oleh

Cerita Ketua IDI dr. Tri Susandhi Juliarto

Bawahi Ratusan Dokter di Tengah Wabah Covid-19

Kabarmadura.id/Pamekasan-Sebagai panglima yang berada di garda terdepan dalam upaya penanganan wabah Covid-19, dr. Tri Susandhi Juliarto selaku Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Pamekasan, berkewajiban memastikan seluruh dokter siap dan aman dalam menjalankan tugas.

ALI WAFA, PAMEKASAN

Bagi dr. Tri Susandhi Juliarto, mengemban amanah sebagai Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Pamekasan, bukanlah hal tabu dalam menangani pasien terinfeksi Covid-19.

Malah, di tengah pusaran wabah Covid-19, tanggung jawabnya sebagai tenaga kesehatan (nakes) semakin besar, lantaran harus membawahi ratusan dokter di organisasinya, serta memastikan para dokter aman dalam menjalankan tugas.

Menurutnya, dari total 180 dokter di Kabupaten Pamekasan, pada awalnya tidak semuanya siap dan merasa mampu dalam menangani pasien terinfeksi Covid-19. Sebab virus yang sampai saat ini belum ditemukan vaksinnya tersebut, merupakan virus baru dan masih belum ada pihak yang memiliki pemahaman komprehensif mengenai virus tersebut.

Namun sebagai dokter, Tri (sapaan akrabnya) merasa dirinya dan semua dokter yang lain merupakan pihak yang akan menjadi tumpuan harapan utama dari seluruh penduduk Kabupaten Pamekasan.

Dia memahami, bahwa harapan ribuan masyarakat sangat besar terhadap profesinya. Secara otomatis harapan tersebut mejadi amanah sekaligus beban untuknya.

Tidak mau kecolongan, dia sigap dalam mensosialisasikan virus baru ini terhadap ratusan dokter di Kabupaten Pamekasan. Meski virus ini baru, dia yakin, dengan wawasan dan pengetahuan dunia medis yang dimiliki, seluruh dokter tidak sulit dalam memahami detail mengenai virus Covid-19.

“Buat saya ini beban moral, tapi ini tanggung jawab, harus saya lanjutkan, dan jauh sebelum adanya wabah ini, berbagai resiko buruk sudah saya bayangkan sebagai seorang dokter,” ungkapnya, Selasa (30/6/2020).

Dengan adanya sejumlah dokter yang meninggal dunia akibat terinfeksi Covid-19, dirinya bersama dokter lainnya sempat shok, dan hampir menumbangkan spiritnya untuk terus berjuang memerangi Covid-19.

Diapun sadar, bahwa dengan terus berjuang itu berarti dia terus melangkahkan kaki mendekati kematian. Tapi rasa tanggung jawab yang besar membuatnya bertahan untuk terus berjuang.

Terlebih saat dia melihat ratusan orang meninggal dunia setiap hari akibat virus ini. Ratusan keluarga bersedih akibat kehilangan anggota keluarganya. Hal itu membuatnya berpikir dua kali untuk mundur dan mengibarkan bendera putih pada Covid-19.

“Ini tanggung jawab besar yang sudah menjadi komitmen saya sejak awal meniti karir di dunia kedokteran,” ujarnya.

Kepada Kabar Madura, dirinya menceritakan sudah menjalankan amanah sebagai seorang dokter di banyak tempat dan peran. Selain sebagai ketua IDI, dia pernah menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Kusuma Pamekasan.

Saat ini, dia mengemban amanah sebagai PIC Satgas Penanganan Covid-19 di Rumah Sakit Umum Mohammad Noer Pamekasan. Disana, setiap hari dia berhadapan dengan puluhan orang terinfeksi Covid-19 dari seluruh wilayah di Kabupaten Pamekasan.

Tidak hanya itu, sebagai pengabdian kepada masyarakat, dia membuka praktik sosial klinik A. Rahmat di Desa Branta Kecamatan Tlanakan. Selain menangani pasien terinfeksi Covid-19, dia habiskan kesehariannya dengan seorang istri dan dua anaknya. Bahkan saat ini, anaknya juga telah menjadi dokter mengikuti jejaknya. Sementara anak bungsunya, saat ini sedang berada di bangku sekolah menengah atas.

“Setelah adanya wabah ini, waktu untuk keluarga banyak dikurangi, selain sibuk menangani pasien, saya juga ekstra hati-hati bagaimana menjaga keluarga saya agar tidak terpapar Covid-19. Karena selain menjadi dokter, saya juga kepala keluarga, saya harus melindungi keluarga saya,” ceritanya. (pin)

 

 

Komentar

News Feed