Cerita Ikwan Wahyudi di Balik Capaiannya Jadi Wisudawan Terbaik UTM

(FOTO: HUMAS UTM FOR KM) MEMBANGGAKAN: Prosesi wisuda mahasiswa UTM pada Sabtu (7/11/2021) dilakukan dengan tertib menggunakan protokol kesehatan Covid-19.

KABARMADURA.ID |BANGKALAN-Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menggelar wisuda ke-30, Sabtu (6/11/2021). Wisuda untuk program magister, sarjana dan diploma itu diadakan secara tatap muka di Gedung Serbaguna UTM.

Rektor UTM Dr. Drs. Ec. H. Muh. Syarif, M.Si melaporkan, sebanyak 1.670 mahasiswa yang mengikuti wisuda ke-30 tersebut. Untuk menerapkan protokol kesehatan Covid-19, gelaran dibagi menjadi 11 sesi dan berlangsung selama 4 hari. Wisuda dibagi per fakultas, menyesuaikan banyaknya mahasiswa peserta wisuda di setiap fakultas.

“Alhamdulillah ada 11 sesi, sebanyak 1.670 mahasiswa diwisuda mulai hari ini. Hari ini ada 3 sesi, besok 3 sesi, tanggal 10 (November 2021) nanti 3 sesi dan tanggal 11 (November 2021) sebanyak 2 sesi. Semoga 4 hari berturut-turut ini pelaksanaan bisa selesai,” tuturnya.

Bacaan Lainnya

Terdapat tiga orang yang menyandang wisudawan terbaik. Mereka berasal dari jenjang pendidikan yang berbeda, satu di antaranya program magister (S2).

Tiga orang tersebut ialah Hafilan Zainul Umam, A.Md dengan IPK 3,82 dari prodi akuntansi fakultas ekonomi dan bisnis (D3). Yang kedua, Moh.Riskiyadi S.Si., M.A.k dengan IPK 3.95 dengan masa studi 4 semester program pascasarjana (S2).

Sedangkan yang terakhir dari jenjang pendidikan sarjana strata 1 (S1). Dia adalah Ikwan Wahyudi, dari fakultas ilmu pendidikan dengan IPK 3.99 dan masa studi 8 semester.

Selain tiga orang tersebut, ada juga yang menjadi wisudawan berprestasi sekaligus menjadi wisudawan terbaik, yakni Ikwan Wahyudi, mahasiswa program sarjana. (S1)  dengan IPK 3,99 dari Prodi Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Pendidikan UTM .

Meskipun masih dalam kondisi wabah Covid 19, pelaksanaan wisuda tersebut sudah mematuhi protokol kesehatan secara ketat. Peserta dan tamu hanya dihadirkan separuh dari kapasitas gedung yang biasa ditempati acara wisuda tersebut. Selain itu, panitia menerapkan syarat kepada peserta dan tamu, yakni sudah divaksin.

“Sebelumnya kami juga lakukan koordinasi dengan Satgas Covid-19 Bangkalan,” ujar Muh. Syarif.

Selain itu, Syarif juga berharap mahasiswa yang diwisuda bisa segera mendapatkan pekerjaan sesuai dengan yang diinginkan, dapat menyalurkan ilmu pengetahuannya dan bermanfaat bagi masyarakat serta bisa menjaga nama baik almamater.

Sedangkan Ikwan Wahyudi  saat ditemui Kabar Madura, mengaku bahwa hasil yang diraih merupakan buah dari doa, usaha dan bimbingan orang tua serta dosen.

Meski menjadi wisudawan terbaik, Ikwan mengaku, sejak awal kuliah tidak pernah menargetkan diri untuk mendapatkan predikat tersebut. Sehingga dirinya sangat bersyukur.

“Bagi saya ini tidak lebih dari jawaban atas segala doa, usaha, dan bimbingan dari orang tua, dosen, dan teman-teman seperjuangan,” ucapnya haru.

Lelaki yang akrab disapa Iwan itu bercerita, selama kuliah, dirinya fokus pada pengembangan diri, baik hard skill maupun soft skill terkait bidang keilmuan maupun di luar bidang keilmuan. Fokus dengan yang dilakukan juga menjadi kuncinya demi nama baik almamater.

“Alhamdulillah, setidaknya saya pernah mendapat juara 2 kompetisi sains nasional, juara 2 festival ilmiah nasional penulisan esai dan publikasi internasional bersama tim dosen IPA,” ucap pria asal Kecamatan Balongpanggang, Gresik itu.

Mahasiswa kelahiran 1998 itu bercerita, selama kuliah, di samping akademik, juga aktif dalam organisasi himpunan mahasiswa selama 2 tahun, menjadi asisten laboratorium selama 3 tahun, baik untuk praktikum di lingkup internal prodi maupun di luar prodi IPA.

Selama kuliah, Iwan juga nyambi bekerja sebagai guru les fisika di salah satu LBB di Gresik mulai akhir tahun 2017 silam.

“Waktu kuliah saya rasanya sangat singkat, sebab banyaknya aktivitas yang saya kerjakan, sehingga untuk akademik, saya benar-benar memanfaatkan waktu belajar di kelas dengan seoptimal mungkin,” ceritanya.

Sebelum kuliah, Iwan biasanya membaca sekilas materi yang akan diajarkan, dan malam harinya akan ditinjau kembali. Dia biasa meminta bantuan dosen IPA jika mengalami kesulitan, terlebih ketika saat ingin mengikuti perlombaan.

“Saya bersyukur bapak ibu dosen IPA selalu mendorong, membimbing, dan memberi motivasi hingga sampai di titik ini,” ungkapnya sebagai ucapain terima kasih dan penutup.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Wawan A. Husna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.