oleh

BPJS Kesehatan Sumenep Gagal Capai Target Kepesertaan

Kabarmadura.id/Sumenep--Kantor Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di Sumenep terlihat sepi. Hal itu tidak lepas dari rendahnya minat masyarakat untuk mendaftar dalam kepesertaan BPJS Kesehatan.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kabupaten Sumenep Bambang Sanyoto mengatakan, masih banyak warga yang tidak mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS Kesehatan. Padahal pihaknya ditarget untuk mengikutkan seleuruh warga Sumenep dalam kepesertaan jaminan kesehatan itu.

Dirinya mengungkapkan, berdasarkan data yang dimiliki, jumlah penduduk Sumenep yang sudah memiliki KTP-e sebanyak 1.134.129 jiwa. Sedangkan jumlah kepesertaan saat ini masih 68,93 persen atau 781.760. Dari jumlah itu, diketahui penduduk yang tidak mendaftar sebanyak 352.369 jiwa.

Dia berharap, masayarakat memiliki kesadaran untuk mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS Kesehatan. Alasannya, demi jaminan kesehatan ketika suatu saat membutuhkan biaya pengobatan.

“Kami masih berfikir agar capaian kepesertaan banyak hingga mencapai target,” katanya, Kamis (10/9/2020).

Dirinya melanjutkan, selain berharap jumlah kepesertaan meningkat, pihaknya juga berharap kesadaran masyarakat dalam memenuhi tanggung jawab pembayaran iuran kepesertaan juga ditingkatkan.

Sebab diakuinya, sejauh ini kesadaran masyarakat dalam membayar iuran wajib setiap bulan masih rendah. Bahkan, tidak sedikit yang menunggak pembayaran dengan jangka waktu lama setelah selesai memfungsikan kartu BPJS kesehatan.

“Setelah terdaftar, masyarakat juga harus tertib dalam hal pembayarannya,” ujarnya.

Dirinya berjanji, akan terus melakukan sosialisasi pada masyarakat akan pentinganya menjadi peserta BPJS Kesehatan. Sebab lanjut dia, kepesertaan BPJS Kesehatan sangat membantu masyarakat dalam mendapatkan layanan kesehatan.

“Jika tidak ikut maka akan rugi,” imbuhnya.

Sementara itu, Aida warga asal Kecamatan Bluto Sumenep mengaku sampai saat ini pihaknya masih belum mengurus BPJS Kesehatan. Alasannya, merasa tidak penting. Bahkan dirinya menilai kepesertaan BPJS Kesehatan hanya membebani keuangan keluarga, lantaran iuran yang dipatok cukup mahal. Sedangkan, kebutuhan sehari-harinya masih ditentukan dari hasil tani.

“Saya takut tidak ada uang untuk dibayar iuran setiap bulannya,” pungkasnya.

Diketahui, berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 64 Tahun 2020, tarif baru iuran BPJS Kesehatan untuk peserta kelas 1 sebesar Rp150.000 per bulan. Kemudian, peserta kelas 2 sebesar Rp100.000 per bulan, dan kelas 3 Rp42.000 per bulan.

Khusus perserta kelas 3 BPJS Kesehatan hanya wajib membayar Rp25.500 per bulan, sisanya sebesar Rp16.600 akan dibayar oleh pemerintah. (imd/pin)

Komentar

News Feed