dari Sadeli.

Tujuh tahun telah berlalu. Anak sulung Sadeli dan Sitti sudah tamat SMA. Ia mendapat beasiswa 50% atas perertasinya untuk melanjutkan ke bangku kuliyah. Ia diterima di salah satu kampus negeri di Yogyakarta. Hal yang sangat mengharukan bagi Sadeli dan Siti. Rizki yang bergitu melimpah untuk keluarganya. Walaupun biaya hidup dan kos kosan masih harus dicari. Namun, Sadeli dan Siti sangat bersyukur atas nikmat Allah SWT yang diberikan kepadanya. Ia semakin semangat untuk mencari rizki.

Tiba-tiba ia teringat pada Aydi. Sahabatnya lamanya dulu. Ia ingin sesekali bisa berkunjung kerumah Aydi di Jogja sembari menemui anaknya. Sudah 4 tahun terakhir dari 7 tahun kepergiannya  nomor HP Aydi tak bisa dihubungi. Sadeli berpikir mungkin Aydi melupakannya. Toh sudah tujuh tahun lamanya. Tapi baginya tak masalah. Sadeli bercerita pada anaknya kalau di Jogja ia memiliki sahabat.

Senja melukis rindu di tanah perantauan Yogyakarta. Sadeli dan Siti akhirnya tiba di Jogja untuk menemui dan melihat keadaan anaknya. Ini pertama kalinya ia dan istrinya ke Yogyakarta setelah Allah memberinya rizki yang lebih.

Perut sedari tadi mulai berisik. Maklum saja Sadeli dan Siti hanya makan pagi saja. “Buk, nak mari kita makan di sini” ujar Sadeli sambil menunjuk. “bapak serius pak makan disini, ini mewah loh pak” ujar Siti. “iya pak serius ini mahal loh pak” titah Robi anaknya. “kalian ini kenapa sih, ya sekali-kali lah gak papa kan.., makan di Restoran jangan melulu di pinggir jalan” ujar Sadeli pada Robi dan Siti.

Ia pun duduk dengan keluarganya. Ia datang setelah adzan Magrib. Cuma mereka heran. Tidak ada pelayan sekalipun. Hanya pelanggan yang sudah ada dan menikmati makanan mereka masing-masing.

Beberapa pelanggan yang baru datang pun juga bingung, tapi bisa sabar menunggu. Restoran ini memang berkonsep ambil sendiri. Namun tetap saja bingung bagaimana cara membayarnya.

Sambil melihat-lihat sekeliling untuk melihat sekilas staf atau pelayan atau apalah yang menjaga. Sadeli dan anak istrinya melihat hal tak terduga di ruang belakang restoran. Ia melihat sekelompok karyawan toko sedang sholat berjamaah.

Semua karyawan tanpa satu pun berjaga di depan restoran. Bacaan seorang yang menjadi imam pun lembut dan enak didengar.

Mereka pun malu dan segan dalam hatinya. Mereka yang mempelajari sesuatu dalam agama islam belum tentu memperaktekkan apa yang diketahui. Mengetahui saja tidak cukup. Pemahaman saja pun juga tidak cukup. Memperaktekkan dan mengamalkan itu yang utama.

Akhirnya ia dan anak istrinya duduk kembali di meja makan setelah melihat pemandangan indah dan berkesan itu. Pengunjung pun juga mulai ramai berdatangan. Namun, Sadeli dan anak istri tidak mengambil makanan yang tersedia. Ia ingin menunggu sampai staf karyawan restoran selesai sholat dan ingin berbincang kecil.

Sadeli melihat seorang laki-laki sebaya dengannya sekitar lima puluhan tahun berpakaian kemeja rapi dan tubuhagak gemuk berisi, yang sempat ia lihat menjadi imam. Alangkah terperanganya dia tat kala laki-laki itu berbalik badan. Ternya ia adalah Aydi teman lamanya tujuh tahun lalu. Sadeli tak berani mendekatinya karna bagi Sadeli Aydi sudah jauh berbeda. Siti yang juga melihat itu tampak kaget. “sudah buk, kita diam saja. Sepertinya dia akan pulang buk” ujar Sadeli pada Siti. Mereka pun makan. Setelah membayar tiba-tiba ada yang menepuk punggung Sadeli dari belakang tidak lain adalah Aydi. “Allahu Sadeli bak siti kalian disini”. Sadeli “saya kira kamu lupakan kami”.

Tanpa canggung Aydi memeluk Sadeli dan tanpa sungkan, Sadeli menyambut pelukan Aydi. Seperti memiliki keakrapan yangsangat dekat. Dalam pelukan cukup lama dan sembari menepuk pundak. Mereka berbincang kecil dan senyum keduanya menebar kehangatan. Itu disaksikan Siti, anaknya dan pelanggan yang bekunjung.

Mari ke Rumah “kalian belum sholat Magrib, marik sholat dirumah” mengajak keluarga Sadeli menaiki mobil mewahnya Mohammad Aydi. Dalam mobil Sadeli menanyakan prihal dari mana dirinya dapat modal membangun Restoran. Sadeli mengira dapat modal dari anak-anak. Namun ia menepisnya. Dia mengaku hanya sholat tepat waktu dan pelanggan selalu ramai. Dari itu lambat laun iya membangun Restoran. Sadeli hanya manggut-manggut entah apa yang dipanut.

 

Komentar

News Feed