oleh

Bijaksana Dalam Mengelola Keuangan

Fahrus Refendi

Pandemi Covid-19 telah banyak mencederai aktivitas-aktitivitas manusia diantaranya: pendidikan, sosial, budaya, serta ranah ekonomi. Faktor ekonomi memang menjadi hal yang paling esensial, baik bagi masyarakat urban maupun pedesaan. Hal yang paling mungkin terjadi adalah hilangnya sebagian mata pencarian akibat dari pandemi. Akibatnya, sendi-sendi kehidupan mengalami kelumpuhan di berbagai sisi. Kebutuhan sandang dan pangan menjadi mandeg akibat income yang terhenti. Dari beberapa kegelisahan yang ditimbulkan pandemi Covid-19 adakah faedah yang dapat diambil?

Manusia sampai kapanpun tidak akan pernah lepas dari simbolisasi konsumerisme. Budaya konsumtif telah menjadi unsur primer bagi berlangsungnya kehidupan manusia. Perilaku konsumtif sendiri  telah banyak mengalami pergeseran semantis dari masa ke masa. Esensinya manusia membutuhkan makan untuk hidup, beda persepsi jika dikomparasikan di kehidupan saat ini. Perilaku gastronomi dewasa ini bukan lagi untuk pemenuhan kebutuhan esensial saja tapi sudah merujuk pada keeksistensian terhadap apa yang diinginkan.

Obsesi manusia pada eksistensi gastronomi yang bukan lagi  sebagai kebutuhan dasar melainkan sudah menjadi hasrat keinginan pemuas hasrat yang mengantarkan manusia menjadi individu yang hedonis. Seperti yang kita ketahui bersama, perilaku hedonisme merupakan pandangan yang menganggap kesenangan dan kemewahan sebagai tujuan utama dalam hidup. Sehingga untuk makan dan minum saja orang yang menganut paham hedonis akan mengeluarkan banyak uang. Belum kebutuhan yang lainnya.

Contoh kecil perilaku hedonis yang masif terjadi ketika seseorang memilih makan dan minum di cafe atau restoran berbintang ketimbang makan di warung biasa padahal menu yang ditawarkan sama saja. Contoh lain misalnya, memilih ngopi di  sturbuck ketimbang membuat sendiri di rumah. Dua hal kecil di atas merupakan wujud hyperkonsumtif  untuk menaikkan level subjektifitas pelakunya. Apa yang dibeli? Sebenarnya yang dibeli adalah label dan gengsi.

Ketika sudah berbicara tentang gengsi maka ujung-ujungnya adalah lahirnya sifat boros. Dan ketika sudah boros maka jangan harap bisa menyisihkan uangnya buat ditabung. Sebenarnya sikap boros bisa diantisipasi jikalau tia-tiap individu belajar menjadi personal yang utilitarianisme, sebuah teori sistematis yang diperkenalkan pertama oleh Jeremy Bentham dan muridnya John Stuart Mill yang menyatakan bahwa teori tersebut bergerak dibidang etika normatif yang menarasikan suatu perbuatan yang baik adalah yang memaksimalkan penggunaanya (utility) bukan dilihat dari seberapa mahal dan mewah barang yang dibeli dan yang dikonsumsi.

Hal lain yang mencuat dikehidupan yang serba sukar serta  diperparah dengan adanya pandemi yang tak berkesudahan ini. Budaya hemat ala orang China kiranya dapat dijadikan alternatif. Apa keunggulan mereka? Di samping IPTEK yang maju mereka juga lihai dalam membelanjakan uangnya.

Sudah tidak terbantahkan tiap toko-toko besar yang berjejer dipinggir jalan baik itu toko bangunan, sparepart dan suku cadang sepeda motor ataupun mobil, toko sepatu maupun baju hampir sebagian besar dikuasai oleh orang-orang China. Pertanyaannya sekarang, kemanakah orang-orang pribumi? Apa kelebihan mereka dibanding masyarakat pada umumnya?

Beberapa hari yang lalu Ust Musleh Adnan menyinggung hal tersebut bahwasanya, hidup sederhana dan menyisihkan sebagian rezekinya untuk ditabung menjadi kunci kesuksesan mereka. Analoginya begini, misalnya keluarga A pendapatannya 20 ribu setiap harinya. Dengan uang 20 ribu itu sebisa mungkin semua kebutuhan terpenuhi dalam artian, 17 ribu dibelanjakan kebutuhan sehari-hari seperti makan dan minum dll. Sementara 3 ribunya mereka tabung. Begitu seterusnya yang mereka lakukan setiap harinya. Jadi, setiap berbelanja sekaligus menabung. Nah, tabungan inilah yang nantinya berguna jika dalam kondisi darurat.

Dalam buku Goodbye Thing: Hidup Minimalis Ala Orang Jepang, Fumio Sasaki mencatat bagaimana keresahan dirinya sebelum mengenal hidup minimalis. Dia menyingkirkan semua barang-barang yang bagi dia tidak begitu penting, mulai dari pakaian dan perabotan di rumahnya. Menurut Sasaki, hidup minimalisme bukan berarti bebas total dari barang-barang. Seorang minimalis bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Intinya, kaum minimalis hanya hidup dengan benda-benda yang ia butuhkan, bukan yang diinginkan. Dalam tradisi Budhistik juga disebutkan bahwasanya, kebahagiaan akan tercapai jika seorang individu tidak lagi menaruh harapan pada keinginan-keinginan. Nafsu duniawi merupakan sumber penderitaan.

Dari premis yang sudah berkelindan dapat ditarik kesimpulan,  dalam menghadapi situasi pandemi seperti sekarang ini hasrat hedonis saya kira perlu ditanggalkan. Ketika ladang untuk mencari uang sudah tidak tersedia, PHK dimana-mana, maka strategi yang harus diambil adalah hidup hemat serta selalu menyisihkan uang untuk ditabung guna keperluan hari esok yang lebih agung.

*Merupakan mahasiswa Universitas Madura Prodi Bahasa & Sastra Indonesia asal desa Kaduara Barat, Larangan.

No HP: 085231496193

 

 

Komentar

News Feed