oleh

Catatan Hati tentang Pengabdian Seorang Guru Honorer, Ikhlas Mengabdi meski tanpa Gaji

KABARMADURA.ID, BANGKALAN – Nasib guru honorer di Bangkalan memang masih belum sepenuhnya sejahtera. Gaji mereka tergantung dari kemampuan sekolah masing-masing. Meski hanya sebulan diberikan honor Rp100 ribu, guru honorer yang mengajar di salah satu pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kamal ini tidak patah semangat.

FA’IN NADOFATUL M, KAMAL

Namanya Fadilah Yuliandari, meski dengan honor kecil dan tidak cukup untuk kebutuhan selama satu bulan. Perempuan yang kerap disapa Ririn itu tetap mengajar dan mendidik calon generasi penerus bangsa ini.

Sebelum wabah Covid-19, setiap harinya Ririn mengajar mulai pukul 08.00 pagi hingga 12.00 siang. Dengan gaji yang tak seberapa itu, dia tetap ikhlas menjalani profesinya sebagai tenaga pendidik untuk mengabdi.

Banyak pengalaman dan keluh kesahnya selama dia menjadi guru honorer di PAUD. Ririn menceritakan, dia bersyukur mengajar di PAUD. Sebab, selama menjadi guru PAUD dia banyak belajar tentang arti kesabaran dan selalu tersenyum.

Karena dari situlah dia belajar ikhlas menerima honor berapapun meski tidak sebanding dengan gelar yang sudah diraih selama empat tahun di bangku perkuliahan. Selain itu, perempuan asli Kamal ini meyakini bahwa pastinya menjadi seorang guru patut bersyukur.

“Saya juga ingin membagi ilmu saya selama masa kuliah dulu,” kata sarjana lulusan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) ini, Kamis (26/11/2020).

Masih menurut Ririn, sejak dia menjadi guru honorer pada tahun 2019 lalu. Perhatian dari Pemerintah Kabupaten Bangkalan terkait kesejahteraan guru honorer untuk gaji masih belum ada. Pada momen hari guru nasional ini, dia berharap pemerintah bisa melihat lebih jauh kesejahteraan guru honorer PAUD.

Selain itu, ada perhatian khusus bagi pemerintah terkait nasib guru honorer. Sebab, katanya, sekarang ini serba mahal dan masih ditimpa musibah yakni wabah Covid-19. Dimana kegiatan mengajar sementara dihentikan dan diganti dengan daring.

Katanya, pemerintah harus bisa mendengar keluh kesahnya seorang guru yang berjuang demi pencapaian seorang anak dengan baik. Yang harus tetap tersenyum walaupun tidak sesuai dengan gaji yang didapatkan.

“Menurut saya bangga tersendiri menjadi seorang guru, tanpa guru kita semua tidak akan jadi apa,” pungkas perempuan berumur 25 tahun itu. (mam)

Komentar

News Feed