Bupati Pamekasan Ceritakan Kenangan saat Jadi Santri R.K.H. Abdul Hamid

  • Whatsapp
(FOTO: KM/KHOYRUL UMAM SYARIF) BERDUKA: Bupati Pamekasan Baddrut Tamam merasa kehilangan atas wafatnya R. K. H. Abdul Hamid Bin K H. Mahfud Zayyadi, pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-bata Palengaan Pamekasan.

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN – Bupati Pamekasan Baddrut Tamam sangat berduka atas wafatnya R. K. H. Abdul Hamid bin K H. Mahfud Zayyadi, Pengasuh Pondok Pesantren (PP) Mambaul Ulum Bata-Bata, Palengaan, Pamekasan.

Bagi Bupati Baddrut Taman, R. K. H. Abdul Hamid karena merupakan sosok nasionalis, panutan, dan penuh kepedulian. Bahkan dengan wafatnya kiai kharismatik itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan sampai mengelar pembacaan do’a dan tahlil bersama di 14 titik.

Bacaan Lainnya

Merasa sangat kehilangan terhadap sosok ulama nasionalis itu, karena bagi Baddrut, R. K. H. Abdul Hamid adalah ulama pewaris misi para nabi yang memberikan suri teladan dan etika yang baik.

“Beliau bukan hanya seorang ulama yang alim, fasih dalam membaca dan mamaknai kitab, serta menjelaskan makna yang terkandung dalam setiap kitab, tetapi beliau juga seorang pemimpin yang memiliki kepedulian yang mendalam kepada pendidikan, tetapi juga memilik humanisme yang luar biasa,” paparnya, Senin (18/1/201).

Kenangannya yang sangat membekas adalah saat dirinya mondok selama 3,5 tahun di PP Mambaul Ulum Bata-Bata. R. K. H. Abdul Hamid selalu memanggilnya dengan sapaan kaconk. Sapaan itu yang membuatnya sangat berkesan, serasa penuh keakraban, penuh kepedulian dan bisa mengayomi setiap santri yang mondok.

“Saya kalau ditanya sudah makan belum, kadang sudah jawab sudah makan,  itu masih disuruh makan ke dapur, dan itu yang membuat saya terkesan, dari sisi kemanusiaan dan komitmen untuk mendidik dan mengedukasi orang, yang tidak hanya pintar agama tetapi pintar lakon kehidupan dunia,” urainya.

K. H. Abdul Hamid juga dikenal sebagai pribadi yang istiqomah dalam mentransfer pengetahuan agama, memberi penyadaran terhadap pentingnya punya etika yang baik, dan mendidik penuh kesabaran, serta semangat juang dalam membentengi diri untuk merawat kesatuan dan persatuan.

“Beliau pribadi yang istiqomah, selagi tidak ada kegiatan yang lain, kalau sore mesti molang (mengajar) kitab tafsir, dan dengan sambil ada guyon-goyonnya, sehingga beberapa santri tidak hanya takut, tetapi sungkan, bangga, hormat, atas cara yang dilakukan oleh almarhum untuk mendidik santri menjadi manusia yang memiliki kesadaran yang kompleks”.ulasnnya.

Dia berharap para generasi muda bisa meneladani kepribadian yang istiqomah, berakhlaq mulia, dan berbudi pekerti yang baik.

“Saya sangat berduka atas wafatnya beliau, mudah-mudahan amal ibadahnya diterima, keluarga yang mendapatkan kesabaran” pungkasnya. (rul/waw)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *