Cerita Diplomasi Sepenuh Hati

  • Whatsapp

Peresensi: Muhammad Itsbatun Najih*

Beberapa waktu lalu, seorang diplomat muda Indonesia mendapat apresiasi besar atas langkah tegasnya dalam mengonter diplomat negara asing yang memprovokasi kebijakan politik Indonesia pada suatu sidang Majelis Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Publik dibuat kagum sekaligus mafhum atas peran penting seorang diplomat. Tak sedikit yang bercita-cita menjadi diplomat. Bukan sekadar bernilai prestis, tetapi ada tanggung jawab besar yang dipanggul. Buku ini berkisah pengorbanan dan kerja keras yang tidak akan pernah mengkhianti hasil.

Adalah  Arya Daru Pangayunan; saat SMA, ia kepincut seorang teman yang memamerkan foto-fotonya saat di luar negeri. Arya remaja akhirnya tahu bahwa ayah temannya merupakan diplomat yang kerap bertugas di luar negeri. Sejak saat itu, pria kelahiran Yogyakarta ini bertekad menjadi diplomat.

Komitmen terus dijaga. Arya memantapkan langkah kuliah di jurusan Hubungan Internasional UGM. Di sinilah seakan para calon diplomat berkumpul mewujudkan cita. Namun, komitmen Arya langsung diuji. Dirinya dihadapkan pada keminderan. Mentalnya menciut. Asanya untuk berdinas di Kemlu sempat buyar. Arya dihadapkan pada prestasi teman-teman kuliahnya yang lebih unggul. Arya bahkan gagal mendapat predikat cum laude.

Setelah menikah, cita-cita menjadi diplomat seakan meredup. Arya lantas mengembara ke Jakarta; menjadi pengajar bahasa Inggris. Setahun berselang, panggilan jiwa yang menjadi dambaannya seperti kembali datang. Adalah teman mengajarnya, memutuskan resign lantaran bakal menjadi staf lokal KBRI di Ottawa, Kanada. Arya lantas mahfum bahwa staf lokal bukanlah seorang diplomat. Staf lokal pun bertempo dua-tiga tahun. Namun bagi Arya, staf lokal ibarat jembatan menjadi diplomat. Karena itu, Arya tekun mencari lowongan posisi staf lokal di pelbagai KBRI.

Dukungan istri, rapalan doa, serta ikhtiar tanpa lelah akhirnya membuahkan hasil. Arya berkesempatan menjadi staf lokal di KBRI Yangon, Myanmar. Di KBRI inilah, Arya bak digembleng tugas-tugas kediplomasian. Pembelajaran banyak hal yang didapatkan itu menjadikannya kenyang ilmu dan pengalaman. Arya menceritakan hal-hal unik kesehariannya selama menjadi staf lokal. Mulai dari menerjemahkan berita hingga melakukan pekerjaan “ecek-ecek” seperti mengkliping koran, fotokopi, dan mengantar dokumen (hal: 24).

Membaca pengalaman Arya sebagai staf lokal KBRI, menyorongkan pembaca yang berminat menjadi diplomat atau bekerja di luar negeri, staf lokal menjadi pilihan tepat. Baik sebagai batu loncatan untuk pengembangan karier atau menambah pengalaman. Menilik pengalaman Arya pula, aneka peristiwa yang amat “receh” hingga menyedot perhatian internasional, telah ia alami meski dirinya saat itu bukanlah seorang diplomat. Berpunya keahlian fotografi seperti Arya atau lainnya, pun merupakan kredit poin bagi seorang yang ingin menjadi staf lokal KBRI.

Modal besar sebagai staf lokal KBRI-lah yang memantapkannya buru-buru mendaftar di Kemlu untuk posisi diplomat pada tahun 2013. Cerita impian Arya sebenarnya menyimpan banyak batu terjal. Seleksi amat ketat, baik tes sebagai staf lokal atau tes CPNS Kemlu, dipaparkan begitu rinci sekaligus melankolis. Sebenarnya Arya sudah mendaftar CPNS Kemlu tahun 2010, tapi gagal. Kegagalan yang sebenarnya berangkat dari faktor teknis. Kegagalan itulah yang kemudian menjadi pembelajaran bagi Daru dan pembaca yang kepincut mendaftar CPNS untuk mempersiapkan segala hal dari jauh-jauh hari.

Buku ini tidak sampai mengglorifikasi perihal kisah sukses (success story). Arya membabar banyak tips dan pengalaman menjalani tes bagi pembaca yang hendak bercita menjadi diplomat. Lebih dari itu, Arya juga menambahkan cerita pengalaman perjuangannya sebagai seorang yang telah berkeluarga. Menjadi staf lokal misalnya, tidaklah ia bisa hidup bersama istri. Berbeda dengan diplomat, keluarga staf lokal tidak ikut menjadi pertanggungan.  Saat dinyatakan lolos menjadi pegawai Kemlu dan menyandang status diplomat muda, bukan berarti Arya bergaji tinggi.

Buku Arya ini bisa dibilang menggenapi atas buku-buku kediplomasian yang lebih berkutat soal teori Hubungan Internasional; sekaligus pembeda dari buku-buku success story lainnya yang didominasi kalangan pengusaha dan pejabat. Buku ini berhenti bercerita ketika Arya menduduki posisi sebagai Pejabat Diplomatik dan Konsuler. Setelah itu, pembaca akan menunggu buku kedua Arya kala telah ditugaskan di KBRI Dili, Timor-Leste (2018-2020) dan kini di KBRI Buenos Aires, Argentina. Di situlah bakal ditunggu kiprah Arya yang lebih konkret dan luas kala benar-benar membawa nama Indonesia di level global.

Poin penting buku tipis Arya ini, bagaimana menjadikan cita-cita diplomat sebagai panggilan jiwa. Pengabdian bagi bangsa dan negara. Melindungi masyarakat Indonesia yang berada di manca. Menyuguhkan kepiawaian dalam menjalin relasi dengan orang asing. Mengenalkan dan mempromosikan Indonesia kepada masyarakat dunia.

*Bergiat di Muria Pustaka, Kudus

Data buku:

Judul: Diplomat Pertama

Penulis: Arya Daru Pangayunan

Penerbit: Aswaja Pressindo

Cetakan: September, 2020

Tebal: 96 halaman

ISBN: 623-7593-14-4

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *