Bupati Sampang Wajibkan ASN Berpakaian Pesak dan Berbahasa Madura

  • Whatsapp
(FOTO: KM/PROTOKOL PEMKAB SAMPANG) LESTARIKAN: Dalam rangka menyambut Harjad Sampang ke- 397  Bupati Sampang wajibkan semua ASN berpakai adat dan berbahasa Madura.

KABARMADURA.ID, SAMPANG-Menjelang perayaan Hari Jadi (Harjad) Kabupaten Sampang ke-397, Bupati Sampang H. Slamet Junaidi mewajibkan semua Aparatur Sipil Negara (ASN) yang  berada di wilayah kerjanya diwajibkan menggunakan pakaian adat, dan berbahasa Madura.

Bupati Sampang H. Slamet Junaidi menuturkan, pada masa kepemimpinannya semua ASN harus melestarikan adat Madura. Sehingga ia menginstruksikan agar semua ASN menggunakan pakai adat. Yakni pakaian Pesak, Gombor dan Marlena.

Bacaan Lainnya

Selain itu, selama tiga hari yakni dari 21/23 semua ASN wajib menggunakan Bahasa Madura. Hal itu untuk melestarikan serta sebagai wujud kebanggaan terhadap Madura.

”Semua ASN dari Kabupaten Sampang atau luar Sampang bisa merasa jadi warga Sampang. Tentu ini sebagai upaya untuk melestarikan budaya dan Bahasa Madura,” tuturnya.

Ia menambahkan, selain melestarikan budaya, tujuan penggunaan Bahasa Madura, agar tidak terjadi perbedaan, sehingga nantinya semua ASN di Sampang ini membangun kabupaten secara bersama-sama. Jadi orang jawa atau orang manapun itu diwajibkan mengunakan Bahasa Madura.

“Dari Senin sampai Rabu semua ASN di Sampang wajib pakai Pesak dan berbahasa Madura. Kenapa Pesak, karena Pesak itu merupakan pakaian adat Madura, atau Sampang khususnya. Dengan tujuan supaya mereka mengingat kembali bahwa kita orang Sampang. Jadi sekalipun bukan orang Sampang ia merasa menjadi orang Sampang,” tuturnya, Selasa (22/12/2020).

Bupati yang akrab disapa Aba Idi tersebut berkomitmen, bahwa perayaan dengan menggunakan pakaian adat serta Bahasa Madura tetap akan dilestarikan di kegiatan-kegiatan berikutnya. Agar semua orang sadar bahwa Sampang memiliki kekayaan budaya tersendiri.

Kendati demikian, mengingat Harjad Sampang yang ke- 397 tersebut bertepatan pada 23 Desember, semasa kepemimpinannya tidak akan diubah. Sehingga akan ditetapkan pada tahun Masehi, karena tahun Masehi tersebut merupakan patokan untuk menentukan jadwal kalender wisata.

“Jadi tidak berubah, sementara kalender kegiatan kita di Masehi, maka kita kembalikan ke masehi. Supaya kita gampang untuk mengatur jadwal kalender wisata kita. Dulu benturan dengan hari natal akhirnya dimajukan, tetapi saya tidak mau karena waktu kerja kita menggunakan Masehi,” pungkasnya. (mal/mam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *