oleh

Cara Moh Ihsan Zain Bangunkan Kesadaran Masyarakat Cintai Lingkungan

Dirikan Bank Sampah Hamdalah dengan Modal Sendiri

Kabarmadura.id/Pamekasan-

Sampah menjadi permasalahan besar bagi lingkungan hidup. Setiap harinya manusia pasti menghasilkan sampah, baik itu yang mudah terurai dan tidak. Tanpa disadari sampahlah yang menjadikan semuanya kumuh, sungai, laut, pasar, gunung dan tempat-tempat lain yang penuh dengan sampah.

MUKHTARULLAH, PAMEKASAN

Membangunkan kesadaran masyarakat tentang sampah agar tidak semakin mengotori lingkungan hidup sangatlah sulit. Hanya sebagian orang saja yang tergerak agar tidak menghasilkan sampah lebih banyak, baik itu dengan cara mengurangi konsumsi yang bisa menambah persampahan, ada juga yang bergerak lebih heroik, yakni memulung sampah atas kesadaran menyelamatkan lingkungan hidup.

Dua puluh tahun yang lalu, sampah bukan menjadi hal yang menakutkan. Tapi seiring waktu, sampah menjadi permasalahan yang sangat menakutkan. Apalagi saat ini, sampah sudah menumpuk di berbagai tempat. Perkembangan produk-produk baru menjadi tempat pertama yang bisa menghasilkan sampah. Kesadaran tentang lingkungan perlu dibangun, minimal mencegah agar tidak semakin menambah persampahan.

Moh. Ihsan Zain, bukan petugas dari dinas lingkungan hidup (DLH), bukan pula kepala desa yang memiliki tempat pengelolaan sampah reuse, reduce, dan recycle (TPS3R), tapi kepeduliannya terhadap lingkungan hidup perlu dijadikan contoh.

Tak ada yang membayar pemuda kelahiran Pamekasan 1 Agustus 1994 itu dalam mengelola persampahan. Sekitar Desember 2019 lalu, dirinya mendirikan bank sampah yang diberi nama Hamdalah dengan tagline ‘Mengubah Sampah Menjadi Berkah’.

Tekad ini dia bangun tanpa rasa malu, meski dia merupakan lulusan peternakan di Universitas Muhammadiyah Malang. Dia tidak gengsi untuk memulai kepedulian terhadap lingkungan dengan memungut sampah yang berserakan.

Kesadaran itu dia bangun atas keprihatinan terhadap lingkungan yang mulai kumuh dengan sampah.

Dibesarkan di Bujudan, Desa
Pamoroh, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan,
dengan gelar sarjana peternakan, dia memilih mendirikan Bank Sampah Hamdalah dengan segala upaya dan keterbatasan. Hal itu ia lakukan agar bisa mengelola sampah secara mandiri.

Pengelolaan itu dia lakukan secara modern, di mana dia mengkolaborasikan pengelolaan sampah dengan sistem bank (tabungan), sehingga masyarakat bisa menabung di bank tanpa uang, tapi menggunakan sampah. Cukup unik, sebenarnya upaya ini dia lakukan agar bisa menyadarkan masyarakat, betapa pentingnya merawat lingkungan hidup.

“Ini dibangun atas kesadaran pribadi, supaya masyarakat bisa mempedulikan lingkungan dengan tidak membuang sampah ke sungai dan lingkungan hidup sekitar. Dengan ini masyarakat juga bisa cerdas dalam memanfaatkan keadaan, dimana sampah bisa diolah di tempat ini sehingga biasa menghasilkan uang,” ujarnya, Jum’at (18/9/2020).

Menurut Moh. Ihsan Zain, ada makna filosofis dalam berdirinya Bank Sampah Hamdalah. Penggunaan kata Hamdalah berangkat dari konsep minimarket basmalah yang merebak di daerah Pamekasan yang menyediakan kebutuhan pokok. Oleh karena itu, tentu minimarket akan menghasilkan sampah, sehingga bank sampah yang dia bangun ada kata Hamdalah di belakang.

“Sampah itu memiliki unsur ekonomis. Sampah itu harus diolah agar bisa menghasilkan uang. Masyarakat harus bisa memanfaatkan keadaan ini,” imbuhnya.

Selain hanya rasa peduli terhadap lingkungan hidup yang mulai tercemar dengan sampah, rupanya Moh. Ihsan Zain, juga memiliki rasa kepedulian terhadap masyarakat sekitar, lebih-lebih kepada yang tidak memiliki pekerjaan.

Dia menginisiasi kepeduliannya agar supaya masyarakat bisa memiliki pekerjaan dengan memanfaatkan sampah yang ada di sekitar lingkungan hidup.

“Sejauh ini, yang bekerja dengan saya sudah ada 2 mahasiswa, 2 sarjana, dan 2 masyarakat umum. Semuanya mempunyai tugas yang sama, yakni dapat mengolah sampah yang telah dikumpulkan,” ujarnya.

Pengolahan sampah yang dilakukan meliputi sampah styrofoam yang dibuat menjadi lukisan siluet. Kemudian sampah kertas dibuat miniatur. Sampah plastik kresek dan semacamnya, dibuat menjadi paving blok, meski dengan keterbatasan alat.

Selain itu, sampah organik, sampah ini akan dimanfaatkan sebagai bahan maggot BSF. Sampah botol, besi dan lain sebagainya, sampah ini disetor ke pengepul untuk didaur ulang.

“Semoga dengan kehadiran Bank Sampah Hamdalah bisa membantu dalam menanggulangi persampahan di desa, sehingga sampah itu menjadi satu hal yang berharga bagi masyarakat bila mampu mengelolanya, dan juga bisa menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat yang masih giat dalam mengumpulkan sampah untuk dikelola di Bank Sampah Hamdalah,” pungkasnya. (pin)

Komentar

News Feed