Cerita Inspiratif Yuni, dari Reseller Batik hingga Mampu Berdayakan Perempuan Lokal

News24 views

KABAR MADURA | Batik tidak hanya menjadi ikon budaya. Namun juga menjadi ladang pencaharian yang menggiurkan bagi masyarakat lokal. Seperti yang dilakukan Sriwahyuni Fatmawati, salah satu perajin sekaligus pengusaha batik di Pamekasan. Kini ia bisa memberdayakan perempuan-perempuan di sekitarnya dengan membatik. Dulunya sebatas reseller, kini Yuni sudah memiliki usaha batik sendiri. Semua itu tidak pernah lepas dari perjuangannya.

SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN

Kecintaan Yuni terhadap batik tidak hanya sebatas urusan bisnis. Namun, melalui usaha batik yang dirintisnya itu, dia mampu memberdayakan perempuan di sekitarnya. Ada kesenangan tersendiri bagi perempuan kelahiran 1986 tersebut ketika melihat orang di sekitarnya berdaya secara ekonomi dengan mandiri. Sebab baginya, tidak ada kepuasan hati selain bisa bermanfaat bagi orang lain.

“Yang penting luruskan niat aja dulu. Nanti pasti ada bonusnya sendiri. Saya mencintai batik bukan karena semata urusan bisnis, tapi dari batik ini ada sumber kehidupan,” paparnya, Kamis (16/5/2024).

Baca Juga:  Ansor Pamekasan Siap Turunkan 500 Banser jika Diminta Sweeping Gangster

Perempuan yang kini berprofesi sebagai bidan itu mengaku telah menekuni dunia batik sejak kecil. Setelah dewasa,  dia hanya mampu menjadi reseller batik orang lain. Tiap hari dirinya mempromosikan batik yang bukan hasil produksinya sendiri. Namun dia nikmati proses itu hingga menjadi pengusaha batik secara mandiri dan bahkan mampu mempekerjakan belasan warga sekitar.

“Keuntungan selama jadi reseller hanya Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per pcs. Itu saya kumpulkan, hingga terkumpul Rp4 juta. Nah, itu yang saya jadikan modal untuk memproduksi batik sendiri pertama kalinya,” ungkap ibu dua anak itu.

Ketekunan Yuni di usaha batiknya tidak sia-sia. Kini, dia banjir orderan dari berbagai daerah di Nusantara. Mulai dari Kalimantan, Sumatera, Riau, Jakarta, dan kota-kota besar lainnya. Tidak ingin merasa berdaya sendiri, selain mempekerjakan tetangga sekitar, dirinya kerap kali aktif memberikan pelatihan membatik secara cuma-cuma, baik di kalangan umum, pelajar, siswa, ataupun mahasiswa. Semua itu dia lakukan untuk tetap mempertahankan generasi pembatik. Sebab Yuni meyakini, dalam batik ada sumber kehidupan yang tetap harus terjaga dari zaman ke zaman.

Baca Juga:  Hanan Attaki Gabung NU, Bagaimana Tanggapan Ketua PCNU Sumenep?

“Mereka yang bekerja dengan saya ada yang sampai bilang mengucapkan terima kasih karena berkat pekerjaan membatik ini, mereka bisa memenuhi kebutuhan anaknya yang masih sekolah. Mendengar itu rasanya senang,” ungkap perempuan yang tinggal di Dusun Arsojih, Desa Pagendingan, Kecamatan Galis itu.

Redaktur: Sule Sulaiman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *