oleh

Catatan Belajar dari Rumah

Supadilah (Guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten)

Empat menteri menyampaikan kebijakan tentang tahun ajaran baru 2020/2021 yang dimulai 13 Juli 2020. Namun, sekolah berzona merah-kuning, yang jumlahnya sekitar 94 persen, dilarang menjalankan pembelajaran tatap muka. Sementara, sekolah di zona hijau boleh melakukan pembelajaran. Itu pun untuk tingkat sekolah menengah (SMP/SMA/SMK).

Terjawab sudah kepastian kapan masuk sekolah di beberapa wilayah. Kategori zona daerah pun bisa menyesuaikan dengan kriterianya.

Pesantren-pesantren di banyak daerah sudah buka. Padahal, banyak pesantren di Jawa yang merupakan daerah zona kuning-merah. Apapun kebijakan yang diambil, semoga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Khususnya, semoga korona tidak semakin mewabah.

Tiga bulan lebih belajar dari rumah (BDR), banyak catatan dari prosesnya.Banyak hal yang memang menjadi sejarah di masa pandemi ini.

Keluhan Orangtua

Belajar di Rumah mulai diberlakukan berdasarkan Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kemendikbud Nomor 36603/A.A5/OT/2020, tentang Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Kemendikbud, kebijakan Kerja dari Rumah berlaku sejak Senin, 16 Maret 2020.  Sejak 16 Maret hingga 9 April 2020, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) telah menerima 213 pengaduan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama kurun waktu tiga pekan.

Mayoritas keluhan tentang banyaknya tugas dari guru, tidak paham dengan materi yang diajarkan, bosan dengan pembelajaran, dan lainnya. Sementara, orangtua mengeluhkan anak susah disuruh belajar, kebanyakan main gawai saja, atau tidak disiplin dengan jadwal pembelajaran. Orangtua juga mengeluhkan beratnya tugas yang diberikan guru. Saking beratnya, tugas itu dikerjakan oleh orang tuanya. Malahan, ada orangtua yang menggantikan anaknya BDR. Jadi, dia masuk di grup kelas anaknya. Segitunya.

Di masa BDR, apakah guru selalu memberikan tugas? Beberapa guru menceritakan, pemberian tugas tidak lain karena permintaan orangtua. “Anak-anak banyak mainnya kalau tidak ada tugas.” Jadi, tugas diberikan agar ada yang mereka kerjakan, tidak main melulu, bahkan keluar rumah. Jadi, ini merupakan permintaan orangtua pula. Nah, kalau begini, siapa yang patut disalahkan?

Kesadaran Mendidik Anak

Belajar dari rumah (BDR) ini menyadarkan orangtua bahwa mendidik anak tidak gampang. Tidak sedikit orangtua yang meremehkan tanggungjawab guru. Saat guru melakukan kesalahan, orangtua main hakim sendiri. Mulai dari merendahkan guru, mencaci maki, memotong rambutnya, hingga mempolisikan guru. Selama BDR, orangtua merasakan bagaimana mendidik anaknya. Ternyata tidak gampang. Tidak sedikit orangtua uring-uringan saat menemani anaknya BDR. Pun sebaliknya, anak merasa tertekan. Merasa lebih menyenangkan belajar di sekolah.

Maka, semoga setelah ini, orangtua sadar agar saling sinergi dengan guru dalam mendidik anak. Tugas berat itu jangan diperberat dengan tuntutan orangtua yang tidak sejalan dengan tujuan mendidik anak. Mudah-mudahan tidak ada lagi orangtua yang semena-mena merendahkan profesi guru.

Guru Harus Melek Teknologi

Belajar dari rumah (BDR) membuat guru mau tidak mau mempelajari teknologi. Guru belajar lagi berbagai aplikasi untuk bisa melangsungkan pembelajaran. Mulai dari media sosial hingga aplikasi berbasis video. Mungkin tidak salah jika dikatakan guru akrab dengan aplikasi/hal berikut: zoom, kahoot, Quizizz, cisco webex, video pembelajaran, dan google suite.

Jika sebelumnya guru sulit diajak melibatkan teknologi dalam pembelajarannya, di masa pandemi ini guru disadarkan bahwa penguasaan teknologi sangat penting. Teknologi membuat pembelajaran menjadi mudah, menarik, dan menyenangkan.

Guru cukup direpotkan pada pekan pertama BDR. Namun, itu tak lama. Berbagai pelatihan yang diadakan lembaga dan praktisi pendidikan memberikan banyak kemajuan. Guru yang mau peduli dengan kemampuan dan kemajuan teknologi memanfaatkan kesempatan ini. Jika disebut ada hikmah di balik musibah, maka hikmah dari pandemi ini adalah guru banyak menggegas diri dalam penguasaan teknologi.

Makna Pendidikan

Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa setiap orang merupakan guru, setiap tempat merupakan sekolah. Pembelajaran di masa pandemi ini mengajarkan bahwa pendidikan tidak melulu diadakan secara tatap muka atau di dalam kelas. Belajar bisa dilakukan di mana saja baik itu rumah, lingkungan, atau alam. Media atau sumber belajar bisa apa saja, bisa banyak hal. Hal ini harusnya membangun kesadaran bahwa kita bisa belajar dengan menggunakan apa saja.

Jika ada hal yang disesalkan dari pembelajaran saat ini tidak lain adalah kurangnya kreativitas dalam memanfaatkan bahan ajar. Cenderung monoton dalam pembelajaran dengan paradigma pengajaran sebagai transfer pengetahuan (transfer of knowledge). Pendidikan karakter yang digaungkan seakan menemukan jalan terjal dengan tuntutan nilai akademik yang masih dipentingkan. Hemat saya, link and match pendidikan dan industri semakin memperlebar jurang kesadaran makna pendidikan dan tuntutan industri bahkan industri pendidikannya.

Segawat apapun kondisi kita, jangan lupa pada esensi pendidikan. Bahwa yang dilakukan dalam proses pendidikan adalah mengembangkan potensi anak dan mempersiapkan mereka agar bisa menghadapi tantangan hidup. (*)

 

Komentar

News Feed