oleh

Bisik-Bisik di Kamar Mandi

“Aku ingin jadi pejabat”

“Aku ingin jadi rakyat”

“Sudah, sudah kita sekarang berpikir cara menjadi manusia” seseorang seolah mencoba menengahi.

***

Mula-mula sebelum aku pindah dari kontrakan dekat kereta api itu, aku terjerat kasus dengan si pemilik rumah. Tagihan tahun lalu yang sudah kubayar tidak diakuinya, si pemilik rumah tetap bersikukuh bahwa aku tidak lunas. Padahal, aku bersumpah demi tuhan yang selalu Esa aku sudah bayar. Puluhan lembar uang yang kubungkus dengan amplop cokelat. Entah karena lupa atau alasan lain, si pemilik rumah tetap menagihku hampir tiap hari dan kadang-kadang aku merasa jengkel juga. Maka setiap dia datang untuk menagih rasanya adu mulut selalu terjadi. Sungguh aku tidak menginginkan itu, tetapi karena ini berhubungan dengan hak-hakku.

“Sudah, pak, untuk yang tahun kemarin sudah kubayar bulan lalu.”

“Matamu!” dia mengumpat.

“Waktu itu uangnya saya bungkus pakai amplop cokelat” mataku mulai panas.

“Aku sudah tua tapi tidak pikun.”

Akhirnya aku mengalah, setelah seminggu berturut-turut si pemilik rumah datang dan menagih. Aku memilih pindak ke indekos ini yang kebetulan lebih dekat dengan tempat kerjaku. Bekerja sebagai editor di salah satu penerbit tidak begitu melelahkan. Berangkat sebelum subuh dikumandangkan dan pulang ketika sepotong senja sudah menepi di barat. Oh tidak-tidak, sepotong senja hanya ada dalam cerpen.

Bekerja sebagai editor di sebuah percetakan membuatku sering mangut-mangut dan senyum sendirian. Bagaimana tidak, hanya di tempatku ini aku bisa menemukan sesuatu yang istimewa meski tidak melihat langsung; seseorang yang dengan romantis mengirimi pacarnya sepotong senja setelah melewati perjalanan yang melelahkan, atau dua sejoli yang bercinta di atas perahu cadik yang terus hanyut mengikuti gelombang, atau seseorang yang selalu mengajari orang yang ditemuinya berdoa dengan cara paling benar. Dan itu, hanya kulihat dan kunikmati dari naskah-naskah yang masuk ke mejaku.

Sementara setelah tiba di indekos ini aku merasa apa yang kualami di tempat kerjaku tidak ada apa-apanya. Kamarku yang bersebelahan dengan dua kamar mandi yang berhadap-hadapan menyuguhkan kejadian mengerikan. Setiap malam dari kamar mandi itu terdengar suara-suara seperti percapakan kecil dan sesekali diselingi perdebatan.

“Menjadi pejabat itu enak, tiap hari aku bisa makan uangmu.”

“Kalau begitu aku tidak akan pernah memilihmu.”

“Sudah-sudah, dilarang berdebat di kamar mandi,” lagi-lagi yang satu pasti melerai percakapan yang hampir selalu berujung perdebatan.

Ke tempat kerjaku aku masuk seperti biasa, hari ini hanya ada satu file naskah yang harus kuedit sebelum proses percetakan. Aku bergidik setelah membaca dan tiba di bab yang menceritakan seseorang yang mati mengenaskan. Seorang yang mati di kamar mandi dengan kelamin terpotong, kemudian dikubur secara diam-diam. Mataku tertuju pada layar komputer, sementara isi kepala terbang jauh ke kamar mandi sebelah kamarku. Aku berhasrat untuk mengubah alur cerita ini, semisal yang mati itu hidup kembali dan kelaminnya kembali utuh atau paling tidak seseorang itu tidak pernah mati di kamar mandi. Dengan begitu ceritanya tidak akan begitu mengerikan meski tidak akan berubah menjadi roman picisan.

Setelah hari keempat puluh, percakapan-percakapan di kamar mandi itu lebih mengerikan. Dan sampai saat ini, aku tidak akan pernah menanyakan sama pemilik indekos ini apa yang sebetulnya terjadi. Awalnya aku menganggap semua itu hanya halusinasiku tersebab sering membaca karya fiksi.

“Ayah kita kejam, ya?”

“Iya, dia sengaja membuang kita di sini”

“Sudah, tidak bosan berdebat melulu?,” sama seperti biasa yang satu pasti melerai yang lain.

***

Kami hidup bertiga di kamar mandi ini, aku sebagai yang paling tua sedikit banyak punya tanggungan. Ketika dua adikku mulaimeruncingkan percakapannya pada perdebatan, aku yang harus melerai mereka. Meski pun sepanas apa-apapun perdebatan tidak akan berujung pada pertengkaran dan saling dorong. Kami yang masih jauh dari bentuk manusia yang utuh selalu mencari jalan bagaimana cara paling ampuh menjadi manusia. Kami sebagai benih terbuang di sini, yakin bahwa berimajinasi lebih tepatnya mengkhayal adalah satu-satunya cara. Sebagaimana yang dilakukan penulis-penulis kenamaan.

Sementara manusia, mungkin tidak akan pernah mengerti dan menyangka bahwa kami juga bisa berpikir selayaknya mereka dan berbicara dengan bahasa yang hanya kami bertiga yang mengerti. Hidup di lantai dekat dengan comberan dan bau pesing, menuntut kami untuk berbicara lebih banyak tentang manusia. Kami juga menginginkan menjadi manusia yang utuh, meski itu tidak pernah menjamin kami tetap berpikir.

“Di zaman yang banyak menawarkan jabatan, membuat manusia lupa cara berpikir,” itu yang sering kukatakan pada adik-adikku yang selalu menginginkan menjadi manusia. Meski sejujurnya, aku juga ingin menjadi manusia. Sangat ingin, terlepas dari apa aku masih akan berpikir atau tidak.

***

Setelah dua bulan, akhirnya aku bertanya pada si pemilik indekos ini. Awalnya pak Karyamin yang biasa dipanggil pak Ming itu tidak berani jujur kepadaku. Setelah kupancing dengan pertanyaan-pertanyaan menjebak, akhirnya pak Ming meneceritkan semuanya.

“Sekitar setahun lalu, seseorang yang seumuran kamu selalu ngeloco dan membuang benih di situ,” pak Ming berkata sejujurnya dan tidak ada kesan dibuat-buat.

“Lantas, kemana dia sekarang?.”

“Dia mati mengenaskan, mati di kamar mandi rumahnya tepat ketika ngeloco dan membuang benih.”

“Pak Ming bukan penulis kan?.”

“Maksudmu?.”

“Bukannya cerita-cerita begitu hanya terjadi di tulisan-tulisan fiksi?.”

Dahi pak Ming mengerut, tangannya menggaruk-garuk rambutnya yamgberubam sebagian.

 

Jogja, 2020

 

Moh. RofqilBazikh lahir di pulau Giliyang dan sekarang merantau di Yogyakarta. Puisinya termaktub dalam antologi Dari Negeri Poci 9; Pesisiran (KKK;2019), Dari Negeri Poci 10; Rantau(KKK;2020), Bulu Waktu (Sastra Reboan;2018),When The Days Were Raining (Banjarbaru Festival Literary 2019), Sua Raya(Malam Puisi Ponorogo; 2019), Membaca Asap(Komunitas Seni Sunting Riau) Segara Sakti Rantau Bertuah(Kepri 2019), Surat Berdarah di Antara Gelas Retak(2019), Dongeng Nusantara Dalam Puisi (2019), Bandara dan Laba-Laba(Dinas Kebudayaan Provinsi Bali;2019). Saat ini sudah menulis puisi di pelbagai media cetak dan online antara lain; Minggu Pagi, Harian Merapi, Harian Rakyat Sultra, Bali Pos, Analisa, Pos Bali, Suara Merdeka, Banjarmasin Post, Malang Post, Radar Malang, Radar Banyuwangi, Radar Cirebon, Radar Madura, Cakra Bangsa, BMR Fox, Radar Jombang, Rakyat Sumbar, Radar Pagi, Kabar Madura, Takanta.id, Riau Pos, NusantaraNews, Mbludus.com, Galeri Buku Jakarta, Litera.co, KabarPesisir dll. Tahun 2019 menghadiri Seminar Internasional Sastra Indonesia di Bali.

Komentar

News Feed