oleh

Catatan Pendek untuk Cintang yang Panjang

Peresensi        : Moh. Rofqil Bazikh

Ekspresi dari apa yang ada dalam hati tentu menemui titik terangnya di sini. Seluruh hal yang bersemayam dalam hati tidaklah cukup hanya bersemayam semata. Lebih dari itu, ia adalah hal yang memang harus diekspresikan. Namanya juga ekspresi tentu bermacam-macam, semua bebas menentukan untuk dirinya. Cinta sudah dimafhum bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang bersifat abstrak, maka untuk memngkongkretkannya, diperlukan sebuah medium. Medium di sini yang kemudian kita namai dengan ekspresi.

Tidaklah cukup berbicara masalah cinta, utamanya cinta terhadap nabi Muhammad Saw. hanya dengan lisan. Hal, atau cinta tersebut, harus sungguh-sungguh dikongkretkan agar menemukan titik relevansinya. Namanya juga cinta, yang orang banyak anggap bahwa ia buta. Seharusnya cinta buta memang bekerja di bagian mencintai nabi ini. Tidak hanya di bagian-bagian cinta kepada lawan jenis. Sehingga, kesempuranaan dalam cinta tersebut bisa diraih. Meski pada titik dasarnya kita tidak pernah bersua dengan nabi Muhammad Saw.

Memang raga tidak pernah berjumpa dengan nabi, mencintai beliau tidaklah harus hidup di zaman beliau. Jaminan keselamatan yang difirmankan Allah adalah dengan mencintai nabinya. Ini adalah sebuah fitur canggih, yang hanya dimiliki oleh umat nabi Muhammad Saw. Fitur di sini, seminim-minimya, adalah berselawat kepad beliau. Hal terebut adalah ekspresi titik minim terhadap kecintaan atas beliau. Masih banyak ekspresi lainnya yang memang seyogianya dilakukan kita sebagai umatnya. Agar cinta, yang sering dibicarakan, tidak hanya sebatas ucapan semata.

Ketika nabi begitu mencintai terhadap terhadap yatim piatu, ini seharusnya juga tidak luput dari perhatian. Dengan interpretasi yang lebih luas, kasih sayang terhadap sesama tidak pernah dinafikan. Maka jika kasih sayang sesama manusia ini terealisasi dengan baik, tidak mungkin adanya pengrusakan atas nama agama. Karena bagaimanapun, agama sudah mengajarkan kasih sayang.

Selebihnya, dari sifat beliau  ada banyak hal yang memang sepantasnya menjadi cerminan dalam hidup. Tidak cukup, berjalan sendirian di alam bumi tanpa adanya sebuah suri teladan. Maka kedudukan nabi Muhammad Saw. sebagai insan kamil tentu pas mengisi kekosongan opsi tersebut. Bagaimana akhlak dan sifat penyayang beliau yang sudah jamak kita ketahui dalam seluruh khazanah keislaman dan sirah nabawiyah. Ketika beliau berjaya dalam Fathu Makkah, Abu Sufyan bin Harb yang dari awal keras memusuhi beliau diterima dengan tangan terbuka saat diselundupkan oleh Saayyidina Abbas bin Abdul Muthalib dan Saayidina Ali bin Abi Thalib. Tidak ada syaarat apapun, diterima dengan penuh welas asih(hal.61)

Maka selayaknya memang, perbudakan dan penindasan dalam kalangan muslim sendiri harus tidak berkembang biak. Jika memang keteladanan terhadap nabi dikedepankan, tentulah hal tersebut tidak menjadi persoalan pelik. Tetapi realitanya, justru kadang penguasaan dan penindasan muslim satu dengan muslim lainnya mayotitas berkedok teks agama. Tidaklah benar hal demikian, karena insan yang paham betul masalah agama islam sudah memberikan contoh yang komprehensif.

Kembali terhadap ekspresi mencintai yang seminimnya berselawat, tentu tidalah berdasar jika kemudian ada yang segolongan orang yang menghalangi ekspresi cinta terhadap beliau. Membid’ahkan segala sesuatu yang berhubungan dengan beliau tetapi tidak ada di zaman beliau. Ketika ekspresi terhadap kecintaan atas nabi terhalang, akal sehat mana yang bisa menerima. Sekali lagi, sama dengan cinta, bahwa ekspresi itu bebas tidak terikat dengan apapun. Sebagaimana penulis buku ini mengekspresikan kecintaannya melalui kaos dengan tulisan lima nama dalam ahlul kisa’ atau lebih tepatnya nama-nama dalam syiir Li Khamsatun.

Buku ini bukanlah buku ilmiah, sebagimana yang telah disampaikan oleh penulis, melainkan autobiografi dirinya terhadap perjalanan mencintai nabi. Meski buku ini adalah sebuah buku yang sifatnya personal, tetapi banyak hal di dalam yang bisa dijadikan perenungan terhadap lelaku sehari-hari. Dengan bahasa yang amat sederhana, penulis mencoba memberi sebuah doktrin agama yang welas asih. Tidak melulu dipandang sebagai sesuatu yang keras dan tidak bisa diutak-atik.

Catatan-catatan remeh tapi serat makna dalam buku ini menjadikan sebuah bahan untuk refleksi, introspkesi, khususnya dalam diri sendiri-sendiri. Lagi-lagi, ekspresi kecintaan terhadap junjungan yang begitu luar biasanya. Dalam catatan-catatan kecil ini, kita bisa menemui sebuah kisah cinta yang panjang. Meminjam bahasa penulis, perasaan-perasaan yang berhasil dikisahkan.

Judul Buku    : Muhammadku Sayangku(2)

Penulis            : Edi Ah Iyubenu

Penerbit          : DIVA Press(November, 2020)

ISBN               :978-623-293-129-9

 

Yogyakarta, 2020

Moh. Rofqil Bazikh mahasiswa Perbandingan Mazhab UIN Sunan Kalijaga. Sekarang tinggal di Garawiksa Institute Yogyakarta. Bisa dijumpai di email rofqiljunior@gmail.com dan twitter @rofqilbazikh.

 

Komentar

News Feed