Bingkisan Sejarah di Ujung Timur Pulau Madura

  • Whatsapp
DILESTARIKAN: Bangunan pintu masuk “labang mesem” keraton Sumenep tetap terjaga keasliannya dari masa ke masa.

Berjarak sekitar 155 kilometer dari jembatan Suramadu arah Madura, berdiri megah Keraton Sumenep. Tempat tinggal raja-raja Sumenep yang kini menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi saat ke Madura.

Moh. Syaifullah, Sumenep

Cukup dengan tiket seharga Rp 4.000 per orang, pengunjung dapat mengitari keraton ini. Meski kerajaan Sumenep kini tak lagi eksis, namun masyarakatnya menganggap, keraton itu masih berwibawa.

Keraton ini dibangun pada pada masa Pangeran Notokusumo I Asiruddin atau juga dikenal dengan nama Panembahan Sumolo dan diselesaikan pada tahun 1780 M. Ia adalah putra dari Bindara Saod dari istri Nyai Izzah yang masih keturunan dari Sunan Kudus.

Beberapa peninggalan lain dari Panembahan Sumolo yang masih bisa kita saksikan hingga saat ini, adalah Masjid Agung Sumenep yang selesai dibangun pada tahun 1787 M.

Arsitek dari pembangunan keraton ini adalah seorang Tionghoa bernama Lauw Piango yang juga berperan sama dalam pembangunan Masjid Agung. Lau Piango adalah generasi kedua orang Tionghoa yang tinggal di Sumenep.

Kakeknya bernama Lauw Khun Thing, sebelumnya dia tinggal di Semarang dan memutuskan pindah ke Sumenep pada tahun 1740 M. Saat itu dia menjadi salah satu dari enam orang Tionghoa pertama yang tinggal di Sumenep.

Kini, keraton tersebut telah berubah menjadi bangunan cagar budaya yang memiliki fungsi sebagai sarana pembelajaran sejarah, tradisi dan budaya Sumenep. Untuk memperkuat fungsi itu, dibangun pula sebuah museum yang berada tepat di depan keraton.

Museum itu menyimpan berbagai benda bersejarah yang dipajang di dalam sebuah gedung dalam komplek keraton.

Beberapa di antara benda-benda itu adalah Al-Quran yang ditulis tangan sendiri oleh Sultan Abdurrahman, sajadah yang terbuat dari kulit harimau yang digunakan sebagai alas shalat raja, alas kaki atau sandal masa itu yang disebut dengan gamparan tonggulan yang terbuat dari kayu metaos.

Ada pula beberapa benda lain yang digunakan oleh raja atau bangsawan Sumenep ketika itu, seperti sebuah tandu untuk orang sakit serta perabot rumah seperti meja dan kursi yang masih terlihat utuh.

Menurut Ramli, penjaga keraton, dari sejak dibangun hingga kini keraton itu tidak mengalami perubahan bentuk yang berarti. Bagian utama dari keraton itu adalah sebuah ruang besar, yang kini tertutup, yang digunakan sebagai tempat tinggal sehari-hari raja dan keluarganya.

Ruang utama itu terhubung dengan pendopo oleh sebuah koridor panjang. Pendopo itu dulu digunakan sebagai tempat raja menerima tamu dan memanggil bawahannya.

“Keraton ini sempat akan dibakar oleh serdadu Jepang saat invasi ke Indonesia. Namun anehnya, tentara Jepang tak mampu membakarnya,” ujar Ramli.

Keanehan keraton ini tidak hanya itu. Dalam ruang utama terdapat sebuah kamar yang dulu digunakan oleh para raja Sumenep. Kamar itu hingga kini masih terawat dengan baik meski kini ruang itu tertutup untuk pengunjung.

Menurut kepercayaan, siapapun, selain keturunan raja Sumenep, tidak diperkenankan untuk tidur di situ. Jika dilanggar akibatnya bisa fatal. Konon, pernah ada yang memaksa tidur di situ, akibatnya nasib buruk kerap menyertainya.

“Iya mungkin karena dulu raja-raja Sumenep tidak hanya wibawa dalam bersikap. Namun, secara keagamaannya sangatlah kuat,” pungkasnya.

Menurut Kepala UPT Museum Keraton Sumenep Mohammad Erfandi, rata-rata wisawatan yang datang ke museum itu berasal seluruh wilayah Madura. Ada juga wisatawan dari luar Pulau Madura.

Ada lima komplek bangunan di lokasi tersebut. Terdiri dari empat bangunan keraton dan satu Pemandian Putri Taman Sare.

Biasanya, wisatawan memulai kunjungannya dari museum yang ada di sebelah selatan. Di sana, terdapat daftar nama-nama Raja dan Bupati Sumenep. Mulai dari masa kepemimpinan Arya Wiraradja atau Banyak Wedi di tahun 1269 hingga 1292.

Selanjutnya masa kepemimpinan Pangeran Djokotole, kemudian Tumenggung Tirtonegoro atau Bindara Saod tahun 1750-1762 sampai bupati saat ini.

“Memperkenalkan secara lebih dekat dan melihat langsung peninggalan-peninggalan raja terdahulu,” jelasnya.

Di museum itu juga terdapat kereta kebesaran Arya Wiraradja yang usianya sudah hampir 1.000 tahun. Arya Wiraradja memimpin Sumenep di akhir pemerintahan Kerajaan Singasari dan membantu pembentukan Kerajaan Majapahit.

Namun demikian, kebanyakan benda bersejarah yang ada di dalam museum itu adalah peninggalan Sultan Abd Rachman, cucu Bindara Saod yang memimpin di abad ke-18, mulai tahun 1811-1854.

Di antaranya ada Al Quran yang ditulis dalam semalam oleh Sultan Abd Rachman dan kereta kuda hadiah dari Kerajaan Britania Raya.

“Sultan Abd Rachman juga yang menerjemahkan bahasa sanksekerta. Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris,” katanya.

Tidak semua bangunan keraton boleh dikunjungi oleh wisatawan. Bangunan yang menjadi tempat tidur para raja dibiarkan tertutup. Wisatawan hanya diizinkan melihatnya dari luar dengan cara mengintip di jendela kaca.

Terakhir, wisatawan diarahkan ke Taman Sare. Biasanya, wisatawan cuci muka di taman yang disebut sebagai tempat pemandian Potre Koning itu. Diyakini, air yang terdapat di kolam itu bisa membuat awet muda dan didekatkan dengan jodoh.

Itulah fakta menarik yang melingkupi keberadaan Keraton Sumenep. Pada tanggal 27-31 Oktober 2018 nanti, Sumenep akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan puncak acara Forum Silaturahmi Keraton Nusantara. (waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *