oleh

Bunga-Bunga Perantau

Oleh: Khoirul Anam

Di sebuah dusun, terdapat rumah berdinding bilik yang mulai rapuh termakan rayap. Di sana seseorang duduk menghadap timur di atas dipan beranda rumah—sendiri. Sudah dua tahun dia kesepian, hingga satu hari menurutnya bagai seribu tahun yang tak ada arti. Matanya selalu berkaca-kaca jika berandai-andai. Semua andai yang bisa menjadi nyata hanya satu. Menunggu kepulangan seseorang.

Bi Sarni, begitu orang di desa memanggilnya. Dia seorang janda tua yang ditinggal suaminya lima belas tahun lalu. Sepeninggalan mediang suaminya, dia tidak pernah mau menikah lagi dengan lelaki mana pun. Bukan berarti tidak ada yang bersedia menikahi janda seperti dia. Bahkan lelaki dari desa sebelah menghapiri rumahnya, tapi semua pinangan itu dia tampik. Tidak alasan lain kecuali cintanya kepada Kasim, suaminya.

Bukanlah hal yang tidak mungkin, jika Sarni, si kembang desa masih mempertahankan status jandanya. Hal yang wajar bila wanita seumuran Sarni waktu itu bisa menikah lagi. Bahkan masih memerlukan beberapa sentuhan-sentuhan di kala malam tiba. Namun dia memilih jalan lain—tidak menikah lagi.

Haram baginya menghianati suaminya. Kasim sebagai suami selalu mempertaruhkan nyawanya sebagi sebuah wujud kesetiaan. Banyak sekali kegaduhan di desanya, salah satunya adalah dari kesekian pemuda yang ingin menikahi Sarni. Suatu waktu terjadi pertengkaran hebat di pasar Durjan, lantaran Sarni yang sedang berbelanja di sentuh bagian paha juga payudaranya. Orang itu memanfaatkan kesempatan karena kondisi pasar selalu sesak oleh pembeli.

Pada hari rabu, pasar yang hanya ada seminggu sekali itu gaduh. Satu-dua dagangan berserakan. Sarni mengadu pada Kasim yang menunggu di parkiran. Tanpa pikir panjang, dia langsung meluluh lantahkan orang yang di tunjuk Sarni.

Namun selepas kejadian itu, nasib buruk menimpa Kasim. Tengah malam, desa yang sepi hanya tersisa deritan pepohonan dan kesiur angin, sisanya sorak-sorai warga yang sedang menonton pertandingan bola saat meronda. Dua orang menggeledah rumahnya. Mulyadi, anaknya yang berumur empat tahun masih terlelap. Sedangkan Kasim, lehernya sudah disabit arit—hampir saja putus.

Erangan Sarni berhasil memanggil seluruh warga datang ke rumahnya. Dia hampir saja di perkosa paksa. Namun kedua orang itu berhasil kabur setelah ada warga yang datang. Saat itulah, dia mulai memilin kesepiannya sendiri. Kasus pembunuhan tak  kunjung terungkap, barangkali pelaku berhasil lari ke luar kota atau semacamnya.

Semua beban ada di pundak Sarni. Sebagai seorang isteri yang di tinggal suami, pun seorang ibu yang harus merawat anak semata wayangnya. Dia tetap bersikukuh untuk tinggal bersama anak-anaknya di rumah peninggalan suaminya. Beberapa kerabat hanya bisa menemuinya seminggu, sebulan, atau setahun sekali.

***

Kecemasan seorang ibu akan anaknya bisa melebihi tinggi gunung. Mulyadi, dia tubuh dewasa dengan perawakan tampan dan gagah seperti ayahnya. Dua tuhun sudah dia pergi ke tanah rantau untuk mencari rizeki di sana.

”Bu, doakan Yadi akan berangkat. Hanya tiga tahun Yadi di tanah rantau. Satu tahun sekali Yadi pasti pulang, Bu!”

Sarni tidak berkata apa-apa kecuali meridahi keberangkatan anaknya. Sebelum hari itu, anaknya berkata ingin meminang perempuan yang dia cintai. Namun, semua biaya harus dia cari dahulu.

“Setelah Yadi menikah. Yadi pasti akan menetap di sini, Bu. Desa kelahiran Yadi dari seorang ibu yang bagaimana pun takkan pernah terbalaskan jasa-jasanya.”

Mulyadi menyalami ibunya, lutut dia jatuhkan ke tanah. Sarni yang duduk di atas dipan mengusap-usap kepalanya seraya berucap, “Hati-hati, Nak. Ibu akan selalu menunggumu.”

Ya, dua tahun sudah anaknya tidak pulang. Meski uang yang dia kirimkan tidak pernah alpa pada awal setiap bulan. Namun tahun ini, Sarni mengharap sekali agar anaknya pulang. Sudah dua kali saat ramadan tidak ada buka bersama di langgar. Seingatnya, dulu sewaktu Mulyadi masih kecil. Langgar yang diampit rumah bagian selatan dan di utara terdapat kandang sapi selalu di banjir tawa renyah dari Kasim. Sebagai suami dia selalu bisa menghibur isteri dan anaknya dengan cara apa pun.

Sejak kepergian Kasim pun. Langgar tidak sepi, ada Mulyadi yang selalu menjadi anak berbakti dan penurut. Dia selalu bersedia membantu ibunya untuk hal apa pun. Tidak ada pamrih, hanya saja sekarang umurnya sudah matang. Dan wajar bila dia memiliki niatan untuk menikah dengan Fatim, wanita sepermainan yang sama-sama mengaji di langgar Ki Sobri.

Pagi ini, seminggu sebelum ramadan tiba. Tungku di dapur mengepulkan asapnya. Di sana seorang ibu sedang menstabilkan api. Bubungan sudah mulai menghitam minta diganti. Sarang sawang pun mengerami jerjak rumah. Sedangkan hewan ternaknya di kandang mengembik sejak subuh.

Sehabis mencari pakan sapi. Rabu ini dia akan pergi ke pasar. O, ya. Sudah dua minggu nampaknya dia tidak berbelanja. Di dapur hanya tersisa ikan asin dan beras jagung yang cukup untuk tiga hari ke depan saja. Dan batinnya terus gelisah. Tidak ada yang dia cemaskan kecuali keadaan anaknya di tahah rantau. Apa mungkin, kali ketiga ramadan datang anaknya tega membiarkan ibunya kesepian?

Entahlah, dia berjalan ke pasar. Tidak jauh memang dari rumahnya. Beberapa sajian buka puasa dia beli, juga sekerat daging ayam untuk menyambut hari pertama bulan suci tahun ini. Di pasar ramai sekali. Orang-orang berbelanja menu spesial. Tapi bagi Sarni, apa lebih yang berharga dari masakan lezat jika tidak ada keluarga yang melingkar di atas langgar. Menunggu kumandang azan dan bedoa bersama, lalu salat berjamaah magrib.

Pikirannya kalang-kabut, dadanya bergemuruh kencang. Cemas sekali dia, jika nanti penantiannya selama ini tidak menghasilkan apa-apa.

Matahari agak meninggi, obrolan dengan beberapa tetangga di pasar sudah dia akhiri.

“Bi, mau saya antar pulang? Sekalian, kan kita searah.”

Sarni mengangguk, kakinya mungkin masih kuat untuk menempuh perjalanan pulang. Tapi pikirnya akan lebih nyaman bila kakinya diistirahatkan. Sepulang nanti dia bisa langsung membersihkan dapur. Karena biasanya selepas berjalan pulang-balik dari pasar, dia menunggu salat zuhur dan terlelap.

Setibanya di rumah, dia melihat suasana agak berbeda. Pekarangan rumah tersapu bersih. Sapi yang selalu mengembik tengah hari tidak terdengar lagi. Dia memeriksa ke kandang. Sapinya masih ada menikmati rumput yang seperinya masih baru.

Kening keriputnya melipat, rasa aneh menyelimuti diriya. Dia menenteng belanjaan, membawanya masuk ke rumah. Tidak ada siapa-siapa, gumamnya. Namun dari arah dapur. Terdengar suara kasak-kusuk seseorang tengah merapikan perabot. Sarni lupa tidak membereskannya sebelum berangkat tadi.

Dia melangkah waswas. Takut bila mana perhiasan warisan suaminya terbongkar di bawah lincak tumpukan panci bekas.

“Yadi, benarkah engkau di sana?” Sarni mengintip punggung seseorang yang sedang merapikan tungku api dari abu-abunya. Dari belakang, dia melihatnya mirip dengan anaknya.

“Ibu….” Anak itu menghapiri Sarni, dia merendahkan bahu dan menjatuhkan lututnya di lantai tak berkeramik. Dia menyalami tangan ibunya, dalam-dalam. Tangis pecah, bersamaan.

“Maafkan Yadi, Bu. Yadi tidak ada maksud untuk tidak pulang menemui ibu. Ceritanya panjang. Nanti Yadi ceritakan.”

Sarni mengucap-usap kepala anaknya. Kedatangannya saja sudah membuat hati Sarni lega dan bisa merasakan udara segar seperti biasanya.

“Kamu tidak akan pergi ke kota lagi, kan?”

“Sehabis lebaran. Saya dan Fatim sudah sepakat untuk menikah dan bertani di sini, menemani ibu.” Sungguh-sungguh Yadi berkata meyakinkan ibunya. Satu pelukan bahagia merekat dari dua raga yang lama terpisah. Sedang jiwa mereka saling cemas satu sama lainnya dari kejauhan.

“Bu, Yadi rindu sulapan sayur murah jadi sedap masakan ibu.”

Sarni terseyum, dia mencium kening anaknya. Bunga yang sudah sekian lama ditinggal merantau, akhirnya kembali bermekaran.

 

Kutub 2020

Khoirul Anam, lahir di Sampang 2001.

Dia menulis cerita pendek. Dan saat ini merasa bersalah karena telah murtad dari perpuisian.

Pernah bergiat di Asoli (Asosiasi Literasi Indonesia) Bandung.

Sekarang tinggal di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY)

 

Komentar

News Feed