oleh

Celurit Berdarah

Oleh: Fatah Malangare

Halima sakit keras, perutnya membuncit, ia merasa tidak punya harapan untuk hidup.

“Aku tidak kuat, kak!” seru Halima, suaranya menyimpan kesakitan yang sangat.

“Bersabarlah, Dik. Aku pasti temukan obatnya,” jawab Sutono mencoba tegar.

Halima menangis sambil menggeleng-gelangkan kepala, seakan ia menolak jawaban kakaknya.

“Aku tidak akan hidup lama, Kak!”

“Jangan bicara begitu. Kau pasti sembuh,” ucap Sutono dengan suara yang dipaksa tegar. Meski kenyataannya, jauh di dalam dadanya, ia merintih sedih.

“Aku tidak yakin, Kak!”

Mendengar jawaban adiknya, dada Sutono seakan terobek. Matanya hitam melihat sekeliling. Pening seakan bermukin di batok kepalanya. Tanpa terasa air matanya berlinang, pelan, linangan itu berbulir, hingga cepat-cepat ia keluar dari tempat adiknya berbaring, takut tangisnya terlihat.

Di depan kamar Halima, duduk para tetangga yang menjenguknya. Sudah dua puluh tiga hari kabar tentang sakit Halima tersebar di Desa Malangare. Sudah silih berganti pula orang-orang datang menjenguknya. Pagi itu, sepuluh orang penjenguk tengah duduk menekuri kopinya masing-masing, mereka seakan enggan melihat tubuh Halima yang tergolek di ranjang. Rintihanan kesakitan dan perut Halima yang membuncit mungkin menjadi alasan mereka memalingkan wajah.

Sutono duduk lesuh, air matanya tak henti jatuh. Di kedalaman matanya terlihat bara menyala. Ia marah, entah pada siapa? Sakit yang diderita adiknya itu seakan membangkitkan kemarahan yang sudah menjadi wataknya. Sutono memang terkenal sebagai bejhing* di Desa Malangare. Celurit dan carok adalah hal yang selalu tertanam dalam hatinya. Semua masalah diselesaikan dengan carok dan celuritnya. Tapi pagi itu, setelah perbincangan dengan adiknya, keperkasaan dan sifat bhejing-nya tak punya daya apa-apa, selain meneteskan air mata.

Tak ada yang berani bicara, para tetangga yang menjenguk Halima hanya diam.

“Bagaimana keadaan Obe’**, Bapak?” Suara Sugeng memecah sunyi.

Sutono mengangkat kepala, sambil berusaha menyembunyikan kesedihannya. Perlahan Matanya menyapu pandang sekeliling, lalu menatap Sugeng yang duduk dideretan paling belakang.

“Seperti biasa, Nak. Belum ada perubahan,” jawab Sutono keluh.

Hening seketika, dari dalam kamar terdengar rintihan Halima. Mendengar rintihan adiknya, Sutono tidak melanjutkan percakapannya. Wajahnya seketika berubah lusuh. Matanya semakin merah seakan menyimpan bara. Para penjenguk pun mengerti, mereka tak banyak bicara.

Tak beberapa lama berselang, satu persatu penjenguk pulang. Hanya tersisa Pak Suryo dan Sugeng yang duduk menemani Sutono. Mereka sama-sama terdiam seakan larut dalam kesedihan yang diderita Sutono.

“Aku ingin menyampaikan sesuatu, Sutuno,” kata Pak Suryo ragu-ragu.

Sutono mengangguk pelan. Sedangkan Sugeng nampak berwajah penasaran.

“Satu tahun yang lalu, istriku juga perna mempunyai penyakit yang sama dengan Halima.” Pak Suryo terdiam, seakan ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.

“Terus! Apa obatnya Pak?” ucap Sutono penasaran, penuh harapan.

Setelah menata diri untuk tenang, Pak Suryo meneruskan ucapannya, “Aku mendatangi salah satu dukun di lereng bukit, tepat di sebelah perbatasan desa. Dari dia aku mendapatkan petunjuk untuk menyembuhkan penyakit istriku. Saranku, kamu coba saja ke sana! Tapi ingat jangan bilang siapa-siapa, karena dia dukun rahasia. Jarang orang yang tahu tentang dia, bahkan tetangganya pun tak ada yang tahu bahwa dia seorang dukun.”

“Akan saya coba, Pak!” jawab Sutono dengan mata berbinar-binar.

***

Waktu mayat Halima dimandikan, wajah Sutono nampak menyimpan beban. Sugeng melihat itu.  Tapi ia enggan bertanya, ia berpikiran ayahnya hanya bersedih lantaran kematian adiknya.

Sudah semenjak Sutono pulang dari rumah dukun yang disarankan Pak Suryo, ia lebih banyak diam, dengan mata menyala penuh dendam. Kemarahan di mata Sutono semakin menjadi-jadi setelah sakit Halima yang keempat puluh hari. Hingga kini, setelah mayat Halima dimandikan, bara di mata Sutono itu kian menyala, seakan hendak meledak.

Sugeng kaget ketika Sutono menceritakan perkataan dukun yang di datanginya. Sugeng menolak percaya, tapi mata ayahnya yang penuh amarah menyudutkan ia untuk membenarkan perkataan dukun. Sutono memeritahu Sugeng tepat setelah lewat empat puluh hari kematian Halima. Dengan amarah yang menggebu, Sutono bercerita bahwa penyakit yang diderita Halima disebabkan mertua Sugeng, dan tiga laki-laki yang pernah melamarnya.

Halima memang cantik jelita, ia merupakan kembang desa. Meski janda, banyak lelaki yang tergila-gila padanya. Tapi ia menampik semua lamaran laki-laki itu, lantaran ia masih belum bisa melupakan mendiang suaminya. Hingga tak sedikit laki-laki yang kecewa lantaran cintanya ditolak menta-menta oleh Halima. Menurut cerita Sutono, itu yang mengakibatkan mereka mencelakakan Halima dengan tenung.

Tentang laki-laki yang menyihir Halima Sugeng sedikit pecaya. Tapi ketika Sutono mengatakan mertua Sugeng juga ikut andil menyihir Halima, ia tersentak. Apa yang menyebabkan mertuaku menyihir, Obe’? pertanyaan itu terus bergelut di kepala Sugeng.

“Orang tidak perlu alasan untuk melampiasakan kebenciannya, Nak,” kata Sutono saat melihat Sugeng kebingungan.

Sugeng terdiam, ia menundukkan kepala seakan tengah menanggung beban berat.

***

Teriakan melengking, menyusup ke kamar Sugeng. Bergegas ia bangun dan berlari kesumber suara. Sampai di sana, ia melihat orang-orang berkerumunan dengan wajah-wajah ketakutan. Kantuk Sugeng seketika hilang saat matanya melihat wajah mertuanya terpisah dari badan. Darah bersimbah di sekujur tubuhnya, yang tergeletak di ranjang tempatnya tidur. Tangis bergemuru, menyayat-nyatak hati. Tetesan darah yang membanjiri kasur dan seprei merambat ke lantai, hingga kamar itu banjir darah. Melihat kejadian itu, Sugeng terpaku dengan mata kosong penuh kengerian.

Sepuluh tahun setelah kejadian itu, ayah Sugeng mati.  Tiap malam ia mendengar tangis dan rintihan kesakitan dari kamar ayahnya. Pada suatu malam ia menyelidiki sumber tangisan itu. Ia sangat kaget saat melihat tangisan itu bersumber dari celurut yang tergantung di kamar ayahnya. Di celurit yang penuh darah itu, terlihat wajah mertuanya yang mati terbunuh sepuluh tahun lalu.

Yogyakarta, 22-Desember-2018

 

*Bhejing: adalah bahasa Madura yang disematkan kepada orang yang suka bercarok untuk     menyelesaikan permasalahannya.

**Obe’ : Bahasa Madura yang artinya ‘Bibi’

BIODATA PENULIS

Fatah Malangare lahir di Sumenep, 02-Februari-1998. Sekarang tinggal di PPM Hasyim Asyiari, Yogyakarta. Aktif di Lesehan Sastra Kutub dan tercatat sebagai anggota baru UPI.

 

 

 

Komentar

News Feed