Bermunculan Wifi Spot untuk KBM Siswa, Disebut Sindiran Halus dari Masyarakat

  • Whatsapp
(FOTO: KM/JAMALUDDIN) TETAP BELAJAR: Siswa, guru, wali murin dan pemerintah sama-sama bimbang menerapkan KBM paling efisien dan efektif di tengah wabah Covid-19. 

Kabarmadura.id/SUMENEP-Dilema antara proses belajar mengajar (KBM) tatap muka, luar jaringan (luring) dan dalam jaringan (daring) yang selama ini dinilai tidak efektif, memunculkan beragam gagasan, salah satunya dari Komisi IV DPRD Sumenep yang secara khusus membahas permasalahan itu.

Anggota Komisi IV DPRD Sumenep Samiuddin menilai, sistem KBM yang dilakukan dengan tidak tatap muka, melunturkan substansi nilai-nilai pendidikan itu. KBM via daring juga disebut tidak mempunyai kedekatan emosional antara guru dan siswa, artinya nilai kharisma guru menjadi tidak nampak.

Bacaan Lainnya

“Kalau dari kami sepakat bahwa KBM via daring itu memang tidak efektif, mereka sama dengan belajar di YouTube, seperti belajar tutorial, nah kekurangan sarana murid mulai HP dan sarana lainnya,” katanya, Minggu (9/8/2020).

Kurangnya fasilitas, terutama di daerah pelosok, menjadi kendala besar berjalannya proses KBM. Sehingga pihaknya memaklumi jika banyak sekolah yang tetap melaksanakan KBM tatap muka sebagaimana hari normal.

“Saya setuju yang tetap masuk itu, karena KBM daring sangat berdampak pada capaian pembelajaran, pendidikan semakin tidak karuan nanti,” imbuhnya.

Tetapi pihaknya belum berani mengarahkan agar KBM secara tatap muka dilaksanakan secara terbuka atau terang-terangan.

Sementara itu, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sampang meminta Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang untuk berinovasi dalam menerapkan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah, secara daring atau belajar dari rumah (BDR). 

KBM secara daring ataupun BDR, disebut memberatkan orangtua siswa, yang tingkat perekonomiannya rendah. Pasalnya, mereka harus menyediakan gawai beserta paket datanya untuk bisa ikut belajar secara daring. Sementara, sekolah tidak bisa memfasilitasi kebutuhan sarana itu.

Bahkan, minimnya sarana itu sampai memantik keprihatinan warga dan beberapa lembaga yang memfasilitasi area wifi untuk dijadikan tempat belajar. Hal itu terasa seperti sindiran ke Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang yang hingga saat ini belum berhasil mengurai permasalahannya serta memberikan solusinya.

Pantauan Kabar Madura, di Sampang bermunculan area wifi yang dijadikan tempat belajar siswa, seperti di pos polisi di area monumen Sampang, musala DPRD Sampang, markas MDW dan rumah warga di Jalan Seruni, Sampang.

Menurut Anggota Komisi IV DPRD Sampang Moh. Iqbal Fatoni, penyediaan wifi spot di sekitar musala kantor DPRD dijadikan tempat belajar (pojok belajar) sebagai wujud kepedulian. Namun dia tetap meminta beberapa instansi di Kota Bahari, seperti kantor perbankan. 

“Dengan ini kami berharap banyak orang yang peka terhadap inovasi itu. Sehingga nantinya tempat atau kantor itu bisa digunakan untuk kepentingan siswa yang mau belajar secara daring,” ungkapnya, Minggu (9/8/2020).

Sehingga, dengan inovasi ini, siswa bisa belajar secara gratis dan semangat tanpa memikirkan biaya. Karena, pendidikan ini merupakan sandi dari negara. Namun, inovasi tersebut juga sebagai sindiran ke Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang agar berinovasi dalam proses pembelajaran yang efektif di tengah wabah Covid-19.

“Dewan ini hanya memancing, sudah disediakan tempat belajar, seharusnya ini ditangkap dari pihak-pihak terkait. Jadi, cukup sadar saja,” tuturnya.

Namun sebelumnya, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Disdik Sampang Nor Alam mengatakan, terkait penggunaan dana BOS untuk fasilitas penyediaan kuota internet bagi siswa itu diperbolehkan. Namun, aturan itu tidak dikeluarkan Disdik, melainkan dipasrahkan ke kepala sekolah masing-masing.

“Cuma yang jadi persoalan, ketika siswa dibelikan jatah kuota paket internet, pemakaiannya untuk belajar hanya 1-2 jam saja,” katanya.

Selama wabah Covid-19, dia juga mengaku sering mendapat keluh kesah dari wali siswa. Keluhan tersebut kebanyakan menginginkan segera proses KBM kembali di kelas.

“Dari orangtua siswa memang banyak keluhan, tetapi mau bagaimana lagi, karena ini sudah tidak bisa dihindari,” pungkasnya. (ara/mal/waw)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *