oleh

Cara WMS Tanamkan Kemandirian Berwirausaha, Ditantang Memanfaatkan Peluang dari Fasilitas Seadanya

Kabarmadura.id/Sumenep-Memanfaatkan peluang dari fasilitas seadanya, adalah cara Wirausaha Muda Sumenep (WMS) dalam menanamkan mental mandiri berwirausaha kepada peserta sejak dini.

MOH RAZIN, SUMENEP

Pengalaman ini dijalani Aang Ardiansyah, pengusaha muda yang kini menekuni usaha cuci kendaraan roda dua dan empat ini. Semangat itu diilhami dari salah satu anggota WMS sejak tahun 2018 silam yang berwirausaha sembari mengikuti pelatihan di WMS.

“Kami memilih memanfaatkan peluang yang ada, ini kan dari pelatihan otomotif mesin, berhubung sudah ada yang buka sendiri maka kami fokuskan ke usaha cuci motor dan mobil, karena modalnya sedikit sebab air kita punya sendiri,” ungkapnya sambil mengelap mobil salah satu pelanggannya, Rabu (29/7/2020).

Aang tidak sendirian dalam menekuni aktivitas yang awalnya dimodali Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, ada sekitar 15 orang yang bekerja bersamanya.

Di tengah sulitnya mencari kerja, dia merasa sangat bersyukur bisa ikut salah pelatihan yang disediakan oleh WMS, sehingga selain mendapatkan skill seperti tujuan awal dia bergabung, juga bisa mendapatkan uang saku untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

“Alhamdulillah saya bisa belanja dengan hasil keringat sendiri. Dan menariknya saya dapat ilmu dan pengalaman, terutama dalam meningkatkan semangat kemandirian. Maka setiap peluang harus dimaksimalkan,” imbuhnya.

Cerita Awal Lahirnya Usaha Cuci Kendaraan

Sebagaiman dikisahkan Ahmad Qusyairi, pendamping bidang pelatihan otomotif di program WMS, sekitar 2 tahun lalu, tepatnya ketika pindah ke rumah produksi di sebelah timur Taman Adipura, gedung yang dulunya adalah kantor Dinas Kesehatan (Dinskes) Sumenep itu disulap menjadi ladang penghasilan.

“Nah biar berkesinambungan di sini, selain mereka mendalami dunia otomotif dan mesin, juga bisa menjamin biaya selain mendapatkan dari pelatihan itu. Apalagi di sini ada kepastian konveksi jahit, buat songkok dan sebagainya, dan juga olahan. Makanya teman-teman sangat merasakan manfaat pelatihan ini,” ungkapnya.

Dari 15 orang yang menjalankan usaha itu, masing-masing mendapat bagi hasil. Bahkan tidak ada istilah atasan dan bawahan, tetapi lebih nampak nuansa kekeluargaannya. Jika satu berhalangan, tenaga yang lain pasti disumbangkan.

Kualitas dan pelayanan yang maksimal, menjadikan usaha tersebut kian berkembang. Meskipun jumlah kendaraan setiap harinya pasang surut, tetapi memang rata-rata mencuci 20 unit motor dan 15 unit mobil setiap hari. Bahkan pernah mencuci sampai 50 unit mobil dan 50 lebil motor dalam sehari.

“Tarif normal saja, Rp10 ribu untuk sepeda motor dan Rp35 ribu untuk mobil. Kan orang nyuci itu tidak setiap hari, tapi memang setiap harinya banyak pelanggan yang sudah percaya ke kami, pelayanan kami akan dimaksimalkan biar tidak ada komplain,” paparnya.

Bahkan untuk setiap bulannya, penghasilan bersihnya rata-rata mencapai Rp15 juta setiap bulan. Penghasilan itu sudah terpotong biaya listrik dan lain sebagainya. Bahkan pernah bisa sampai Rp20 juta dalam sebulan.

Padatnya konsumennya, membuat tempat usahanya harusbuka sejak pagi sampai larut malam. Namun masing-masing harus bergantian piket, sepuluh orang mulai pukul 07.00 hingga 16,00 sore, sisanya sampai  pukul 22.00 malam.

“Dan setelah dikalkulasi bersihnya, termasuk dipotong kas, maka hasilnya langsung dibagi. Istilah kami itu bagi hasil, karena ini dikelola bersama-sama,” pungkasnya. (waw)

Komentar

News Feed