Bupati Bangkalan Imbau Bercakap Èngghi-Bhunten pada Anak

  • Whatsapp
ABDUL LATIF AMIN IMRON: Bupati Bangkalan

Kabarmadura.id/BANGKALAN-Minimnya pemakaian bahasa Madura halus dalam kegiatan sehari-hari, sangat disayangkan Bupati Bangkalan Abdul Latif Amin Imron. Sebab, kendati lembaga pendidikan menempatkan bahasa Madura sebagai muatan lokal yang wajib dipelajari oleh siswa, namun penerapannya masih cukup rendah.

Dengan begitu, lelaki berkacamata yang kerap disapa Ra Latif ini mengimbau agar seluruh masyarakat, khususnya orangtua, agar membiasakan anak untuk berbicara menggunakan bahasa Madura halus atau tingkatan èngghi-bhunten.

Ra Latif juga merasa prihatin akan lunturnya bahasa Madura halus di kalangan para remaja dan anak-anak. Bahkan, dia sempat mencontohkan bahwa anaknya sendiri tidak mengerti bahasa Madura halus.

Adebu Madurah se kasar gik sanggit (berbicara bahasa Madura yang kasar saja masih susah, red),” paparnya dalam bahasa Madura.

Dirinya juga mengakui, saat ini bahasa Madura halus mulai luntur dan jarang digunakan dalam aktivitas keseharian.

“Kita sebagai masyarakat Madura, harus membiasakan dalam sehari-hari menggunakan bahasa Madura khususnya yang halus,” tuturnya, Selasa (22/10).

Kendati di setiap sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP) diberikan muatan lokal bahasa daerah Madura halus, menurut mantan wakil ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangkalan itu, belumlah cukup.

Menurutnya, para orangtua harus juga membiasakan anak untuk menerapkan bahasa èngghi-bhunten.

“Tinggal mengaplikasikan setelah pulang ini. Sebenarnya yang dibutuhkan ketika bahasa sehari-hari di rumah. Ini yang mungkin seharusnya dipikirkan para orangtua agar anaknya menggunakan bahasa Madura halus,” ujarnya.

Sebagai bentuk langkah konkrit dalam menyelamatkan bahasa èngghi-bhunten yang mulai ditinggalkan masyarakat Bangkalan, Ra Latif menggunakan bahasa Madura halus ketika memimpin upacara Hari Santri Nasional, Selasa (22/10/2019).

Menurutnya, dalam setiap kegiatan pemerintahan, juga perlu adanya penggunaan bahasa Madura halus. Sehingga para aparatur sipil negara (ASN) juga ikut andil melestarikan bahasa ini.

“Kita sebagai masyarakat Madura, khususnya Bangkalan, harus mencintai dan membudayakan bahasa Madura. Salah satunya kita aplikasikan di upacara Hari Santri Nasional yang ke-4 ini,” ujarnya.

“Mungkin melalui kegiatan-kegiatan seperti ini masyarakat bisa ikut menjaga dan mengajarkan bahasa daerah ini kepada putra-putrinya,” pungkasnya. (ina/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *