BMKG Sumenep: Puncak Kemarau, Potensi Kekeringan dan Kebakaran

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IMAM MAHDI) WASPADA:Masyarakat Sumenep diimbau hati-hati pada puncak musim kemarau.

KABARMADURA.ID, SUMENEP -Gelombang atmosfer ekuator rosbi diprediksikan sudah melemah di bulan Juli. Dengan melemahnya tersebut. Maka kemarau basah sudah menurun. Kondisi itu nantinya akan berganti pada musim kemarau yang sangat panas. Puncak musim panas diprediksikan terjadi pada Agustus 2021 mendatang.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumenep Usman Kholid, puncak musim kemarau diperkirakan akan terjadi pada Agustus 2021 mendatang. Dengan demikian, potensi kekeringan dan kebakaran akan terjadi.

“Hati-hati pada masyarakat, agar tidak membakar sampah di sembarangan tempat,” katanya, Minggu (4/7/2021).

Menurutnya, musim kemarau memang memberikan dampak kekeringan , kurangnya persediaan air termasuk juga kebakaran. Kebakaran itu bisa saja kebakaran hutan dan lahan termasuk juga pemukiman penduduk. “Bagaimana cara mengantisipasi kemarau ini agar tidak menimbulkan bencana seperti kebakaran merupakan tugas masyarakat agar senantiasa waspada,” ucap dia.

Ia juga mengingatkan pentingnya koordinasi yang baik antar sektor dalam menyiapkan data yang memadai untuk menghadapi kemarau. Potensi bencana kekeringan yang dikhawatirkan melanda Kabupaten Sumenep di antaranya, kekurangan air bersih, kematian ternak akibat kekurangan air, penebangan pohon secara ilegal, dan bencana sosial lainnya.

“Kewaspadaan perlu dilakukan sejak dini,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep Abd. Rahman Riadi mengatakan, puncak musim kemarau sangat berpotensi untuk terjadinya kekeringan serta kebakaran. Diantaranya, kering kritis, kering langka, dan kering terbatas.

Pada tahun 2020 sudah menelan dana senilai Rp90 juta lebih dalam satu tahun. Dana tersebut dilakukan droping air bersih pada daerah terdampak kekeringan. Tahun ini masih direncanakan.

“Meski ada bantuan dari pemerintah. Maka, masyarakat saat ini perlu mempersiapkan diri. Agar pada saat musim kemarau tidak kerepotan,”ucap dia.

Dikatakannya, jika berpedoman pada tahun 2020 lalu. Sebanyak 29 desa pada 10 kecamatan, 16 desa di antaranya alami kering langka, 11 desa kering kritis, dan 2 desa lainnya mengalami kering terbatas. Salah satu desa yang akan mengalami kering kritis adalah Desa Montorna dan Prancak Kecamatan Pasongsongan.

“Pada tahun ini diprediksi akan lagi terjadi kekeringan. Sebab, dalam setiap tahun menjadi langganan kekeringan pada musim kemarau,” pungkasnya. (imd/mam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *