oleh

Cerita Kepala DPKP Muharram Selama Covid-19

Menyishikan Waktu di Tengah Kesibukan untuk Pantau Anak

Kabarmadura.id/Pamekasan-Kesibukan Muharram sebagai Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Pamekasan, tidak membuatnya lepas dalam mendidik dan memantau perkembangan pendidikan anaknya. Muharram adalah contoh bapak teladan bagi pejabat pemerintah lainnya.

ALI WAFA, PAMEKASAN

Bapak satu anak itu memiliki cerita tersendiri dalam memantau ketiga anaknya selama wabah Covid-19. Ketiga anaknya harus melasanakan sekolah secara online dengan sistem dalam jaringan (daring) selama beberapa bulan terakhir.

Anak yang biasanya setiap pagi pergi ke sekolah, kini hanya berdiam diri di rumah dan waktunya banyak dihabiskan dengan bermain. Hal itu menjadi masalah tersendiri bagi sarjana teknik tersebut. Terlebih dirinya setiap hari harus ke kantor sebagai kepala dinas.

Kendati demikian, Muharram mengaku tidak mau kecolongan oleh anaknya. Setiap malam, dia rutin menanyakan kepada ketiga anaknya mengenai pelajaran yang dipelajari dalam sehari. Dia juga memberikan soal-soal kuis untuk menguji kemampuan akademik anaknya.

Baginya, selama adanya wabah Covid-19, dirinya ditantang untuk menjadi orang tua yang benar-benar mengurusi anaknya. Bagaimana tidak, yang sebelumnya jika siang dirinya tidak bertemu anaknya, kini siang malam anaknya selalu ada di rumah.

“Saya pantau anak-anak tiap malam, saya tes pelajarannya, saya beri kuis-kuis pertanyaan untuk mengukur pengetahuannya, meski sudah besar tetap begitu,” ujarnya, Selasa (7/7/2020).

Tidak hanya pelajaran sekolah yang menjadi perhatiannya, ilmu agama bagi anaknya juga dirasa penting untuk selalu dipantau. Setiap malam, Muharram meminta ketiga anaknya mengaji di depannya, sementara dia mendengarkan semabari mengoreksi bacaan al-quran anaknya.

Dia merasa senang karena anak keduanya memiliki ketertarikan pada ilmu agama. Anak keduanya yang saat ini tengah berada di kelas XI SMA itu meminta agar dipindah ke salah satu pondok pesantren di Jawa Timur. Dia mendukung kemauan anaknya sepenuh hati.

Dia mengaku, ingin anaknya bisa menjadi seorang santri yang sholeh dan sholehah agar bisa menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua, serta memiliki budi  pekerti yang luhur. Bahkan dia ingin anaknya bisa menghafal al-quran.

Kendati demikian, dirinya tidak lantas mengekang keinginan anaknya. Dia mengaku memberikan sedikit kebebasan kepada anaknya untuk memilih jalur pendidikan yang diinginkan. Dia akan selalu mendukung anaknya dalam menetukan passion dan bakatnya. Sebab menurutnya, dengan begitu anak akan lebih total.

Di tengah kesibukannya mengabdi kepada negara, dia tidak mau anaknya merasa kekurangan kasih orang tua yang akan berdampak buruk pada masa dewasanya.

“Kami sebagai orang tua itu adalah madrasah pertama bagi anak, bagaimana karakternya terbangun tergantung bagaimana cara kami mendidik, karenanya saya tidak mau kecolongan,” pungkasnya. (pin)

 

Komentar

News Feed