Cabdindik Sumenep Tersita PPDB Zonasi, Belum Tentukan Konsep MPLS

(KM/MOH RAZIN ) TRANSISI AJARAN BARU: Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Provinsi Jawa Timur Wilayah Sumenep masih fokus penerimaan peserta didik baru (PPDB).

KABARMADURA.ID | SUMENEP -Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Provinsi Jawa Timur Wilayah Sumenep, Syamsul Arifin, belum memberikan gambaran khusus tentang pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di seluruh Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) se-Sumenep.

Hal itu, jelas Syamsul, karena hingga kini pihaknya masih belum berani memberikan arah kebijakan meski sebagian sekolah sudah melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM).

“Belum, bagaimana teknis dan arahannya untuk pelaksanaan MPLS masih belum kami berikan. Pertama, kami konsentrasi pelaksanaan penerimaan peserta didik baru (PPDB) dan juga masih belum mengetahui arah kebijakan dari satuan tugas kesehatan,” ulas Syamsul.

Bacaan Lainnya

Hingga kini, pelaksanaan PPDB  untuk tingkat SMAN/SMKN maupun sekolah luar biasa di Sumenep, tata laksananya 50 persen menggunakan sistem zonasi. Pelaksanaan PPDB dengan jalur tes hanya berlaku untuk SMAN di kepulauan dan pedalaman.

Seleksi siswa dengan sistem zonasi, diakuinya sedikit banyak menyita perhatian karena terdapat beberapa sekolah yang secara jarak berdekatan dan sama-sama bisa dijangkau karena sama-sama berada di kota. Seperti SMAN 1 dan SMAN 2, dan beberapa sekolah yang secara jarak juga dekat meski beda kecamatan.

Sistem zonasi, ulas Syamsul bertujuan agar sekolah-sekolah bisa merata jumlah siswanya, terutama di area pelosok yang memang sering kekurangan siswa.
Sementara untuk pengumuman kelulusan siswa, Cabdindik Jawa  Timur Wilayah Sumenep menegaskan akan dilaksanakan secara online. Sementara untuk pendaftaran PPDB sudah bisa tatap muka namun tetap dilarang menggunakan tes masuk kecuali sekolah di wilayah Kepulauan, Pegunungan, dan Pedalaman (SMAN 1 Masalembu).

Terhadap pelaksanaan MPLS, meski belum memberikan arahan, jika merunut pada mulai dibolehkannya melepas masker, Syamsul memberikan syarat kemungkinan pelaksanaan MPLS  sama seperti sebelum adanya pandemi Covid-19.

“Kemungkinan pengenalan lingkungan sekolah akan sama-sama dengan sebelum pandemi,  tetapi tidak tahu instruksi terbarunya nanti,” imbuhnya.

Namun, dia tetap mengimbau agar dalam pelaksanaan MPLS tidak boleh terjadi kekerasan terhadap calon siswa baru. Sebab usianya masih rentan labil sehingga tidak bisa dilakukan layaknya mahasiswa.

Reporter: Moh Razin

Redaktur: Tabri S Munir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.