Budayawan D. Zawawi Imron: Kemandirian Pesantren adalah Kultur Sejarah

(KM/FATHOR RAHMAN) SARASEHAN: Kabar Madura menghadirkan budayawan D. Zawawi Imron, Kabid PD Pontren Kanwil Kemenag Jatim Nur Ibadi dan Dekan FEBi IAIN Madura  Zainal Abidin dalam membincangkan perkembangan bisnis pesantren di Madura di Pendapa Agung Ronggosukowati, Pamekasan, Rabu (8/6/2022).

KABARMADURA.ID | PAMEKASAN-Sarasehan dan launching buku Potret Bisnis Pesantren di Madura di Pendapa Agung Ronggosukowati Pamekasan, Rabu (9/6/2022), membuka wawasan bahwa penguatan ekonomi santri sebenarnya sudah dilakukan sejak dahulu oleh kiai di Madura.

Hal itu terungkap setelah diperbincangkan di depan peserta sarasehan oleh seniman dan budayawan nasional, D. Zawawi Imron.

Dalam kegiatan yang digelar Kabar Madura Group itu juga menghadirkan pembicara dari perwakilan Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Jawa Timur, dalam hal ini kepala bidang (kabid) Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kanwil Kemenag Jatim H. Nur Ibadi.

Bacaan Lainnya

Kemudian Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis IAIN Madura Dr. Zainal Abidin, M. E. I, dengan dipandu moderator Ibnu Hajar yang juga budayawan sekaligus penulis.

Sarasehan itu juga dihadiri sejumlah pejabat teras di Pamekasan, seperti Wakil Bupati Pamekasan Fattah Jasin, Kepala Kemenag Pamekasan Mawardi dan sejumlah perwakilan dari sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di Pamekasan.

Selain itu, launching dan sarasehan dihadiri langsung oleh Direktur Utama Polana Bola Madura, Zaihul Haq dan sejumlah pelaku usaha dan aktivis di Pamekasan.

Pada kesempatan itu, D. Zawawi Imron menyampaikan sejarah kehidupan dan konsep ekonomi kiai terdahulu. Puluhan tahun lalu, orang Madura dilarang meminta-minta. Hal itu juga diajarkan oleh para kiai sebagai upaya penguatan ekonomi secara mandiri.

“Jadi penguatan mandiri pesantren sebenarnya relevan dengan sejarah. Dulu, ditekankan penguatan ekonomi pada pribadi masing-masing,” kata D. Zawawi Imron.

Budayawan asal Sumenep itu juga mengapresiasi terbitnya buku Potret Bisnis Pesantren di Madura. Karena menjadi pemantik semangat untuk pesantren menguatkan bisnis pesantren. Sehingga bisa kembali pada sejarah ekonomi santri di Madura puluhan tahun lalu.

Menurutnya, tulisan dalam buku Potret Bisnis Pesantren di Madura yang cukup singkat dan padat, akan menjadi daya tarik tersendiri kepada peneliti. Dengan demikian, maka bisnis pesantren yang sudah berkembang digali secara detail.

Sedangkan menurut Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis IAIN Madura, Dr. Zainal Abidin M. E. I, terdapat program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) IAIN Madura. Program itu diyakin relevan dengan peningkatan ekonomi masyarakat. Sehingga, pihaknya mendukung program bisnis pesantren.

“Kami memiliki peran pesantren dalam penguatan bisnis pesantren. Kami sangat mendukung kegiatan itu,” tegas Zainal.

Sementara itu, Kabid PD Pontren Kemenag Jatim Drs. H. Nur Ibadi, MM menyampaikan, di Jawa Timur terdapat 6.300 pesantren yang tercatat. Sehingga, pihaknya mendukung dengan kegiatan pengembangan bisnis pesantren yang digagas Kabar Madura tersebut.

“Kami sangat mendukung kegiatan ini. Sinergi dengan program yang dilakukan Kemenag Jatim,” katanya.

Dia mengungkapkan, Kemenag Jatim merealisasikan sejumlah program khusus untuk pesantren. Seperti transformasi digital yang bersentuhan langsung dengan pesantren. Termasuk literasi digital kepada pesantren.

“Kami menargetkan satu pesantren satu produk. Sehingga melahirkan pesantren mandiri.  Sebanyak satu juta santri dan melahirkan banyak peluang. Mengubah sosial kapital menjadi ekonomi kapital,” ucap Nur Ibadi.

Reporter: Fathor Rahman

Redaktur: Wawan A. Husna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.