oleh

Bertahun-tahun Permainkan Harga, Mafia Tembakau Sulit Tersentuh Regulasi

Kabarmadura.id/Pamekasan–Harga tembakau yang sering dipatok tidak memuaskan dan masih dikeluhkan petani tembakau di Pamekasan, diakui oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan disebabkan ulah tengkulak.

Dijelaskan Kepala Disperindag Pamekasan Ahmad Sjaifuddin, kasus ini tidak jauh berbeda dengan kasus anjloknya harga ayam pedaging di tingkat peternak di tingkat peternak beberapa waktu yang lalu.

Menurutnya, jika dalam kasus anjloknya harga ayam pedaging brokernya adalah pedagang daging ayam, maka dalam kasus tembakau perusak harganya yaitu tengkulak yang membeli tembakau petani di bawah break event point (BEP)

“Harusnya memang petani masuk langsung ke gudang, tapi praktiknya tidak begitu, banyak tangan-tangan harus dilalui,” ungkapnya.

Ahmad menjelaskan, sama dengan kepada broker harga ayam pedaging, pihaknya tidak bisa memberikan sanksi. Sebab perda yang berlaku yaitu pabrikan harus membeli tembakau petani tidak boleh di bawah BEP, sementara logika perda telah terpenuhi.

Bahwa pabrikan telah membeli tembakau petani dengan harga standar BEP, meski dalam praktiknya pabrikan membeli kepada tengkulak, tidak pada petani langsung. Kendati begitu, Ahmad mengakui bahwa ada pabrikan yang membeli tembakau dengan harga relatif murah.

“Kalau ke tengkulak kami punya kemampuan apa, turunan pabrik saja kami susah mengendalikan, apalagi ke tengkulak,” ucapnya.

Namun harga tersebut telah disesuaikan dengan kualitas tembakaunya. Seperti PR. Grendel yang membeli tembakau dengan harga Rp28 ribu ke bawah. Menurutnya, itu tidak bisa disamakan dengan gudang lain seperti PT. Gudang Garam, PT. Djarum dan PT. Wismilak.

Sementara itu, Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan Achmadi mengungkapkan, pemberlakukan standar BEP di Kabupaten Pamekasan telah terealisasi kepada hampir semua pabrikan.

Menurutnya, tinggal bagaimana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan melakukan evaluasi dan pemantauan ke lapangan agar pabrikan betul-betul telah melaksanakan perda yang ditetapkan sehingga masyarakat petani tembakau tidak disusahkan.

“Kami berharap petani tembakau tidak merugi, jadi kita harus selalu mengevaluasi dan memantau itu,” ujarnya. (ali/waw)

Komentar

News Feed