oleh

Buku Pemantik Buku-buku Lainnya

Pada zaman yang serba digital ini apakah tulisan masih menjadi hal yang penting? Karena pada faktanya banyak hal berkembang menjadi audio dan visual. Kedua hal ini dirasa lebih mudah cara menikmatinya daripada tulisan yang harus menggunakan tenaga lebih untuk mendapatkan informasinya. Audio blogging atau yang biasa disebut Podcast telah berkembang dengan berbagai platform penyedianya. Apple Podcast, Spotify, dan Soundcloud misalnya. Isinya pun beragam dan kaya akan wawasan baru. Begitu pula dengan visual baik itu film maupun video blog. Platform penyedianya juga tidak kalah banyak dan populer seperti youtube, Netflix, Iflix, dan masih banyak lainnya.

Namun meski demikian perlu diketahui jika keberadaan tulisan ternyata tidak kalah penting. Malahan jika diperhatikan dengan baik audio dan visual tadi ditopang oleh tulisan. Lebih jelasnya bisa kita lihat salah satu contoh platform bernama Indoprogress. Platform ini menyediakan podcast yang berasal dari tulisan seseorang yang dikirim ke medianya. Setelah itu tulisan tadi diubah menjadi audio lantas disajikan pada warga internet untuk dinikmati bersama-sama. Sedangkan untuk visual, contohnya adalah video yang dibuat creator seringkali menggunakan konsep yang berupa naskah. Konten youtuber terkenal Bayu Skak misalnya, atau ratusan bahkan jutaan karya novel yang difilmkan. Bahkan saking pentingnya ‘tulisan’ Prof. Djoko Saryono seorang Guru Besar Sastra Universitas Negeri Malang menulis sebuah buku berjudul Literasi, Episentrum Kemajuan Kebudayaan dan Peradaban (Pelangi Sastra: 2019). Penelitiannya mengungkapkan jika peran tulisan menjadi sangat penting adanya.

Hanya saja pada beberapa orang di Indonesia, budaya menulis sedang tidak baik-baik saja. Masih banyak yang enggan menjadi penulis. Bahkan terkadang membaca buku saja bukan menjadi kegiatan yang menyenangkan. Karena pembaca bisa dicap sebagai “orang pintar” dengan nada yang sering kali merendahkan. Apalagi jika seseorang menulis sebuah buku. Pekerjaan sunyi yang melelahkan, pun untuk mendapatkan imbalan tidak bisa dibilang mudah.

Meskipun demikian karena menulis merupakan hal yang penting. Hadirnya buku Wiwid Prasetyo sudah selayaknya kita sambut gembira. Sebuah buku yang dapat menjadi panduan menulis novel bagi para penulis pemula. Saya membayangkan Jurus Jitu Mengarang Novel Bermutu ini akan mendampingi calon-calon penulis andal yang nantinya mengharumkan nama bangsa. Agar prestasi kuantitas perpustakaan Indonesia yang tertinggi dan terbanyak akan dibarengi dengan kuantitas penulisnya juga.

Buku ini sendiri ditulis oleh Wiwid  atas permintaan CEO Hanum Publisher, Badiatul Muchlisin Asti. Tujuan awalnya digunakan sebagai modul pada kelas menulis novel. Dengan latar belakang demikian maka tidak heran jika judul yang diberikan terkesan ‘berlagak bisa’ dengan pilihan diksi yang saya katakan tidak nyastra, Alih-alih liris. Bukankah karya sastra sangat lekat dengan gaya bahasa yang kaya akan diksi yang menarik?

Buku ini menyuguhkan pada pembaca berbagai wawasan dan teknik menulis novel. Termasuk juga motivasi agar semangat menulis lebih bergelora. Selain itu Wiwid juga membuktikan lewat pengalamannya apabila penulis bisa menjadi pekerjaan yang menjanjikan. Tentunya apabila dikerjakan dengan serius dan tekun.

Isi buku ini mengenai wawasan menulis novel bisa dikatakan sangat luas. Bermacam-macam hal dijelaskan mulai dari manfaat menulis yang ia ibaratkan menulis seperti kentut karena saking sehatnya bagi psikis (halaman 4). Menjadi penulis yang akan menambah kapasitas pelakunya karena memaksa diri untuk terus belajar (halaman 18). Hingga “konsultasi kepenulisan” yang memberi pengetahuan mengenai writing block (halaman 29), gampangnya menulis namun tidak untuk menyelesaikannya (halaman 31), ketakutan atas hasil tulisan yang tidak laku, masalah mood, dan waktu-waktu yang baik untuk menulis.

Tidak lupa dengan berbagai teknik dalam menulis novel. Bab empat hingga bab sebelas menjelaskan hal itu. Bagaimana menulis novel namun tidak melelahkan seperti Paulo Coelho saat meramu buku Sang Alkemis. Cara untuk menentukan latar belakang peristiwa novel yang harus dibuat penulis. Karakter tokoh, alur, plot, sudut pandang hingga penutup cerita.

Dalam menyajikan informasi Wiwid seringkali memberikan gambaran penulis-penulis populer. Bagaimana sang penulis bisa membuat karya yang apik dan memukau. Lalu narasi yang ia buat akan disandarkan pada kalimat yang “mengajak pembaca untuk seperti itu juga.” Beberapa tokoh yang ia kutip trik-triknya dalam membuat novel adalah Ibunda Akhiles, Paulo Coelho, Ahmad Tohari, JK Rowling, Jonru Ginting, Pramoedya Ananta Toer, Habiburrahman, dan masih banyak lagi. Dengan demikian tulisan yang dibuat dalam buku ini akan mampu menjadi suluh yang membakar spirit untuk menjadi penulis.

Hanya saja harus diakui jika buku ini juga memiliki kelemahan. Banyak penjelasan yang diberikan Wiwid hanya berhenti pada tataran informasi umum. Penyajian yang kurang mendetail akan menyebabkan calon penulis bingung untuk mempraktikkannya.

Selamat membaca!

Judul : Jurus Jitu Mengarang Novel Bermutu

Penulis : Wiwid Prasetyo

Penerbit : Hanum Publisher

Cetakan : Pertama, Juli 2019

Tebal : xii + 143 halaman

ISBN : 978-623-90396-4-6

 

 

 

 

 

Biodata

Khoirul Muttaqin, asal Kabupaten Kediri.

Facebook : https://facebook.com/bukutaqin/

Instagram : https://www.instagram.com/bukutaqin/

Youtube : https://m.youtube.com/channel/UCjNgHVQW54nwCev60cVy6Og

Komentar

News Feed