Catatan Seminar Dr. Yasir Qadhi; Antara Madrasah dan Akademi, Studi Islam di Timur versus Barat

Uncategorized132 views

Oleh: Annas Rolli Muchlisin*)

Pada hari Senin, 16 Januari 2023, kami menghadiri diskusi publik bertema “Between Madrasah and the Academy: Studying Islam in the East versus West” yang diisi oleh Dr. Yasir Qadhi, bertempat di Gedung Minaretein, HBKU, Doha.

Dr. Qadhi dipandang memiliki kualifikasi yang mumpuni untuk membicarakan tema di atas karena pengalamannya berkuliah S1 hingga S2 di Timur, yakni di Universitas Islam Madinah, dan menempuh jenjang doktoralnya di Barat, tepatnya di Universitas Yale.

Dalam seminar tersebut, Dr. Qadhi berusaha memberikan penilaiannya secara berimbang. Ia memaparkan masing-masing tiga kelebihan studi Islam di Timur dan Barat. Berikut hasil catatan kami.

Tiga kelebihan studi Islam di Timur

1. Pengetahuan Ensiklopedis
Mahasiswa yang belajar Islam di institusi pendidikan ala Timur akan mempelajari berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan keislaman: mulai dari akidah, tafsir, hadist, b. Arab, ilmu kalam, fiqh, ushul fiqh, sejarah dan seterusnya. Walhasil, pengetahuan yang diperoleh bersifat lebih ensiklopedis. Sebaliknya, dalam sistem pendidikan Barat, mahasiswa fokus pada area of expertise (bidang keahliannya) masing-masing. Jika ia mengambil studi tafsir, misalnya, ia akan fokus pada satu bidang tersebut. Karena itu, lanjut Dr. Qadhi, mahasiswa (didikan) Barat memiliki potensi berbuat salah yang lebih besar ketika ia berbicara di luar bidang kepakarannya.

2. Hafalan
Pendidikan Islam model Timteng menekankan hafalan. Dalam sistem pendidikan Barat, hafalan cenderung dipandang negatif. Kelebihan hafalan, menurut Dr. Qadhi, adalah si mahasiswa akan mampu menjawab suatu persoalan secara langsung, on the spot, berdasarkan memori di kepalanya. Sebaliknya, mahasiswa yang tidak memilikinya akan membutuhkan waktu untuk membuka buku terlebih dahulu dalam menjawab persoalan yang diajukan kepadanya.

3. Kemampuan Bahasa Arab
Pelajar di madrasah, pesantren, atau universitas di Timur dibekali kemampuan bahasa Arab yang sangat memadai, dari level dasar hingga advanced. Satu kata bisa dianalisis secara detail dan mendalam. Di akademia Barat, sebagian orang syok akan fakta bahwa tidak semua mahasiswa dan dosen studi Islam memiliki kemampuan bahasa Arab yang cukup. Dr. Qadhi bercerita bahwa seorang dosennya di Amerika membaca سنة dengan harokat yang keliru. Kata yang seharusnya dibaca “sinatun” dalam teks yang mereka baca malah dibaca “sunnatun”, sehingga berimplikasi pada kesalahan pemahaman yang serius.

Baca Juga:  Stok NPK di Sampang Menipis, Permintaan Tambahan Tidak Direspon

Tiga kelebihan studi Islam di Barat

1. Penekanan pada konteks
Tidak dipungkiri bahwa konteks sosial, politik, ekonomi, dan budaya memberikan pengaruh yang signifikan pada corak pemikiran seseorang. Pengetahuan akan konteks seperti ini sangat ditekankan di akademi Barat, tetapi hampir absen dalam sistem pendidikan Timur. Contoh yang diberikan Dr. Qadhi adalah perihal pandangan-pandangan Ibn Taimiyah yang dianggap keras. Padahal, lanjut Dr. Qadhi, jika kita memperhatikan konteks sosial dan ketegangan-ketegangan politik yang terjadi semasa hidup Ibn Taimiyah maka kita akan bisa memahami tokoh ini secara lebih fair.

2. Wawasan lintas budaya dan bahasa
Dalam akademi Barat, wawasan komparatif lintas budaya merupakan hal yang sangat penting. Ketika kuliah di Madinah, Dr. Qadhi menulis tesis tentang Jahm ibn Safwan, seorang teolog pendiri aliran Jahmiyah. Namun, saat kuliah di Yale, Dr. Qadhi diharuskan meneliti Jahm ibn Safwan dengan cara pandang yang berbeda. Bukan dari perspektif tradisi Islam, tetapi dari perspektif lintas budaya dengan memperhatikan pengaruh-pengaruh Neoplatonisme di masa Jahm ibn Safwan hidup. Dr. Qadhi mengaku bahwa wawasan lintas budaya ini membantunya dalam memahami pemikiran Jahm ibn Safwan secara lebih kaya.

Selain lintas budaya, referensi lintas bahasa juga digunakan. Jika dalam pendidikan Timur, referensi yang dirujuk seringkali hanya teks-teks berbahasa Arab, di akademi Barat, seseorang yang menulis disertasi juga dituntut merujuk sumber-sumber berbahasa lain, baik bahasa dunia Islam lainnya seperti Persia atau Turki atau bahasa kesarjanaan modern seperti Jerman atau Francis. Lagi-lagi, wawasan lintas budaya dan bahasa ini dimaksudkan untuk memberikan wawasan yang lebih kaya.

Baca Juga:  Pemkab Pamekasan Putuskan Naikkan Target Pendapatan Pajak Restoran 

3. Kritisisme
Dr. Qadhi mengaku bahwa pelajar di Timur diajarkan untuk percaya terhadap apapun yang diajarkan kepada mereka, tidak hanya soal inti agama tapi juga tentang detail-detail peristiwa sejarah. Sebaliknya, mahasiswa di akademi Barat diajarkan untuk bersikap kritis terhadap cerita sejarah karena buku-buku sejarah terkadang tidak merepresentasikan sejarah sebagaimana yang terjadi di lapangan tetapi merefleksikan cerita yang diidealkan oleh si penulis sejarah. Dr. Qadhi juga menambahkan bahwa pelajar di Timur seringkali diajarkan untuk sepakat dengan apa yang diajarkan oleh guru-guru mereka serta tidak boleh mengkritiknya. Pernah suatu ketika mahasiswa di Madinah dikeluarkan dari universitas karena memiliki pandangan teologis (mengikuti pandangan Maturidi) yang berbeda dari universitas. Hal ini, lanjut Dr. Qadhi, tidak pernah terjadi di akademi Barat.

Setelah memaparkan tiga kelebihan di atas, Dr. Qadhi mengaku bahwa lulusan dan simpatisan kedua institusi pendidikan ini kerap menunjukkan sikap bermusuhan satu sama lain. Bagi pendukung pendidikan Timur, jebolan Barat dicap zindiq, menyerang Islam dari dalam, serta memiliki pemahaman keislaman yang corrupted karena belajar dengan non-Muslim. Begitu juga, lulusan Timur dipandang oleh sarjana didikan Barat sebagai dai (preacher) yang mendakwahkan pandangan-pandangan dirinya dan kelompoknya, serta tidak mengkaji suatu persoalan secara akademis.

Dr. Qadhi menyayangkan sikap semacam ini, padahal baginya kedua model pendidikan tersebut memiliki kekhasan dan kelebihan masing-masing. Perlu lebih banyak lagi perjumpaan-perjumpaan dialogis untuk mengikis sikap negatif dari masing-masing kelompok ini.

*) Mahasiswa S2 Contemporary Islamic Studies, Hamad bin Khalifa University, Qatar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *