oleh

Bukan Sekadar Tempat Belajar-Bermain

Peresensi: Muhammad Itsbatun Najih*

Selain pandemi Covid-19, problem manusia kini dan nanti, berkutat pada isu lingkungan. Pemanasan global serta aneka bencana alam; menyorongkan kontemplasi kalangan sepuh (baca: boomers dan milenial) saat mewariskan problem tersebut kepada anak-anaknya. Bisakah mereka yang kini berusia di bawah enam tahun itu, kelak sanggup melakukan perbaikan kondisi bumi?

Buku pengayaan untuk pendidikan bocah ini bisa dikatakan menawarkan kebaruan; sekaligus fakta ironis. Pendidikan PAUD meski dalam beberapa tahun terakhir, mengalami gegap gempita, tapi sayangnya minim perhatian dari pemerintah. Hal itu bisa dilihat pada program Wajib Belajar oleh Negara yang dimulai dari usia enam tahun, tingkat sekolah dasar. Padahal, usia 0-6 tahun merupakan usia emas (golden age). Mestinya, wajib belajar dimulai sedari usia PAUD.

Sememangnya kini, sekolah PAUD berdiri di kota dan desa. Karena bersifat mandiri, PAUD berhilir pada ragam tipikal dan rupa; bersangkut bujet, terutama. PAUD di desa tampak terlihat ala kadar; tentu berbeda PAUD di kota yang gurunya bertitel beserta ruang kelas yang megah. Konsekuensinya, terdapat PAUD murah dan PAUD yang SPP-nya setara uang kuliah satu semester.

Meskipun sekolah PAUD sudah banyak dijumpa dan kecenderungannya kian diminati, sayangnya, kita mendapatkan bahwa hampir kesemuanya menerapkan program pembelajaran seragam, monoton, konvensional. PAUD sekadar mengajak bocah bernyanyi-bermain sambil belajar. Boleh jadi, hal semacam ini bisa saja didapat di rumah si bocah dan lingkungan bermainnya. Walhasil, kiranya bakal tampak sama kualitas dengan bocah yang tidak bersekolah PAUD saat memasuki sekolah dasar.

Karena itu, buku ini menyorongkan kepada pengelola PAUD untuk membuat semacam penjurusan; PAUD yang punya kekhasan/ber-tagline. Sehingga, lepas dari PAUD yang berciri khas tersebut, bocah diandaikan berpunya mentalitas-kesadaran dan pengetahuan dasar atas suatu isu. Beberapa isu yang relevan disodorkan buku ini, semisal PAUD Antikorupsi. Disertai rincian konsep dan program pembelajaran antikorupsi, buku ini memberikan argumen bahwa kesadaran antikorupsi mesti tertanam kuat di usia sedini mungkin sebagai cara ampuh memutus mata rantai banalitas KKN di negeri ini yang kadung “membudaya”.

Begitu pun sorongan membentuk PAUD Tanggap Bencana atau PAUD Adiwiyata. Bocah-bocah dibekali pemahaman pelestarian lingkungan menyesuaikan tingkat penalaran mereka. Problem lingkungan pada hari kian menampakkan proses destruktif; pemicu timbulnya suatu bencana. Kebakaran lahan-hutan, banjir, tanah longsor menandakan alam sudah tidak bisa menoleransi ulah pembalakan dan eksploitasi sumber daya alam. Dan, para bocah pada hari ini telah merasakannya. Celakanya, bencana-bencana tersebut boleh jadi kian intens terjadi ke depannya.

Buku yang disusun tiga pemerhati anak ini, mengklaim menyajikan hal baru yang belum dijumpa pada literatur sejenis. Perbincangan PAUD dalam referensi ilmiah masih bergerak di ranah mikro dan parsial: metode, strategi, dan media pembelajaran (hal: 22). Inovasi PAUD yang dimaksud buku ini adalah, adanya sistematisasi perancangan pembelajaran bersifat mikro dan diluaskan pada aspek makro; menyangkut pembaharuan kurikulum (up to date), kompetensi pengajar, hingga sarana-prasarana macam desain gedung dan kelas.

Ada banyak jenis lembaga PAUD: Taman Kanak-kanak (TK), Bustanul Athfal (BA), ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA), Raudlatul Athfal (RA), dan TK Islam Terpadu (TKIT). Banyaknya jenis PAUD tersebut seyogianya menampilkan ciri khas atau program unggulan. Di samping sebagai pembeda antarsekolah PAUD, adanya spesialisasi/program kejuruan diharap memberikan pembekalan karakter yang bakal menubuh dalam tumbuh kembang si bocah pascaPAUD. Sehingga keluaran/out put yang bisa diharap saat mereka duduk di bangku sekolah dasar, di antaranya: cerdas menggunakan uang saku, tidak jajan berlebih, hingga pantang menjadikan permakluman mencuri mangga tetangga sebagai kenakalan bocah.

Tujuan perlunya mengejawantahkan pelbagai inovasi sekolah PAUD di atas, lantaran para bocah kini, 40-50 tahun lagi, merupakan presiden, para menteri, hakim, insinyur, epidemiolog, yang bakal memperbaiki kondisi karut-marut yang telah diwariskan kepadanya saat ini (hal: 100). Tanpa upaya serius melakukan inovasi pembelajaran PAUD, sekolah PAUD tak lebih seperti tempat penitipan anak. Buku ini berpesan menohok: agar membekali pendidikan terbaik di usia emas sebagai tebusan dosa atas kelakuan destruktif orang tua pada hari ini.

*tinggal di Kudus

Data buku:

Judul: Inovasi Pendidikan Anak Usia Dini

Penulis: Dr. Suyadi, dkk

Penerbit: Rosdakarya, Bandung

Cetakan: 2020

Tebal: 177 halaman

ISBN: 978-602-446-407-3

 

 

Komentar

News Feed