Bermesra dengan Alam Semesta

  • Whatsapp

Virus corona, mendengar namanya saja sudah membuat orang-orang ketakutan setengah mati. Lantaran virus itu sendiri memiliki efek yang sangat mematikan manusia. Hal tersebut bisa dilihat dari gejala-gejala penyakit corona. Mulai dari sesak nafas, demam, hingga merenggut nyawa manusia. Dan hingga detik ini, tepatnya per (11/04), virus corona sudah melayangkan 102.659 jiwa di dunia. Tentunya ini membuat banyak orang was-was dengan berbagai ancaman yang menghadang.

Akibatnya, pihak otoritas setempat dan pusat mencoba menetapkan berbagai keputusan, sebelum bencana corona ini kadung berimbas lebih jauh. Contohnya, berdasarkan pemberitaan Jabar Ekspres pada (09/04), Anggota Fraksi Nasdem DPRD Kota Sukabumi, Bambang Herawanto meminta Pemkot Sukabumi untuk menunda pembangunan fisik yang menghabiskan biaya Rp1.5 miliar. Menurut Bambang, anggaran sebanyak ini sebaiknya dialokasikan untuk penanganan virus corona.

Bacaan Lainnya

Selain itu, terhembus pula sebuah wacana penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Walaupun sampai saat ini statusnya belum jelas, namun Pemerintahan Provinsi Jawa Barat mengupayakan pembatasan transportasi secara perlahan-lahan. Sejumlah keputusan yang telah disebutkan sebelumnya sesungguhnya sarat akan makna. Bahwa sekarang manusia berada di jalur penyelamatan dirinya. Urgensinya jauh lebih besar ketimbang ambisi duniawi yang selama ini diagung-agungkan.

Pandemi corona secara tidak langsung mentransformasi pola pikir manusia. Berbagai petunjuk yang ditampakkan oleh peristiwa ini, berupaya menarik perhatian manusia. Agar manusia segera menyadari keberadaan dari suatu nilai yang lebih penting dari ambisi ekonomi.

Hasil yang diharapkan dapat dilihat dari situasi saat ini, yang mana manusia mulai memperlakukan alam dan seisinya dengan baik. Sumber daya alam diambil hanya secukupnya, dan digunakan secukupnya pula. Jumlah penggunaannya terbatas untuk menjamin kebutuhan pokok tiap orang terpenuhi. Tidak ada orang memiliki kebutuhan pokok melebihi orang lain. Buktinya, sudah gencar himbauan untuk tidak menimbun masker untuk diri sendiri. Masker dibeli secukupnya, dan digunakan jika berkegiatan di luar atau ketika tubuh sedang sakit.

Alhasil, tumbul lah hubungan yang serasi dengan alam. Hubungan serasi dengan alam yang dimaksud adalah bagaimana upaya manusia untuk memahami gejala, proses, hingga akibat dari fenomena alam semesta. Setelah manusia berhasil memahami, manusia akan lebih berhati-hati dalam menata pikiran dan perilaku terhadap alam. Berteman dengan alam setulusnya dan tidak berat sebelah.

Di samping itu, tertanam dengan kokoh juga rasa batiniah manusia. Hal ini ditunjukkan oleh spirit orang-orang untuk menolong sesamanya. Sebagai contoh, lintas generasi masyarakat Indonesia, berbondong-bondong menggalang dana untuk membeli Alat Pelindung Diri (APD) bagi dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya. Spirit kemanusiaan ini, secara berangsur-berangsur memulihkan pemahaman nilai ilahiah diri manusia yang sudah kadung rumpang.

Kemudian manusia akan memasuki tahap selanjutnya, yaitu mengenal hakikat dirinya. Manusia pada akhirnya terilhami bahwa dirinya bukan hakikat yang begerak untuk nilai ekonomi semata. Melainkan, keberadaannya melampaui material ekonomi. Proses pengenalan jati dirinya, mengantarkan manusia untuk memperlakukan sesama dengan baik. Baik itu antar manusia, hewan, tumbuhan, atau bahkan alam semesta. Manusia dan makhluk lainnya, nantinya saling mengasihi sebagai anggota keluarga dari alam semesta.

Pada dasarnya, gegap gempita corona memacu manusia untuk menangkap berbagai simbol alam semesta. Simbol-simbol tersebut, saling terhubung satu sama lain dan membentuk satu peta alam semesta. Peta alam semesta menampilkan tanda-tanda eksistensi alam lainnya, yakni alam batiniah yang jumlahnya di luar jangkauan pikiran manusia. Alam ini ditempati oleh orang-orang yang sisi kemanusiannya selalu menyala.

Kesimpulannya, berteman baik dengan alam fisik yang kita tempati sekarang, berarti berteman pula dengan alam lainnya. Pandemi corona mengingatkan kita memicu jiwa untuk berlaku baik dengan alam semesta dan isinya. Maka dari itu, mari bermesra dengan alam semesta!

 

Habibah Auni Alumni S1 Teknik Fisika University of Gadjah Mada (UGM), Tinggal di Tangerang Selatan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *