oleh

BPBD Sumenep Hanya Menarget 5 Desa Tangguh Bencana

Kabarmadura.id/SUMENEP-Desa Tangguh Bencana  (Desatana) di Kabupaten Sumenep hanya difokuskan pada  lima desa. Padahal, mestinya semua desa mendapat perlakukan yang sama. Yakni, memperoleh pemahaman tentang pencegahan terhadap bencana yang tanpa diduga-duga.

Kapala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep  R. Abd. Rahman Riadi, menjelaskan ada  lima desa yang mendapat perhatian serius untuk penanggulangan bencana. Itu meliputi di Kecamatan Batuputih, Kota, Saronggi, dan Kalianget.

“Ya, kita untuk mengupayakan penangannan bencana selama ini masih dalam proses memberikan pemahahan. Itu terkait apa yang harus dilakukan untuk desa-desa yang rawan bencana. Destama meliputi 5 desa, yaitu Bulaan Kecamatan Batuputih; Desa Babalan Kecamatan Kota; Desa Langsar Saronggi; Desa Kertasada Kecamatan Kalianget; dan kelima itu saya lupa,” ujarnya.

Dalam pelakanaannya, pihaknya mengaku akan meberikan asesmen terhadap sejumlah desa-desa yang rawan bencana baik bencana banjir, kekeringan, longsor, dan gempa yang seringkali terjadi di kabupaten sumenep.

“Untuk penguatan kapasitas itu kita bisa mulai dari relawan dan semua distuktur desa. Kita sekarang ada Forum Penanganan Resiko Bencana (FBRB) di tingkat desa, dan kita latih mereka bagaimana ketika terjadi gempa. Sehingga, masyarakat bisa mendeteksi dalam menghadapi bencana ketika datang, ” ungkapnya.

Diterangkan, BPBD Sumenep baru turun lapangan ketika sudah terjadi  fenomena alam. Padahal, sejatinya sosialisasi harus digalakkan ke setiap desa yang ada di Sumenep.

“Kalau kita sudah menguatkan sejak awal dilakukan di tingkat desa, baik bagaimana cara mengevakuasi korban, memberikan pelingdungan, dan pendataan pasca ada fenomena alam,” ujarnya.

Termasuk pula, pihaknya memastikan pada triwulan ke enam akan melakukan simulai destana di lima titik tersebut.

“Kita hanya memiliki fasilitasi, bukan anggaran untuk gaji ini dan itu, ya, hanya sosialiasasi itu kita ada anggarannya untuk desatana”jelasnya.

Ukurannya, desa bisa melakukan Desatana. Yakni, desa harus bisa mendeteksi kapan bencana itu biasa terjadi. Selanjutnya, memiliki kemampuan utuk merencanakan. Endingnya, mampu meberikan simulasi bencana. (mun/nam)

Komentar

News Feed