oleh

Bupati Sumenep Akui Harga Garam Sangat Sulit Diperjuangkan

KABARMADURA.ID, Sumenep -Bupati Sumenep Abuya Busyro Karim mengakui masih sulit untuk memperjuangkan naiknya harga garam. Alasannya, kebijakan tersebut merupakan kebijakan nasional yang saat yang sejak lama diperjuangkan. Tetapi, hasilnya masih nihil.

Dirinya mengakui sudah mambahas Dinas Perikanan Diskan dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumenep sejak beberapa bulan yang lalu.

Saya juga sudah menandatangani tuntutan kenaikan harga garam bersama bupati se-Madura. Tetapi, hingga saat ini masih belum ada hasil,” katanya, Minggu (25/10/2020).

Dia berharap harga garam tetap dapat naik dan tidak merugikan petani. Bahkan, menurutnya,untuk menyelesaikan masalah itu, harus dilakukan secara bersama-sama, termasuk demham ssosiasi petani garam serta lainnya.

“Kami terus melakukan perjuangan hingga saat ini belum temukan hasil,” paparnya.

Orang nomor satu di Sumenep itu mengatakan, Pemkab Sumenep juga senantiasa berkoordinasi dengan PT. Garam (Persero) dalam menyelesaikan berbagai permasalahan tataniaga garam.

“Harapannya, PT Garam juga dapat membeli harga garam, untuk menstabilkan harga di pasaran,” tukasnya.

Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Budidaya Dinas Perikanan (Diskan) Sumenep Sri Harjani mengatakan, sulitnya harga garam untuk dapat dinaikkannnya, menjadi masalah nasional. Bahkan, dirinya telah bolak-balik mendatangi kementerian, namun belum ada solusi.

“Semuanya tergantung pemerintah pusat,” tukas dia.

Akibat anjloknya harga garam,petambak enggan menjual garamnya ke pabrikan. Tetapi, saat ini, petambak mulai menjual garamnya walaupun harga murah.

“Menjual garam sudah jadi tuntutan. Sebab, sudah memasuki misim hujan. Petambak sudah menjual garamnya,” paparnya.

Dijelaskan, harga garam saat ini di kisaran Rp250 hingga Rp300 per kilogram, ada juga yang Rp125 jika kualitasnya dianggap buruk. Setiap kecamatan, harga pasti berbeda-beda.

“Harga garam saat ini benar-benar memprihatinkan,”paparnya.

Sebelumnya, Koordinator Aliansi Masyarakat Garam (AMG) sekaligus Ketua Asosiasi Petambak Garam Abdul Hayat mengatakan, harga garam saat ini semakin anjlok. Bahkan, perjuangan untuk menaikkan harga garam sangatlah sulit.

“Saat ini sudah masuk musim hujan, kayaknya sulit mengenai kenaikan harga garam. Tetapi kami tetap akan memperjuangkan,” tuturnya.

Menurutnya, jika dijumlahkan pada tahun sebelumnya, garam lokal masih sisa sekira Rp175 ribu ton. Sementara pihak pabrikan masih membeli garam secara asal-asalan. Ironisnya, saat terpuruknya harga saat ini, PT. Garam tidak dapat menyerap garam petambak. Padahal, seharusnya PT Garam harus hadir dalam penyerapan garam dengan harga diatas harga pasaran.

“Kemana PT Garam ya,” singkatnya.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Perusahaan (Sekper) PT Garam Hario Junianto mengakui saat ini tidak menyerap garam rakyat. Alasannya, masih menunggu arahan dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jawa Timur untuk menentukan harga garam yang  paling layak.

“Jika kami membeli saat ini, petambak kan tidak mau dibeli harga murah,” tandasnya

Menurutnya saat ini pemerintah pusatakan menetapkan harga garam dan garam akan menjadi bahan pokok penting.

“Jadi, kami menunggu kebijakan itu,” ujar dia.

Pada tahun sebelumnya, PT. Garam hanya menyerap 100 ton. Bahkan harga yang dipatok PT Garam melebihi harga pasaran Yakni, kisaran Rp500 hingga Rp700 per ton.

“Intinya, kami msih menunggu kebijakan pemerintah untuk menyerap garam saat ini,” pungkasnya.(imd/waw)

Komentar

News Feed