oleh

Cerita Kasek SMAN 1 Pamekasan yang Alami Beratnya Merengkuh Pendidikan

KABARMADURA.ID, Pamekasan -Haji Mohammad Arifin, demikian akrab disapa. Pria kelahiran 8 Juni 1968 ini, saat ini sudah menjabat kepala SMAN 1 Pamekasan dan menjadikan sekolah itu paling favorit bagi warga Pamekasan.

Arifin lahir di daerah berbasis pertanian, tepatnya Desa Plak-Plak, Palengaan, Pamekasan.Roda kehidupan yang berputar menjadi kenangan bagi Arifin.

“Saya dulu ke sekolah jalan kaki. Musim hujan begini, saya pasti akan bawa plastik kresek untuk tempat buku agar tidak kehujanan,” kenang Arifin menceritakan saat masih berstatus siswa  SMA I Pamekasan, karena keinginan kuat untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas pribadi.

“Saya pada waktu itu belum mampu memiliki kendaraan, jika pun ada, hanya sepeda ontel. Ya akhirnya ke sekolah jalan kaki,” cerita Arifin yang disampaikan di ruang kerjanya di kompleks SMA I Pamekasan.

Keinginan kuat menjadi guru, justru lahir saat masa akhir sekolah di SMA 1 Pamekasan. Arifin kemudian melanjutkan kuliah di IKIP Malang mengambil jurusan kimia.

Mulai jauh dari orangtua dan tuntutan kuliah harus cepat selesai, diakui Arifin sebagai masa-masa perjuangan.

“Waktu itu kan kiriman dari orangtua tidak banyak. Untuk biaya kos-kosan, biaya kuliah dan biaya hidup sehari-hari lebih sering tidak cukup. Saya akhirnya datang ke rumah-rumah menjadi guru les. Terus terang waktu kuliah dulu, lebih sering berada pada posisi besok makan apa,” kenangnya.

Meski berada dalam kondisi yang berat secara ekonomi, Arifin menegaskan bahwa dirinya tidak melupakan kewajiban sebagai mahasiswa dan harus berprestasi secara akademik.

“Orangtua saya itu bukan pegawai. Saya punya utang kalau saya tidak berprestasi di kampus. Diizinkan kuliah dan dibantu biaya, itu sebuah pengorbanan besar dari orangtua. Karena di masa itu, teman sebaya saya banyak yang langsung diminta untuk membantu orang tuanya,” ungkap Arifin.

Kegigihan dan niatan menjalankan amanah orangtua tersebut, menjadikan suami Dewi Fatmilah Wijaya itu berbuah manis. Tahun 1990 diangkat sebagai guru PNS dengan dengan penempatan di Banjarmasin.

Arifin punya prinsip, untuk meraih kesuksesan adalah menekuni setiap profesi sebaik mungkin dengan didasari pengabdian, istiqamah dalam menjalan tugas, dan jangan lupa beribadah dan bersyukur.

Prinsip itulah di kemudian hari mengantarkan Arifin mendapatkan penugasan di tanah kelahirannya, Pamekasan.Bahkan mengabdi di almamaternya sendiri, SMAN 1 Pamekasan.

Mengakhiri perjumpaan, Arifin memiliki pandangan tentang pendidikan masa kini. Menurutnya, yang perlu ditekankan adalah pembangunan karakter yang baik, sebab untuk akses penguatan intelektual sudah dengan mudahnya bisa didapatkan dari setiap orang yang berkeinginan menjadi orang berprestasi.

“Sebenarnya pendidikan menjadi tanggung jawab 3 elemen, tanggung jawab orangtua,   tanggung jawab pemerintah, dan tanggung jawab masyarakat, jadi untuk membangun pendidikan di Pamekasan ini jangan sampai ada ketimpangan di 3 komponen ini,”pungkasnya. (rul/bri)

Komentar

News Feed