oleh

Bersastra Dengan Pikiran Terbuka

Ketika Partai Revolusi Demokratik memenangkan suara terbanyak dalam pemilu, pemerintah baru Mexico (2003) memberlakukan revolusi mental melalui semangat membaca karya sastra. Kampanye anti korupsi terus digalakkan secara masif dan revolusioner. Aparatur negara hingga ke jajaran resort dan sektor-sektor kepolisian, harus mengikuti kelas-kelas sastra. Program membaca karya sastra ini pernah menjadi headline di harian-harian nasional Meksiko dan Amerika Serikat. Pada tahun-tahun pertama pelaksanaan program memang begitu rumit, banyak kendala, bahkan penolakan. Ketika mentor membahas karya Octavio Paz maupun Gabriel Garcia Marquez, mereka semuanya bungkam. Jarang ada polisi yang mau mengangkat tangan untuk bertanya atau menanggapi bahasan karya sastra.

Entah paham entah tidak, para polisi itu tetap diwajibkan mengikuti kelas-kelas sastra. Bagi yang tidak mengikuti program itu terancam takkan naik pangkat, atau kenaikan pangkatnya terhambat. Kepala kepolisian tetap menekankan pentingnya membaca karya sastra. “Membaca karya sastra dengan tekun dan teliti, adalah cara terbaik untuk meningkatkan kualitas agar seorang polisi berbudaya, berwawasan, dan mampu memahami pikiran orang lain,” demikian tegas Eric Lopez, yang ditunjuk pemerintah sebagai koordinator program membaca sastra tersebut.

Selama bertahun-tahun program terus dijalankan, kadang dipaksakan. Semua polisi harus membaca buku-buku yang ada dalam daftar, di antaranya karya-karya Cervantes, Juan Rulfo, Carlos Fuentes, hingga karya-karya Agatha Christie, Edgar Allan Poe dan seterusnya. Mungkin pada awalnya mereka bungkam, tetapi nanti ketika mereka mulai akrab dengan karya sastra, mereka bisa menikmatinya dengan leluasa, serta mendapat banyak manfaat dari kegemaran mambaca karya sastra.

Lama kelamaan, masukan ide dan gagasan semakin memperkaya khazanah demi perbaikan program ini. Para mentor berhasil menemukan cara untuk bersenang-senang dengan karya sastra. Karya-karya itu diterjemahkan ke dalam bahasa kepolisian, dengan memasukkan kode-kode yang biasa mereka gunakan dalam komunikasi antarpolisi, misalnya berikut ini:

“Sekian alfa kemudian, di hadapan regu 44, Kolonel Aureliano Buendia akan 60 pada senja yang samar-samar ketika ayahnya 26 dia untuk 62 es.” Itu adalah versi kepolisian Meksiko untuk pengantar novel Gabriel Garcia Marquez (Seratus Tahun Kesunyian): “Bertahun-tahun kemudian, di hadapan regu tembak, Kolonel Aureliano Buendia akan teringat pada senja yang samar-samar ketika ayahnya mengajak dia menemukan es.”

Akhirnya, para polisi Meksiko, yang berpangkat tinggi maupun rendah, terbiasa membawa-bawa buku sastra ke mana-mana, baik dalam bentuk novel, antologi puisi maupun cerpen. Program itu terus ditingkatkan pada tahun-tahun berikutnya, yakni kelas menulis sastra. Ini akan menjadi lebih mudah, karena mereka sudah banyak membaca dan menguasai karya-karya sastra.

Buku-buku memperkaya kosakata mereka hingga membuat mereka mampu berkomunikasi secara lebih baik dengan warga yang sedang mereka bantu, atau dengan para kriminal yang mereka tahan. Komunikasi yang baik akan memperbaiki pandangan orang tentang dunia kepolisian yang selama ini dianggap sebagai sosok aparatur negara yang bengis, kasar dan menjijikkan.

 

Bagaimana dengan kita?

 

Pada suatu hari, tersiar kabar tentang adanya organisasi Lingkar Kajian Untuk Pencerahan (Lingkaran) yang diprakarsai oleh kalangan jurnalis se-provinsi Banten. Mereka mencoba menghadirkan penulis novel Pikiran Orang Indonesia, Hafis Azhari, dalam suatu acara dialog yang dihadiri kalangan wartawan, pejabat dan aparat kepolisian, LSM, hingga kalangan santri dan mahasiswa. Acara dialog digelar di Kota Serang, bertema “Radikalisme di Kalangan Kaum Muda”.

Saat Hafis Azhari menguraikan gagasan dan pemikirannya, nampak para hadirin terdiam dan membisu. Pembicara mencoba membuat sedikit lelucon dan guyonan, tetapi mereka tetap saja merasa tegang, seakan merasa kesulitan untuk bicara dan berkomunikasi. Tak lama kemudian, ada beberapa mahasiswa yang bertanya memberanikan diri, dan itu pun setelah pembicara berusaha keras memancing percakapan yang memecahkan kebekuan.

Saya menilai bahwa kedalaman karya sastra memang sulit dicerna oleh orang-orang – atau suatu bangsa – yang masih tertutup jalan pikirannya. Mengapa karya sastra begitu tabu dan menakutkan bagi mereka? Tergantung mereka itu siapa. Sebab, sudah dijelaskan dalam kata pengantar novel Perasaan Orang Banten bahwa, suatu kreasi atau karya yang ditulis berdasarkan hati, hanya akan dapat dinikmati oleh para pembaca yang membuka mata-hatinya.

Jadi, kalau hati kita terselubung oleh kabut misteri, mistik, klenik dan kebohongan — meskipun mengaku bertuhan esa — memang sulit untuk mencerna sebuah karya sastra yang baik. Karena bagaimanapun, karya sastra yang ditulis dari kelapangan hati dan jiwa, serta dengan niat-niat baik untuk mencerdaskan rakyat, ia bersifat memberdayakan pembaca dan bukan memperdayakan. Ia bersifat mencerdaskan umat dan bukan meninabobokan. Ia bersifat membangun kemandirian dan kemerdekaan rakyat, dan bukan membodohi dan memperalatnya.

Demikian pula pernyataan Dahlan Iskan dalam artikelnya yang berjudul “Alexa si Seksi dari Amerika”, bahwa untuk memahami humor-humor dengan baik — khususnya dalam sastra — dibutuhkan kecerdasan, kejeniusan, pengetahuan luas, serta pengalaman hidup yang beragam dan berwarna-warni.

 

Karya sastra yang baik

 

Selama 32 tahun rezim militerisme Orde Baru, semua orang tahu – bahkan generasi milenial pun tahu – bahwa peran dan fungsi kesusastraan, dengan sengaja secara sistemik telah dibungkam dan diberangus sedemikian masifnya. Munculnya karya-karya Pramoedya Ananta Toer, di antaranya Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, yang diterbitkan oleh penerbit independen Hasta Mitra (Joesoef Isak) telah menggegerkan jagat kesusastraan Indonesia modern.

Setiap karya sastra dan sastrawannya, yang selama ini mengabdi bagi kepentingan rezim militerisme Orde Baru terpaksa harus menyarungkan egoisme dan kepentingan pribadinya. Oleh situasi dan keadaan – dan oleh hukum alam – jiwa dan pendirian mereka dipaksa kembali ke titik nol. Membaca karya sastra memang meniscayakan hati dan pikiran harus lapang, terbuka, dan terbebas dari prasangka.

Sebagaimana pemberlakuan program membaca sastra di institusi kepolisian Meksiko, setelah kemenangan Partai Revolusi Demokratik (2003) lalu, tidak sedikit menghadapi berbagai rintangan, hambatan, bahkan pertentangan di sana-sini. Sebelum program itu diberlakukan, akhlak dan moralitas kepolisian di sana penuh dengan kepalsuan, manipulasi, korupsi, dan suap sana dan suap sini. Untuk terbebas dari jeratan hukum, yang berlaku adalah ideologi wani piro. Dari urusan kriminal sampai pelanggaran lalu lintas, hanya akan terselamatkan jika mereka memiliki uang sebagai tebusannya.

Banyak polisi Meksiko berpakaian preman dan menyamar sebagai jawara-jawara, tukang palak, bandit, hingga komplotan mafioso. Pihak polisi yang mestinya berfungsi selaku pengayom dan pelindung rakyat, justru menjadi bagian dari masalah yang sama-sama tukang madat, mabok, madon, dan berbagai skandal korupsi lainnya. Di jalan-jalan raya, polisi Meksiko berperan sebagai penadah uang sogok dari para pelanggar hukum dan lalu lintas. Tetapi, beberapa tahun setelah mereka akrab dengan karya sastra, terjadilah revolusi mental yang luar biasa di kalangan para aparatur negara.

Pengamatan dan analisis ini kiranya patut menjadi bahan kajian serius bagi pemerintah kita saat ini. Jika kita ingin maju dan ingin menata diri agar menjadi manusia-manusia unggul, karya sastra adalah acuan dan pegangan terpenting yang dapat memperkaya khazanah dan wawasan yang cemerlang. Karena itu, program revolusi mental akan mubazir dan sia-sia, jika pemerintah tidak punya kepekaan untuk membuka pikiran-pikiran yang tertutup pada bangsa yang besar ini. *

–    Muhamad Muckhlisin

–    Guru dan pendidik di Pondok Pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, Banten

–    Pemenang pertama lomba cerpen nasional yang diselenggarakan oleh Rakyat Sumbar, Padang (2017)

Komentar

News Feed