oleh

Cerita Ketua IBI Siti Maimunah Berbagi Waktu dengan Keluarga

Tidak Bekerja untuk Sistem, Jadikan Sistem Bekerja Padanya

Kabarmadura.id/Pamekasan-Menjadi bagian dari Ikatan Bidan Indonesia (IBI), bukan pekerjaan tapi sebuah perjuangan. Jadilah change agent bukan mengikuti perubahan atau malah tergilas oleh perubahan. Itulah yang Siti Maimunah tanamkan kepada seluruh bidan di Kabupaten Pamekasan.

ALI WAFA, PAMEKASAN

Ribuan bidan di Kabupaten Pamekasan berada di bawah tanggung jawab Siti Maimunah sebagai Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) di Kabupaten Pamekasan. Sebanyak 1.000 bidan tersebar di 13 kecamatan menjadi binaannya.

Tidak mudah bagi Siti Maimunah menjadi ibu dari ribuan bidan sekaligus menjadi ibu dari kelima anaknya. Terlebih saat ini, dia harus menghabiskan banyak waktu untuk orang lain dan untuk keluarga saat wabah Covid-19 merajalela di Kabupaten Pamekasan.

Baginya, IBI merupakan sebuah wahana perjuangan untuk mengembangkan nilai profesi, meningkatkan kualitas bidan di Kabupaten Pamekasan, demi menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Pamekasan.

Menurutnya, indikator keberhasilan seorang pemimpin yaitu melahirkan banyak kader berkualitas untuk bisa menjadi penerus tongkat estafet perjuangan, dalam rangka melahirkan generasi bidan bangsa yang berkualitas. Terkhusus tenaga kesehatan.

IBI baginya bukan pekerjaan, melainkan sebuah perjuangan. Yang menjadi wajib menurutnya ialah menjadi change agent atau agen perubahan. Bukan mengikuti perubahan atau justru malah tergilas oleh perubahan. Terlebih kecepatan perubahan zaman seperti sekarang ini.

“Di kantor IBI sudah ditata kebutuhan anggota terlayani dengan baik sesuai dengan sistem yang kami bangun. Di perusahaan saya selalu ada kegiatan via online. Sehingga Dunia dalam genggaman,” ungkap mantan Kaprodi Kebidanan UIM Pamekasan tersebut, Rabu (1/7/2020).

Namun sebagai seorang ibu rumah tangga, dia tidak bisa memungkiri bahwa tanggung jawabnya bukan hanya sebagai pimpinan tenaga kesehatan, melainkan juga madrasah bagi kelima anaknya.

Dia bersyukur karena telah diberikan penenang hati oleh Tuhan berupa anak sebanyak lima orang. Itu merupakan impiannya sedari dulu, yaitu menjadi istri dan ibu yang mampu membawa keluarga ke dalam kehidupan harmonis yang terjaga dari berbagai macam ketimpangan keluarga. Baik itu ketimpangan sosial maupun keharmonisan keluarga.

Dalam keluarga, dia menjadi satu-satunya yang paling mengerti tentang dunia kesehatan. Dan bagaimana cara menjaga kesehatan seluruh anggota keluarganya di bawah tekanan wabah Covid-19, dia mengaku mengalami banyak perubahan pola hidup.

Dia harus menjadi contoh yang baik bagi keluarganya dalam hal menjalankan protokol kesehatan. Agar anak-anaknya bisa menjaga kesehatan dengan tanpa paksaan, yaitu cukup dengan menjadi protokol kesehatan sebagai pola hidup baru.

Akibat kesibukannya, dia mengaku sulit membagi waktu untuk keluarga. Namun dia telah mengatur segala sesuatunya dengan rapi sehingga tanggung jawabnya pada keluarga bisa terkendali dengan baik, dan dia pun bisa menghabiskan waktu banyak untuk anak-anaknya.

“Saya telah membuat sistem kerja baik di kantor. Jadi saya tidak bekerja pada sistem tapi sistem sudah bekerja untuk saya. Kalau saya aman 24 jam selalu dalam dekapan keluarga,” tutup mantan Ketua IPPNU Cabang Pamekasan itu. (pin)

 

Komentar

News Feed