oleh

Cerita di Balik Klebun Morleke yang Tidak Pernah Dipilih Rakyatnya

Kabarmadura.id/SAMPANG-Maskur, sosok pemuda kreatif yang tinggal di pelosok ini, mempunyai inisiatif untuk mengembangkan generasi muda dilingkungannya, tepatnya di Desa Pelenggiyen, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang.

Terbilang kreatif, karena Maskur membuat kanal youtube (MataPena) dengan tujuan untuk menginspriasi pemuda di desanya agar rajin membuat kegiatan positif. Sebab, dia merasa orang desa hanya memandang kesuksesan dari materi.Terbukti, saat lulus SMA, mayoritas pemuda desanya langsung merantau.

“Saya bentuk channel Youtube (MataPena), itu murni karena kepedulian bersama, bukan karena kepentingan. Sebab, di daerah saya ini terbilang zona merah untuk pendidikan, dan ini khawatir terjerumus ke hal yang tidak diinginkan,” ungkapnya, Minggu (5/7/2020).

Inisiatifnya itu dilatarbelakangi adanya guyonan dari teman-teman kampusnya yang menyebut Maskur orang desa. Guyonan itu baginya merupakan bahasa yang meremehkan anak desa.

Sehingga, saat pulang ke kampung halamannya,dia mengajak para pemuda untuk nimbrung dan diajak ikut andil dalam mengelola kanal yang disiapkan. Meski, sempat mengalami kesulitan, namun siring berjalannya waktu, para pemuda yang kini jadi kru MataPena itu sudah kompak dan sudah merasa senang saat menjalani aktivitas barunya.

“Awalanya memang sulit, karena bukan hobi mereka, tapi dengan berjalannya waktu alhamdulillah jadi hobinya,” imbuhnya.

Pria yang berperan sebagai Klebun (kepala desa)Morleke dalam kontennya itu mengatakan, nama Klebun Morleke itu diambil darijulukanuntuknya oleh para pemuda di desanya, sehingga peran itu juga dia pakai di kanal youtubenya.

Bahkan, banyak penonton di kanalnya yang menanyakan lokasi Desa Morleke itu, namun karena karena Klebun Morleke ini hanya dikenal di dunia maya, maka Desa Morleke ini di dunia maya.

“Banyak pertanyaan, apakah saya ini beneran Klebun Morleke, bahkan saat saya ketemu sama orang itu banyak yang manggil saya Bun Morleke, padahal Bun Morleke itu hanya dimedsos,” tuturnya.

Kendati demikian, lulusan UIN Surabaya tahun 2017 ini mengaku, konten yang mengangkat kritik sosial dan komedi itu bertujuan untuk memberikan motivasi pada pemuda di desanya.

Bahkan, kanal youtube yang baru dibuat tahun 2019 ini, sudah memilki banyak pelanggan (subcriber). Kini, dia aktif berdiskusi dengan komunitas youtuber Madura. Upaya itu lebih menginovasi kreativitas dalam pembuatan kontennya.

Kini, dari kesuksesan kanalnya, membuat sebagian krunya berniat kuliah dan mulai tidak tertarik merantau, karena hidup di desanya pun, mereka sudah cukup sejahtera.

“Untuk subcriber kurang lebih 40 ribuan, dan alhamdulillah teman-teman tambah semangat, apalagi sekarang sudah terdaftar di adsense. Dan alhamdulillah sekarang ada kru yang mau kuliah, padahal dia sudah lulusan tahun kemarin,” pungkasnya.(mal/waw)

 

Komentar

News Feed