oleh

Buku Rahasia untuk Para Pengagum Sang “Profesor Cinta”

Oleh Akhmad Idris

***

Di masa pandemi seperti ini-yang lebih dianjurkan menerapkan hashtag di rumah saja-membaca buku adalah obat untuk rasa bosan yang tak terbantahkan. Membaca adalah cara ‘keluar rumah’ dengan tetap ‘di dalam rumah’, misalnya saja membaca cerpen atau esai tentang kebudayaan daerah tertentu. Selain itu, membaca adalah cara menemui orang yang tidak bisa ditemui, misalnya saja membaca biografi B.J. Habibie yang sering disebut dengan “Sang Profesor Cinta”. Buku terbitan terbaru Penerbit Republika ini bercerita tentang kehidupan B.J. Habibie mulai dari kecil hingga menjadi seorang Eyang. Uniknya, banyak rahasia-rahasia kecil B.J. Habibie dan Ibu Ainun yang dikisahkan dalam buku dengan tebal 239 halaman ini dan jarang diketahui orang.

Semua kejadian yang diceritakan dalam buku ini adalah non-fiktif-seperti yang dikatakan oleh penulis-karena diperoleh dari sumber-sumber yang dapat dipercaya, yakni dari rekan-rekan B.J. Habibie. Buku ini memang ‘terlalu tipis’ untuk disebut sebagai buku biografi-apalagi kisah hidup mulai dari masa muda hingga menua-, namun hal ini bukan tanpa alasan. ‘Ketipisan’ buku ini disebabkan oleh gaya cerita yang padat dan berisi-langsung ke inti cerita, tanpa perlu bertele-tele-dari setiap sub judul, sehingga terasa menyenangkan bagi pembaca yang tidak sabaran ingin segera mengetahui ending sebuah cerita. Rahasia-rahasia kecil kehidupan B.J. Habibie yang diungkap dalam buku ini meliputi kecerdasan beliau dalam mengambil keputusan yang terkadang juga disertai unsur kelucuan, kesederhanaan beliau dalam kehidupan, tingkah lucu beliau, dan rahasia Ibu Ainun dalam dunia perfilman.

Kecerdasan dalam Mengambil Keputusan

Kecerdasan B.J. Habibie memang tak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya, tapi kisah-kisah kecerdasannya dalam memecahkan masalah selalu menarik untuk diceritakan. Satu di antaranya ketika B.J. Habibie berhasil meyakinkan perusahaan di Jerman untuk menerima beberapa lulusan insinyur dari Indonesia. Satu hal yang menjadi tanda tanya besar dalam hal ini adalah bagaimana cara B.J. Habibie meyakinkannya, padahal di Jerman juga tidak kekurangan tenaga kerja andal. Rahasianya ternyata sederhana, B.J. Habibie hanya memberikan jawaban singkat ketika ditanyai pimpinan perusahaan ihwal jaminan kehebatan teman-teman B.J. Habibie. Jawaban itu adalah “Mereka itu pintar-pintar, bahkan lebih pintar dari saya. (halaman 49) Sontak saja, sang pemimpin perusahaan langsung menyetujui tanpa bertanya lagi; sebab jika satu B.J. Habibie saja sudah sehebat ini, apalagi jika beberapa orang yang lebih hebat darinya. Dan masih banyak kisah lainnya lagi tentang kecerdasan-yang sedikit lucu-B.J. Habibie dalam menyelesaikan masalah dalam buku ini.

Kesederhanan dalam Kehidupan

Hal lain yang layak dikagumi dari B.J. Habibie-selain kecerdasannya-adalah kesederhanaannya. Pernah suatu kali ketika dalam perjalanan menuju Jerman-hendak belajar di sana-, B.J. Habibie berhenti di Belanda terlebih dahulu. Di Belanda B.J. Habibie menginap di Hotel Amstel di Jalan Professor Tulpplein Amsterdam. Saat duduk sendirian di tengah malam, B.J. Habibie didekati oleh seseorang dari Amerika yang bertanya, “Kamu datang dari mana?”. B.J. Habibie menjawab, “Saya orang Indonesia”. Orang Amerika bertanya lagi, “Ayahmu punya apa?”. B.J. Habibie menjawab dengan sederhana tanpa rasa sakit hati, “Saya tidak punya apa-apa. Saya mau belajar di Jerman”. (halaman 42) B.J. Habibie tak menghiraukan kepongahan dan cara penilaian orang Amerika tersebut, sebab keinginan B.J. Habibie berangkat ke Jerman hanya satu, yakni belajar. Kesederhanaan lainnya juga terefleksi dari cara B.J. Habibie bekerja selama menjadi Penasihat Presiden, Menteri, atau Presiden yang dapat dibaca dengan asyik dalam buku ini.

Lucu bin Ngakak Kisah B.J. Habibie

Kisah-kisah lucu bin ngakak dalam buku ini juga tak bisa dilewatkan begitu saja. Salah satunya ketika B.J. Habibie dan Ir. Sofyan Helmi Nasution sedang berada di ruang tunggu Konsulat Amerika di Hamburg. Mereka sedang menunggu panggilan antrean untuk mendapatkan visa kunjugan ke New York. Sembari menunggu dipanggil, B.J. Habibie melihat orang-orang di sekitarnya lalu berbisik kepada Sofyan, “Orang di depan kita ini, wajahnya mirip Arab”. Selang beberapa saat, ketika orang berwajah Arab itu dipanggil ternyata orang itu bernama Cahyadi. B.J. Habibie dan Sofyan saling berpandangan yang disertai bisikan B.J. Habibie, “Kok ada orang berwajah Arab tapi ternyata namanya nama Indonesia?”. Selang beberapa saat, giliran nama B.J. Habibie yang dipanggil. Orang berwajah Arab di depan mereka pun kaget. Mungkin di dalam hatinya, “Kok ada orang Indonesia yang namanya seperti nama Arab?”. (halaman 52) Masih banyak lagi kisah-kisah lucu lainnya yang bisa membuat pembaca tersenyum sendiri di dalam buku ini.

Rahasia Mengejutkan Ibu Ainun dalam Dunia Perfilman

Hal mengejutkan lainnya dari buku ini adalah fakta bahwa ternyata Ibu Ainun sangat menyukai salah satu sinetron di TV Swasta, hingga Ibu Ainun membuat sebuah catatan kritis untuk Produsernya mengenai alur ceritanya. Kabarnya, kritikan Ibu Ainun direspons dengan baik oleh Produser dan beberapa alur cerita terpaksa diubah. Akhirnya, hubungan Ibu Ainun dan pengelola sinetron semakin akrab dan harmonis. Saking akrabnya; ketika menjalani terapi rutin di luar negeri, Ibu Ainun diberikan sebuah DVD yang berisi episode-episode yang belum tayang agar tetap dengan bebas menonton sinetron favoritnya dan tetap bisa memberikan catatan-catatan kritis. (halaman 192) Sinetron apakah itu? Tak etis rasanya jika diungkap secara rinci dalam tulisan ini, sehingga satu-satunya cara untuk mendapatkan jawabannya adalah membaca bukunya.

Judul               : Inspirasi Habibie: Kisah-Kisah Serius Tapi Santai Mr. Crack

Penulis             : A. Makmur Makka

Penerbit           : Penerbit Republika

Cetakan           : I, Februari 2020

Tebal               : 239 halaman

ISBN               : 978-623-745-846-3

Komentar

News Feed