BOR Covid 19 RSUD Syamrabu Tinggal 37 Persen

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FA'IN NADOFATUL M.) PEMERIKSAAN: Petugas dari kesehatan mengambil sampel melalui rapid tes antigen

KABARMADURA.ID, BANGKALAN– Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Bangkalan, diakui Satgas Covid-19 Bangkalan menunjukkan angka penurunan Bed Occupancy Ratio (BOR) hingga 50 persen. Kini tempat tidur rumah sakit hanya terisi 37 persen atau 78 pasien Covid-19 dari kapasitas yang disediakan sebanyak 221 tempat tidur.

Humas Satgas Covid-19 Bangkalan Agus Zein mengatakan, penurunan terus terjadi sejak 10 Juli 2021 lalu. Dimana BOR masih 68 persen, 15 Juli turun lagi menjadi 60 persen. Berlanjut pada 20 Juli BOR menjadi 51 persen dan pada 23 Juli menjadi 42 persen.

Bacaan Lainnya

“Update data 25 Juli BOR sudah 37 persen. Pasien di ICU 8 pasien dengan suspek Covid-19,” katanya, Senin (26/7/2021).

Dia mengungkapkan, penurunan BOR rumah sakit ini bukan karena masyarakat takut untuk berobat ke fasilitas kesehatan. Melainkan, memang ada penurunan kasus. Sebab, ketika lonjakan masyarakat sudah takut berobat. Tetapi BOR rumah sakit hampir 90 persen ketika lonjakan wabah Covid-19 di Bangkalan usia lebaran lalu.

“Dengan kondisi yang sama masyarakat juga takut dicovidkan sehingga enggan ke rumah sakit, tapi faktanya BOR RSUD juga pernah 90 persen lebih, apa tidak tambah kelimpungan kalau sampai penuh,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan Rizkiyah Nuni mengatakan, meski kasus melandai, testing dan tracing tetap dilakukan. Terlebih Kabupaten mendapatkan target testing sebanyak 2.150 orang per hari.

Sejauh ini antusias masyarakat untuk dilakukan testing tersebut masih minim. Dimana masih ditemukan masyarakat yang enggan rapid test antigen karena takut dicovidkan. Pihaknya menyerahkan testing itu ke masing-masing puskesmas dan kecamatan.

“Dengan target yang mencapai dua ribu testing perhari, tentunya setiap puskesmas juga kami target. Data testing hari ini saya belum dapat informasi,” terangnya menjelaskan kendala testing.

Testing yang dilakukan setiap hari itu dengan menggunakan pemeriksaan rapid test antigen. Namun, tidak menuntut kemungkinan juga dilakukan menggunakan swab PCR sesuai permintaan masyarakat, khususnya warga yang hasil Rapid tes antigennya reaktif.

“Testing ini gratis, masyarakat tidak dipungut biaya. Rata-rata di puskesmas minimal sehari 50 orang. Tapi masing-masing puskesmas berbeda ya jumlahnya,” ungkapnya, sambil berharap agar masyarakat sadar dengan ikut berpartisipasi  menjalani testing.

“Apabila ada keluarganya yang terinfeksi Covid-19, harus mau dilakukan testing dan tracing dari pihak Puskesmas. Sehingga bisa memutus mata rantai penyebarannya,” tandasnya. (ina/bri)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *