Cemoohan Penonton Bagi M. Rizki KA Cambuk Raih Prestasi

  • Whatsapp
(FOTO: KM/MUKHTARULLAH ) MOTIVASI TINGGI: M. Rizki KA tidak minder meski harus berhadapan dengan penyerang yang beringas.

KABARMADURA.ID – Salah satu kiper muda Madura United, M. Rizki KA pernah mengalami beberapa kali cemoohan atau ejekan dari para penonton di waktu usianya yang masih kanak-kanak. Kala itu dia masih duduk di bangku sekolah dasar (SD),  sebagai pemain bola di kampung halamannya.

Menjadi pesepakbola profesional seperti Rizki, tentu banyak perjalanan yang telah ia lalui. Sehingga tidak menampik jika setiap pesepakbola bola profesional akan mengalami banyak kisah nan perjuangan yang telah dilewati.

Bacaan Lainnya

Di usia 8 tahunan, Rizki masuk Sekolah Sepak Bola (SSB) putra Samarinda dengan postur tubuhnya tidak se ideal saat ini. Dia pernah gemuk, sehingga saat bermain bola dengan beberapa temannya sering mendapatkan ejekan karena tidak kuat saat lari.

Awalnya dia bukan berstatus sebagai kiper, melainkan sebagai pemain belakang, yakni stopper. Sehingga dengan tubuh yang tidak ideal itu, saat masuk laga tanding, Rizki selalu tidak mendapat kesempatan untuk bermain, karena statusnya hanya sebagai pemain cadangan.

“Kadang kalau saat latihan, ketika kiper tidak datang latihan, dia selalu menjadi pengganti kiper, karena lebih sering tidak bermain saat menjadi stopper. Karena saya sering menggantikan kiper, akhirnya pelatih saya di SSB itu menyuruh saya untuk fokus di kiper saja,” ucap Rizki pada Kabar Madura, Senin (12/10/2020).

Menurutnya, pelatih SSB, Sinanang lebih melihat potensi Rizki sebagai penjaga gawang. Akhirnya dia mulai menekuni latihan sebagai kiper, meskipun pada waktu itu Rizki hanya sebagai pengganti kiper utama.

Dengan seperti itu, pria kelahiran Samarinda itu, memilih untuk lebih giat latihan. Bahkan orang tua Rizki, Kusni (bapak) Rita Ariani (ibu) sangat mendukungnya untuk selalu latihan dan sering menyuruh Rizki untuk lari agar berat badannya bisa turun.

“Orang tua saya sangat mensupport saya. Alhamdulillah dukungan orang tua, saya semakin giat untuk latihan agar bisa menampilkan yang terbaik saat bertanding,” sambungnya.

Perjalanan Rizki tak semulus yang dikira kebanyakan orang, menunnya, saat ada di SSB dia masih menggunakan sarung tangan yang sobek. Bahan sepatu yang digunakan bolong, tapi selalu dijahit sendiri agar tetap bisa digunakan.

“Saat bertanding saya seringkali ditertawakan oleh penonton, karena menggunakan sepatu dan sarung tangan yang penuh dengan jahitan,” imbuhnya.

Meski demikian Rizki tidak pernah merasa minder, baginya jika sudah di lapangan yang dipakai pemain tidak akan mempengaruhi jalannya pertandingan, melainkan adalah kualitas harus ditunjukkan, dan melakukan yang terbaik untuk tim.

Bahkan bagi Rizki, cemoohan penonton terhadap dirinya dijadikan sebagai motivasi, dan dia harus menjawabnya dengan prestasi. “Mungkin dengan hal itu saya semakin bersemangat, sehingga dalam pertandingan antar SSB, tim saya pernah juara 1 dan 2 di provinsi,” sambungnya.

Tidak selesai di sana, Rizki juga pernah menjadi kiper di Borneo, hingga membawa peringkat 4 di liga 1 umur 19 tahun. “Semoga di Madura United saya dapat kesempatan bermain, dan bisa memberikan yang terbaik,” harapnya. (km55/ito)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *