oleh

Bhabinkamtibmas Kolpajung Bripka Arief Wahyudi, Utamakan Kepentingan Negara Dibandingkan Keluarga

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN – Pengabdian kepada Negara, tidak harus menjadi anggota polisi ataupun tentara. Namun, pengabdian bisa dilakukan oleh siapa saja, apabila dilaksanakan dengan ketulusan. Bahkan, tuntutan bertugas menjadi panutan utama. Hal inilah yang ada dalam benak, bhayangkara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat (Bhabinkamtibmas) Kolpajung, Brigadir Polisi Kepala (Bripka) Arief Wahyudi.

ALI WAFA, PAMEKASAN

Polisi dengan pangkat bripka ini, merupakan kelahiran Kota Sumenep pada 14 Maret 1985 lalu. Usianya saat ini sudah 36 tahun, masih tergolong muda sebagai anggota polisi yang telah menjabat selama 18 tahun.

Sejak 2003 lalu, pria bernama lengkap Arief Wahyudi menjadi polisi dan penempatan pertama pada tugasnya yaitu sebagai Satuan Samapta Bhayangkara (Sat Sabhara) Kepolisian Resort (Polres) Pamekasan pada tahun 2004.

Dirinya dipercaya menjadi Bhabinkamtibmas di Kelurahan Kolpajung sejak tahun 2017 lalu. Selama empat tahun menjadi Bhabinkamtibmas, banyak kisah dan pengalaman yang dilaluinya.

Meski dirinya merangkap jabatan sebagai anggota Kepolisian Sektor (Polsek) Pamekasan, kesibukannya pada dua tugas itu dijalani dengan riang dan selalu bersahaja. Setidaknya, setiap hari harus bolak-balik berganti kostum untuk dua tugas yang berbeda.

“Saat di polsek, saya pakai baju preman. Kadang tiba-tiba ada perintah ke Kolpajung saya harus segera ganti uniform Bhabinkamtibmas,” ucapnya, Senin (15/3/2021).

Meski begitu, alumni Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 5 Pamekasan itu bersyukur. Karena selama 18 tahun,  menjalani tugasnya di Pamekasan. Yakni daerah dimana dia memang tinggal. Sehingga bisa selalu dekat dengan keluarga.

Kendati begitu, dia selalu siap dan bersedia jika ada penugasan emergency untuk ke luar kota. Bahkan, setiap ada tawaran bertugas di luar daerah, dia selalu mendaftar meski tugasnya tidak lama di luar kota. Sebab baginya, banyak pengalaman bisa juga bisa menambah pengetahuan.

Namun demikian, kisah pilu pernah dialami. Yakni ketika menjalankan tugas di luar kota, kemudian istrinya memintanya untuk segera pulang karena anaknya sedang sakit dan membutuhkan ayahnya. Namun, dia memilih menyelesaikan tugasnya. Dia hanya bisa pasrah kepada Tuhan.

“Saat seperti itu pilihannya dua, antara Negara dan keluarga. Ya harus pilih Negara, baru keluarga,” tegasnya.

Namun dia bersyukur, karena keluarganya selalu dijaga oleh Tuhan saat dirinya harus bertugas ke luar daerah. Dia yakin, tugas yang dijalankan merupakan tugas yang mulia serta Tuhan akan selalu berpihak kepada  umatnya yang berada di jalan benar.  (ito/*)

Komentar

News Feed