oleh

Bupati Harapkan Dakwah yang Menyejukkan

Kabarmadura.id/SUMEMEP-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep memperingati Isra Mikraj tahun 2019 di depan Masjid Jami Sumenep, Rabu malam (3/4). Ribuan masyarakat memadati alun-alun Kota Sumenep.

Ribuan masyarakat yang tumpah ruah di sebelah barat Taman Adipura Sumenep tidak hanya warga Sumenep, melainkan dari luar Sumenep. Ribuan masyarakat ikut bersalawat bersama grup musik salawat Syubbanul Muslimin dari Probolinggo yang sengaja dihadirkan Pemkab Sumenep.

Isra Mikraj yang betlangsung dengan gemuruh salawat oleh ribuan masyarakat bersama Syubbanul Muslimin, juga dihadiri oleh Habib Achmad Novel Salim Bin Jindan dan Ustaz Yusuf Mansyur yang sengaja diundang pula oleh Pemkab Sumenep.

Bupati Sumenep A Busyro Karim dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada Habib Achmad Novel Salim Bin Jindan dan Ustaz Yusuf Mansyur karena telah hadir memenuhi undangan dan hadir di Bumi Sumekar sebagai penceramah.

“Terima kasih kami sampaikan kepada Habib Jindan dan Ustaz Yusuf Mansur. Kepada Subbanul Muslimin juga kami sampaikan terimakasih,” katanya.

Disampaikan bupati yang juga pengasuh pondok pesantren itu, pihaknya berharap bahwa dengan dakwah-dakwah yang dilakukan di berbagai tempat di Indonesia, khususnya Sumenep, benar-benar memberikan kesejukan kepada masyarakat.

Oleh karenanya, dakwah yang ada di Sumenep diharapkan merupakan dakwah-dakwah yang mendidik, dakwah yang mengobati, dakwah yang menguatkan dan dakwah yang menyejukkan masyarakat Sumenep.

“Benar-benar dakwah yang membina masyarakat, bukan dakwah yang menghina, dakwah yang mendidik masyarakat, bukan dakwah yang membidik, dakawah yang mengobati, bukan yang melukui, dakwah yang meneguhkan masyarakat, bukan yang meruntuhkan. Dakwah yang saling menguatkan, bukan yang justru dakwah yang melemahkan,” paparnya.

Ditambahkan bupati, dakwah yang ada di tengah-tengah masyarakat adalah dakwah yang mengajak, bukan dakwah yang mengejek, dakwah yang mengajar, bukan yang menghajar, dakwah yang menasehati, bukan dakwah yang mencaci, dakwah yang merangkul, bukan dakwah yang memukul.

“Dakwah yang merangkaul kekuatan, bukan yang memukul kekuatan,” tuturnya menegaskan.

Saat ini, kata mantan ketua DPRD Sumenep itu, bahwa saat ini usianya sudah tidak muda lagi. Di mana, Sumenep adalah sebuah kerajaan. Hal itu bisa dilihat dari berbagai bangunan yang ada dan merupakan ciri khas kerajaan.

“Di Sebelah timur pendapa ada mayoritas orang Arab, di sebelah baratnya pendapa mayoritas Tionghoa, dan di depan pendapa mayoritas orang Madura. Artinya, dari dulu raja di Sumenep sudah berabuat merangkul semua, bukan menghabisi. Itu demi membangun Sumenep dan bangsa,” paparnya.

Untuk itu, tambah bupati dua periode itu, harus melakukan yang terbaik untuk bangsanya. Karena kekuatan bangsa , lanjutnya, aset bangsa yang terbesar adalah kebersamaan, persatuan dan kesatuan anak-anak bangsa.

“Mudah mudahan bangsa ini terus maju dengan lindungan Allah, sehingga mampu membawa kesejahtetaan bagi semuanya,” pungkasnya. (ong/waw)

Komentar

News Feed